Komparatif.ID, Banda Aceh— Sebuah pesawat berukuran besar yang kerap menarik perhatian pengunjung berdiri di tengah Lapangan Blang Padang, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Pesawat itu adalah replika Seulawah RI-001, pesawat pertama RI yang dibeli dari sumbangan rakyat Aceh.
Kini, monumen tersebut menjadi salah satu tujuan wisata keluarga yang menggabungkan rekreasi dan pembelajaran sejarah.
Lapangan Blang Padang sendiri merupakan ruang terbuka yang ramai dikunjungi warga, baik untuk berolahraga, bersantai, maupun mengajak anak-anak bermain.
Keberadaan monumen pesawat di tengahnya memberi nilai tambah bagi kawasan ini, karena pengunjung dapat menikmati suasana taman kota sekaligus mengenal kisah penting dari masa awal kemerdekaan.
Kisah di balik monumen ini bermula pada 1948, ketika Indonesia berada dalam tekanan agresi militer Belanda. Saat itu, distribusi logistik antardaerah sangat dibutuhkan, sementara jalur darat terhambat blokade.
Transportasi udara dipandang sebagai solusi. Presiden Soekarno kemudian menginisiasi penggalangan dana untuk membeli pesawat angkut pemerintah, dan ajakan itu mendapat sambutan baik dari para saudagar Aceh.
Pada kunjungan Soekarno ke Kutaradja, nama Banda Aceh pada masa itu, tanggal 16 Juni 1948, Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) berhasil menghimpun sumbangan masyarakat.
Para saudagar menyumbangkan uang dan emas, sementara masyarakat umum menyerahkan hasil bumi seperti padi, beras, ubi, perhiasan, ternak, hingga telur. Seluruh sumbangan itu bila dikonversi setara dengan sekitar 20 kilogram emas, menurut sebagian catatan sejarah, di samping sejumlah dolar Singapura.
Dana tersebut digunakan pemerintah untuk membeli pesawat Dakota, yang kemudian dikenal sebagai Seulawah RI-001.
Pesawat itu berperan penting pada masa perjuangan. Selain dipakai Presiden Soekarno untuk perjalanan dan misi diplomatik, Seulawah RI-001 digunakan menembus blokade Belanda, mengangkut senjata dan obat-obatan, serta membawa tokoh penting seperti Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Pesawat ini juga dicatat sebagai cikal bakal Indonesian Airways, yang kemudian berkembang yang kini menjadi Garuda Indonesia.
Secara teknis, Seulawah RI-001 adalah pesawat tipe DC-3 produksi Douglas Aircraft Company. Panjang badannya 19,66 meter dengan rentang sayap 28,96 meter, mampu terbang nonstop sejauh 2.430 kilometer dan mencapai kecepatan maksimum 346 kilometer per jam berkat mesin Pratt & Whitney di kedua sayapnya. Pesawat jenis ini mulai diproduksi massal pada 1936 dan dipakai banyak maskapai internasional selama puluhan tahun.
Monumen yang berdiri di Blang Padang saat ini dibangun atas prakarsa TNI Angkatan Udara dan diresmikan oleh Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pada 30 Juli 1984. Bagi pengunjung yang ingin mengamati lebih dekat, terdapat sejumlah detail menarik.
Pada pintu di sisi kiri belakang pesawat tertulis ejaan lama “Persembahan RA’JAT ATJEH”. Sebuah prasasti di tiang penyangga memuat riwayat perjalanan pesawat dan tugas yang pernah diembannya.
Di sisi kanan depan altar marmer terdapat prasasti lain yang menyatakan bahwa monumen ini merupakan bentuk penghargaan TNI terhadap jasa masyarakat Aceh.
Nilai sejarah monumen ini juga tidak terlepas dari posisi Aceh dalam catatan perjuangan bangsa. Aceh dikenal sebagai wilayah Nusantara yang paling sulit ditaklukkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, dan menjadi daerah terakhir yang takluk setelah puluhan tahun perlawanan dan kerugian besar di pihak Belanda.
Sumbangan rakyat Aceh untuk pesawat pertama Republik menegaskan kontribusi daerah ini dalam mempertahankan kemerdekaan.
Bagi wisatawan keluarga, Monumen Seulawah RI-001 menawarkan pengalaman yang sederhana namun bermakna. Orang tua dapat mengajak anak-anak melihat langsung wujud pesawat yang pernah menjadi bagian penting sejarah bangsa, sambil membaca prasasti dan mendengarkan cerita tentang semangat gotong royong masyarakat Aceh.
Lokasinya yang berada di pusat kota membuatnya mudah dijangkau dan dapat dikombinasikan dengan kunjungan ke objek wisata sejarah lain di Banda Aceh.
Monumen ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun dengan dukungan banyak pihak, termasuk rakyat Aceh yang menyerahkan hasil bumi hingga perhiasan demi sebuah pesawat.
Melalui kunjungan ke Blang Padang, masyarakat dan wisatawan tidak hanya berfoto di depan pesawat bersejarah, tetapi juga diajak mengenang solidaritas yang menjadi fondasi berdirinya Republik Indonesia.




