Komparatif.ID, Jeddah– Serangan yang kian intensif antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman dilaporkan telah menewaskan sedikitnya lima orang secara keseluruhan, termasuk tiga anak-anak.
Menurut laporan yang disitat dari Aljazeera, Jumat, 18 September 2026, setidaknya satu orang—seorang warga Yaman yang tinggal di Arab Saudi—tewas dan dua lainnya terluka setelah sebuah pesawat nirawak (drone) milik Houthi dicegat di wilayah Taif, Arab Saudi bagian barat daya, pada hari Kamis,17 September 2026.
Badan Pertahanan Sipil Kerajaan Arab Saudi menyampaikan kematian tersebut merupakan kematian pertama yang diumumkan di Arab Saudi bulan ini, sejak kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran meningkatkan serangan mereka.
Sementara itu, di Yaman, pada hari yang sama, pihak Houthi menyatakan bahwa pesawat tempur Saudi menargetkan tiga menara telekomunikasi di Provinsi Taiz, Yaman.
BACA: Konflik Rusia-Ukraina, Proses Kelahiran Peradaban Baru
Televisi Almasirah yang berafiliasi dengan Houthi, melaporkan serangan Saudi ke Kota Abs,Provinsi Hajjah telah menewaskan seorang warga sipil, dan melukai satu orang lainnya.
Media tersebut juga melaporkan tiga anak tewas dan beberapa warga negara Yaman terluka dalam serangan oleh tentara bayaran yang didukung Saudi.
Solidaritas untuk Arab Saudi
Kementerian Luar Negeri Kuwait menyatakan solidaritas penuh kepada Kerajaan Arab Saudi yang bersahabat. Demikian tulis Kemenlu Kuwait dalam cuitan di X, seraya mengecam serangan Houthi terhadap Taif.
Bahrain juga menyatakan kecaman keras atas berlanjutnya serangan teroris Houthi terhadap Kerajaan Arab Saudi dan penargetan warga sipil di wilayah Taif.
Sementara itu, juru bicara urusan luar negeri Uni Eropa, Anouar El Anouni, mendesak Houthi untuk menghentikan segala tindakan militer, sembari menyatakan solidaritas penuh kepada Arab Saudi.
Houthi Bantah Akan Menyerang Mekkah
Eskalasi konflik terjadi setelah Arab Saudi menyatakan bahwa sebuah pesawat nirawak diluncurkan oleh Houthi ke arah Mekkah sebelum akhirnya dicegat dan dihancurkan.
Pemimpin Houthi, Abdel Malik al-Houthi, menyebutkan pernyataan Saudi tersebut merupakan kebohongan keji. Dalam pidatonya melalui siaran langsung televisi pada Kamis, 17 September 2026, Abdel Malik mengatakan klaim Saudi bahwa kelompoknya berniat menyerang kota paling suci umat Islam itu sebagai propaganda besar.
“Kesucian Mekkah sangatlah penting bagi rakyat Yaman,” ujarnya, seraya menuduh Arab Saudi menggunakan kebohongan sebagai senjata demi mencapai tujuan perangnya melawan Houthi.
Dalam pidatonya, al-Houthi juga menyatakan bahwa Arab Saudi telah memicu babak konflik terbaru di Yaman dan bahwa pasukan Houthi bertindak dalam posisi defensif.
Sementara itu, Rashad al-Alimi, ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang didukung Saudi, mengatakan bahwa pasukan Houthi sedang mengalami pukulan berat di berbagai garis depan pertempuran di Taiz, Marib, Lahj, al-Jawf, Hajjah, al-Bayda, dan al-Dhale.
Dalam pertemuan dengan duta besar Prancis untuk Yaman, al-Alimi mengatakan bahwa kemajuan yang dicapai Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah hanyalah bersifat sementara, demikian dilaporkan kantor berita negara Saba.
Agresi Terhadap Mekkah Patut Dikecam
Pada Kamis, Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan dalam sebuah pernyataan di platform X bahwa setiap agresi terhadap situs-situs suci Islam, khususnya Mekkah, adalah tindakan yang patut dikecam.
Namun, ia menambahkan bahwa sekadar klaim mengenai pencegatan pesawat nirawak (drone) yang sedang menuju Mekkah tidaklah cukup untuk menuduh Houthi melakukan tindakan tersebut.
“Kita juga tidak boleh lupa bahwa kawasan kita telah menyaksikan berbagai insiden operasi ‘bendera palsu’ (false flag), terutama dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Baghaei sembari menunjuk ke arah Israel.
Sementara itu, Tiongkok secara pribadi telah meminta para pejabat Iran untuk membantu mengendalikan kelompok Houthi setelah Arab Saudi mengajukan permohonan kepada Beijing menyusul serangan-serangan Houthi baru-baru ini; informasi ini disampaikan oleh sumber-sumber anonim di Iran kepada kantor berita Reuters.
Beijing secara terbuka menyerukan pengendalian diri, dialog, dan pemulihan keamanan navigasi, namun pesan pribadinya melangkah lebih jauh dari sekadar seruan tersebut, lapor Reuters.
Eskalasi ini juga mengancam akan melibatkan aktor-aktor regional lainnya—khususnya mitra pertahanan Saudi, yaitu Pakistan dan Turki, yang telah menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan kerajaan tersebut bulan lalu.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengatakan bahwa sudah saatnya untuk mengimplementasikan perjanjian Mekkah dengan Arab Saudi dan Turki mengingat serangan-serangan Houthi yang terjadi baru-baru ini.
Source: Aljazeera, Reuters.

Konflik yaman ini rumit. mereka diblokade belasan tahun sama arab saudi. konflik yaman itu mirip dengan kejadian di sudan. ansarallah dibacking sama iran. sedangkan pihak yaman yang lain dibacking arab saudi.