Komparatif.ID, Banda Aceh– Di tengah kesibukan Kota Banda Aceh, ada satu ruang terbuka hijau yang menawarkan suasana lebih teduh bagi warga maupun wisatawan. Taman Putroe Phang, yang berada di pusat kota, menjadi tempat bersantai sekaligus pintu masuk untuk mengenal sejarah Kesultanan Aceh lewat kisah seorang permaisuri bernama Putroe Phang.
Taman ini memiliki sejumlah fasilitas yang mendukung kegiatan rekreasi. Pepohonan rindang, jalur pejalan kaki, area duduk, panggung terbuka, dan taman bermain anak menjadikannya pilihan untuk menghabiskan waktu luang tanpa harus keluar jauh dari pusat kota.
Letaknya yang mudah dijangkau membuat taman ini kerap dikunjungi berbagai kalangan, dari keluarga hingga wisatawan yang sedang menjelajahi Banda Aceh.
Pada sore hari, suasana taman diisi beragam aktivitas masyarakat. Anak-anak bermain bersama keluarga, sementara sebagian warga memilih kegiatan yang berbeda. Di sekitar kawasan tersebut, sejumlah warga tampak memancing ikan di aliran sungai Krueng Daroy yang membelah taman.
Bagi mereka, memancing menjadi cara menghabiskan waktu di penghujung hari. Menurut keterangan para pemancing, ikan nila dengan berbagai ukuran kerap ditemukan di kawasan itu.
Taman ini juga menjadi pilihan kalangan mahasiswa. Nur (22), mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, mengaku sesekali datang ke taman tersebut. Menurutnya, lokasi taman yang berada di pusat kota menjadi alasan utama ia memilih tempat ini.
“Letaknya di tengah kota, jadi gampang dijangkau dari mana saja. Kalau lagi ingin keluar sebentar, saya sering ke sini,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).
Bagi Nur, taman ini nyaman dikunjungi karena bisa menjadi tempat melepas penat setelah aktivitas perkuliahan. “Kadang kuliah itu bikin capek, jadi saya ke sini untuk healing, menenangkan pikiran. Suasananya adem dan tidak terlalu ramai,” kata Nur.
Nur juga menilai posisi taman yang berada di tengah kota memudahkan pengunjung berpindah ke tempat lain. “Setelah dari taman, kalau ingin istirahat atau duduk-duduk lebih lama, kafe-kafe dekat dari sini. Tinggal pindah saja, tidak perlu jauh-jauh,” tuturnya.
Di balik suasana santai itu, taman ini menyimpan cerita sejarah yang berkaitan dengan Putri Kamaliah, putri dari Kesultanan Pahang di Semenanjung Melayu, wilayah yang kini menjadi bagian dari Malaysia. Masyarakat Aceh mengenalnya sebagai Putroe Phang setelah ia menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda pada awal abad ke-17.
Baca juga: Tradisi Khanduri Uteun di Aceh Barat Daya
Dalam berbagai kisah sejarah, Putroe Phang digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan bijaksana. Salah satu cerita yang melekat dengannya adalah kerinduan terhadap kampung halaman yang memiliki bentang alam berbukit.
Konon, untuk mengobati kerinduan sang permaisuri, Sultan Iskandar Muda membangun taman kerajaan yang dikenal sebagai Taman Ghairah atau Bustanussalatin. Di dalam kompleks itu terdapat Gunongan, bangunan berbentuk bukit kecil yang melambangkan pegunungan di Pahang.
Selain Gunongan, ada pula Pinto Khop, gerbang kecil berbentuk kubah yang dahulu menghubungkan taman dengan kompleks istana kerajaan. Keduanya menjadi bagian penting dari jejak sejarah Kesultanan Aceh yang masih dapat dijumpai hingga sekarang.
Sebagian besar kompleks taman kerajaan memang telah hilang seiring perkembangan kota dan perubahan zaman. Meski begitu, keberadaan Gunongan dan Pinto Khop tetap memberi gambaran tentang kehidupan kerajaan pada masa Sultan Iskandar Muda.
Bagi pengunjung, bangunan-bangunan tersebut menjadi pengingat bahwa kota yang kini ramai ini pernah menjadi pusat sebuah kesultanan yang berpengaruh di kawasan.
Kini, kawasan Taman Putroe Phang dapat dinikmati masyarakat dengan fungsi yang lebih luas..
Letaknya di pusat kota juga memudahkan wisatawan mengunjungi destinasi lain di Banda Aceh. Masjid Raya Baiturrahman, Museum Aceh, dan Kerkhof Peutjoet berada di sekitar kawasan ini, sehingga taman dapat menjadi salah satu titik dalam rute wisata sejarah dan budaya yang bisa dijelajahi dalam satu hari.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Banda Aceh lebih dekat, Taman Putroe Phang menghadirkan pengalaman yang memadukan rekreasi dan sejarah.
Pengunjung dapat menikmati suasana hijau, melihat aktivitas warga, sekaligus mengenal kisah seorang permaisuri yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Kesultanan Aceh.
