Komparatif.ID, Bireuen— Harga sejumlah kebutuhan masyarakat di Kabupaten Bireuen mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut diketahui setelah Bupati Bireuen, Ir. Mukhlis, S.T., melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Induk Cureh, Selasa (15/9/2026).
Sidak dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan harga berbagai komoditas yang diperjualbelikan pedagang. Data dari lapangan tersebut selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi Pemerintah Kabupaten Bireuen menjaga stabilitas harga.
Bupati Mukhlis mengatakan sidak dilakukan menyusul adanya informasi mengenai kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan, beberapa komoditas memang mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.
“Memang terbukti, kurang lebih satu bulan belakangan harga cabai sudah mulai melonjak. Hari ini cabai dijual antara Rp55 ribu sampai Rp60 ribu per kilogram,” ujar Bupati Mukhlis.
Selain cabai, sejumlah jenis sayuran juga mengalami peningkatan harga. Sementara itu, harga bawang justru menunjukkan penurunan. Adapun komoditas daging ayam dan daging sapi tercatat mengalami kenaikan.
Menurut Bupati Mukhlis, tingginya kebutuhan masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga, terutama pada komoditas daging. Kondisi tersebut diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk berbagai kegiatan keagamaan, termasuk peringatan Maulid yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
“Daging ayam dan daging (sapi) juga naik. Ini mungkin salah satunya karena kebutuhan yang sangat tinggi, sehingga agak sulit untuk ditekan harganya,” katanya.
Baca juga: Bupati Bireuen Groundbreaking Pembangunan Kantor Kemenhaj
Bupati Mukhlis berharap kenaikan harga sejumlah komoditas dapat kembali normal dalam satu hingga dua bulan ke depan. Pemerintah Kabupaten Bireuen, kata dia, akan terus memantau perkembangan harga sekaligus mencari langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga.
Bupati Mukhlis menjelaskan, sebagian pasokan cabai yang masuk ke Bireuen selama ini berasal dari Medan, selain Takengon dan sejumlah daerah lainnya. Karena itu, sumber pasokan tersebut akan menjadi salah satu hal yang dievaluasi.
“Kita akan coba upayakan supaya bisa pasok dari yang terdekat. Untuk cabai, rata-rata pasokannya dari Medan, ada juga dari Takengon dan daerah-daerah lainnya. Mungkin salah satu solusinya adalah kita bisa mengatur agar barang-barang dari Takengon lebih banyak masuk ke sini. Kalau pasokannya lebih banyak dan lebih dekat, tentu harganya bisa lebih murah,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan pasokan dari daerah yang lebih dekat juga diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan ketersediaan komoditas di Pasar Induk Cureh.
Hasil survei harga yang dilakukan di Pasar Induk Cureh selanjutnya akan dikaji bersama instansi terkait. Data yang diperoleh dari lapangan akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menentukan harga yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan pasar.
“Data harga yang kita dapatkan dari lapangan akan kita kaji bersama. Kita ingin harga yang ditetapkan nantinya benar-benar berdasarkan kondisi pasar, sehingga dapat memberikan kepastian bagi pedagang maupun masyarakat sebagai konsumen,” ujar Mukhlis.
Ia menambahkan, pemantauan secara langsung diperlukan untuk mengetahui dinamika harga sekaligus memastikan ketersediaan berbagai kebutuhan masyarakat tetap terjaga.
