Jangan percaya bila seseorang yang selingkuh, kemudian mengatakan bahwa dirinya khilaf. Itu sebuah argumen klasik untuk menghindar dari penghakiman.
Komparatif.ID, Jakarta—Panji Nursamsi, seorang Marriage Practitioner, mengupas perihal perselingkuhan. Seseorang yang selingkuh, begitu ketahuan langsung menyampaikan argumen,”Aku cuma khilaf.”. Argumen tersebut rapuh banget bila dibedah menggunakan ilmu pengambilan keputusan. Selingkuh bukan soal kehilangan kesadaran secara mendadak.
Panji Nursamsi menjelaskan, kata “khilaf” selalu memberikan kesan kalau pelakunya kehilangan kapasitas untuk memilih secara total. Padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. dalam situasi apa pun selalu ada celah waktu supaya orang bisa memilih untuk berhenti. Hanya saja, dia dengan sengaja tidak mengambil opsi tersebut.
Sebuah studi Zapien pada tahun 2017 menemukan fakta menarik. Jarang ada orang yang memutuskan untuk selingkuh jauh-jauh hari. Kebanyakan merasa tiba-tiba ada pada situasi yang penuh peluang. Di sinilah justru argument “khilaf” langsung gugur total.
Orang yang sadar lagi berada di situasi penuh peluang, masih memiliki kapasitas utuh untuk keluar dari sana. keputusan tetap diam, lanjut, dan melayani godaan itu murni pilihan sadar. Ini jelas bukan sekadar kepleset tanpa sengaja seperti orang jatuh di jalan.
Hasil penelitian tersebut, kata Panji Nursamsi, mengkonfirmasi secara kuat bahwa kalau “khilaf” Cuma cocok untuk menggambarkan kondisi awal waktu peluangnya muncul. Kata ini sama sekali tidak menghapus fakta kalau pelaku masih memegang kendali penuh. Saat dia memilih buat tidak mundur dari godaan, itu keputusan tersendiri yang diambil secara sadar.
Riset terbaru dari Fife dkk (2026) makin memperkuat argumen tersebut. Hasil penelitian mereka fokus pada cara pengambilan keputusan pelaku perselingkuhan. Banyak cerita soal kebutuhan personal yang dibiarkan tidak terpenuhi, sampai akhirnya mendapatkan kesempatan. Dan mereka sadar betul ketika melanggar komitmen.
Salah seorang partisipan dalam studi tersebut mengatakan secara terang-benderang. “Saya memutuskan bahwa ini lebih baik bagi saya saat ini daripada hubungan saya.” “Perhatikan,” “tekan Panji, “kata memutuskan di situ jadi kunci.” Pelaku sadar betul ketika mengambil keputusan untuk menapaki jalan pemenuhan egonya.
Baca juga: 3 Tips Kesehatan Setelah Hubungan Badan Dengan Istri
Dari cerita-cerita orang yang selingkuh, ada pengakuan implisit soal kemampuan memilih. Mereka membandingkan opsi, menimbang risiko, dan ujung-ujungnya mengambil keputusan. Selingkuh butuh kalkulasi di otak, sekecil apapun itu.
“Jadi gak mungkin blank total,” kata Panji.
Panji menegaskan, sebuah argument structural yang paling susah dibantah, bahwa perselingkuhan selalu berakar dari kerahasiaan dan penipuan konstan. Perilaku ini butuh upaya yang disengaja oleh pelakunya. Kamu tidak bakal bisa merencanakan kebohongan beruntun secara khilaf kan?
Aktivitas menghapus jejak chat tiap malam, mengarang cerita lokasi, sampai sibuk membangun alibi palsu. Semua tindakan itu ini tidak mungkin dikerjakan secara refleks. Setiap kebohongan butuh fokus dan intensi pikiran yang jelas.
Setiap usaha menutupi jejak konfirmasi mutlak kalau pelaku tahu persis tindakannya salah besar. Tapi dia tetap memilih melanjutkan. Kalau murni khilaf sesaat, reflek pertama pasti panik terus mengakui. Bukan malah sibuk menyusun strategi rapi demi menipu pasangan.
Anatomi selingkuh terdiri dari rangkaian proses panjang. mulai dari awal kenalan, cari celah biar makin dekat, chat intens tiap hari, sampai akhirnya kejadian aksi fisik. Tidak ada satupun tahapan ini yang terjadi saat kesadaran akal sehat sedang mati total.
Fakta pahitnya, di setiap titik kejadian tadi, selalu ada momen berhenti. Pelaku bisa saja stop sejak awal mulai chat, atau stop saat mau janjian ketemuan. Momen putar balik itu selalu ada. Fakta kalau tombol stop itu tidak dipencet, ini murni pilihan yang dipilih secara sadar.
Berbekal temuan sains dan logika struktural tersebut, argumen “selingkuh itu khilaf” gugur dengan sendirinya. Frasa tersebut gagal dideskripsikan sebagai strategi naratif pelaku. Tujuannya simple, buat mengurangi beban tanggung jawab kesalahannya.
Selingkuh itu Cuma serangkaian keputusan sadar yang diambil berulang kali.sebaiknya berhenti berlindung di balik kata “khilaf”. Kalau sudah terbongkar, jangan cari alasan lain-lain. Cukup akui saja bahwa secara penuh tanggung jawab kamu telah melakukan pengkhianatan yang sengaja diciptakan.
Komparian sekalian, pasanganmu, bila masih bersedia menerimamu, dia akan memaafkan. Tapi seperti kata pepatah, sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya. Luka pasti ada, tapi energi cinta akan menjaganya. Kalau sudah terlanjur, segera pulang dan minta maaf. Jangan cari kambing hitam.
