Komparatif.ID, Lhokseumawe– Aroma kopi pahit berbalut tembakau kretek menyatu dengan alunan dentuman rapai dan geundrang yang memecah hening malam. Di tengah perayaan Harlah 800 Tahun Kesultanan Samudra Pasai, bukan sekadar tarian yang ditampilkan, melainkan sebuah “reuni” besar yang jarang terjadi. Sebuah pertemuan kembali para musisi yang telah lama hilang dari panggung utama, kembali menaburkan benih silaturahmi lewat musik.
Malam itu, langit Aceh Utara seolah mengingat kembali jejak kaki mereka yang pernah melangkah di pentas 28 tahun lalu.
Dua Dekade Lebih Panggung Seni Aceh Utara Sepi
“Kenal 32 tahun lalu, main di pentas 28 tahun lalu. Bertemu kembali dalam majelis ini,” ujar salah satu tokoh seni yang kini kembali tampil.
Sebuah perjalanan waktu yang panjang. Sejak tahun 2005, para pemain musik ini telah “hijrah” ke tanah tetangga—Malaysia dan Australia. Dua dekade lebih tanpa jejak di Aceh Utara membuat nama-nama mereka mulai kabur ditelan waktu. Pejabat budaya yang baru mungkin tidak mengenal wajah-wajah ini. Namun, bagi mereka yang memahami “bahasa” seni, pengakuan datang dari alunan nada, bukan dari kartu nama dan sertifikat.
Trio Bink Vho: Dari Underground ke Tradisi
Di barisan depan, tiga nama yang pernah membentuk Bink Vho—band legendaris era 80-an yang awalnya menggebrak dengan nuansa Glam Rock dan Heavy Metal—kini kembali menyatu.
Romi (keempat dari kiri), sang pemukul geundrang dari Lapang, kini kembali menggetarkan kulit gendang. Dulu, honornya waktu itu hanya cukup untuk membeli minyak bagi Vespa Sprint tahun 1977 miliknya.
Baca juga: Menyoal Hari Jadi Aceh Utara, Benarkah Kesultanan Samudera Pasai 800 Tahun?
Hendra (keenam dari kiri), yang dulu membawa nuansa Thrash Metal dan Hardcore, kini belajar sabar dan halus dalam memainkan seurunee kale.
Ewin (ketujuh dari kiri), mantan drummer bertenaga penuh, kini beralih tangan menjadi pemain rapai.
“Malam itu, cuma kami bertiga yang membentuk line-up Bink Vho,” kenang mereka. Dari suara keras metal, kini berubah menjadi kelembutan tradisi.
Maha Guru dan Anak-Anak Muda</H3?
Tak lengkap tanpa kehadiran Abenk (kedelapan dari kiri), sang Maha Guru Seurunee Kale. Murid dari almarhum Mukhlis Nyawoeng ini memiliki napas baja; mampu meniup seurunee hingga 15 menit tanpa henti. Dia adalah jembatan antara generasi tua dan harapan baru.
Di sisi lain, hadir Safar (pertama dari kiri), adik muda yang membawa instrumen modern—gitar dan bass. Adik dari Gelex Bassis (Kaliber Band), Safar mewakili generasi yang mungkin tidak mengenal era Vespa Sprint itu, namun tetap menghormati akar seni.
Sedangkan Uyung (kedua dari kiri) dan Taufik (ketiga dari kiri) melengkapi barisan dengan multitalenta mereka, yang sering kali menjadi tulang punggung acara seni di Kabupaten Aceh Utara maupun Kota Lhokseumawe pada masa lalu.
Filosofi Ubi dan Malai Padi
Bagi para seniman ini, kehadiran di Samudra Pasai bukan untuk pamer atau kompetisi. Ini adalah bentuk silaturahmi.
“Kalau diundang kami datang, tak diundang kami diam,” ujar salah satu pelaku seni dengan bijak.
Mereka menggambarkan diri seperti ubi di dalam tanah—tersimpan, menunggu, dan berkarya dalam diam. Dan seperti malai padi yang merunduk, semakin penuh ilmu dan pengalaman, semakin rendah hati.
Musik malam itu bukan untuk dipertandingkan. Musik adalah bahasa persaudaraan. Di tengah riuh 800 tahun sejarah Kesultanan Samudra Pasai, musik menjadi bukti bahwa persatuan tidak mengenal suku, kampung, atau tahun kelahiran.
Malam itu, para seniman itu kembali menemukan rumah mereka—bukan di panggung, melainkan di hati sesama.
