Komparatif.ID, Bireuen– Ridwan, pedagang bakso bakar keliling asal Gampong Cot Geulumpang, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, mendapat keuntungan hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa saat berjualan pada perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, di jalan Kolonel Husein Yusuf, Selasa (18/8/2026).
Ridwan sengaja datang lebih awal ke lokasi kegiatan pada Selasa (18/8/2026). Sekitar pukul 12.00 WIB, ia sudah berada di lokasi untuk menjajakan dagangannya. Berdasarkan pengalamannya setiap tahun, warga, terutama anak-anak, biasanya sudah datang lebih awal untuk mendapatkan posisi di bagian depan sebelum acara dimulai.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi para pedagang untuk menawarkan dagangannya kepada penonton. Sebelum acara dimulai, seluruh rute karnaval sepanjang sekitar dua kilometer dari titik start hingga finish telah dipenuhi warga yang memilih berdiri di bagian depan untuk menyaksikan jalannya kegiatan.
Ridwan biasanya membawa sekitar 250 tusuk bakso bakar untuk dijual dalam sehari. Namun, ia memberanikan diri membawa 700 tusuk bakso bakar, jauh lebih banyak dibandingkan jumlah dagangan yang biasanya.
Keputusan tersebut ternyata membuahkan hasil. Seluruh bakso bakar yang dibawanya habis terjual. Bahkan, pembeli tidak hanya berasal dari anak-anak yang menyaksikan karnaval, tetapi juga peserta karnaval yang membeli dagangannya ketika kegiatan berlangsung.
“Alhamdulillah 700 tusuk bakso bakar saya semuanya habis, anak-anak paling menyukai bakso, terakhir dibeli para peserta karnaval,” jelas Ridwan, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Terik Matahari Tak Surutkan Antusiasme Warga Saksikan Karnaval di Bireuen
Menurut Ridwan, tingginya penjualan pada perayaan kemerdekaan membuat pendapatannya meningkat hingga sekitar dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Meski demikian, ia tetap harus memperhitungkan kenaikan harga sejumlah bahan baku yang selama ini turut memengaruhi keuntungan dari usaha kecilnya.
Salah satu bahan yang mengalami kenaikan harga adalah ayam. Ridwan mengatakan, ketika harga ayam mencapai Rp70 ribu, uang dengan jumlah tersebut hanya mendapatkan ayam dengan berat sekitar dua kilogram.
Sementara ketika harga kembali normal, uang yang sama bisa digunakan untuk mendapatkan ayam dengan berat lebih dari dua kilogram.
“Meski harga barang mahal, ukuran tidak bisa saya kecilkan, begitu juga harga barang tidak bisa saya naikkan karena konsumen tidak mau membelinya,” ujar Ridwan.
Ia mengatakan, pada hari biasa dagangannya memang sering habis terjual. Namun, jumlah keuntungan yang diperoleh tidak sebesar saat perayaan kemerdekaan. Selain harga bahan baku, mahalnya tepung juga menjadi salah satu faktor yang membuat margin keuntungan pedagang bakso bakar tersebut terbatas.
Untuk menekan biaya operasional, Ridwan berusaha menghemat pengeluaran, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM). Ia menggunakan sepeda motor Honda Astrea Grand untuk berkeliling menjajakan dagangannya.
Menurutnya, penggunaan sepeda motor tersebut cukup membantu menghemat biaya BBM. Jika tangki diisi penuh, sepeda motor miliknya dapat digunakan untuk berkeliling selama sekitar dua hari.
Kondisi tersebut berbeda jika ia menggunakan sepeda motor matik yang menurutnya hanya mampu digunakan sekitar satu hari dengan jumlah bahan bakar yang sama.
