
Komparatif.ID, Jakarta– Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax perlu mengalami penyesuaian seiring dengan tren penurunan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Penurunan harga minyak global dipengaruhi meningkatnya ekspektasi tercapainya kesepakatan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dinilai berpotensi memperlancar pasokan minyak dunia.
Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto, mengatakan saat ini harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$83 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$79 per barel.
Menurutnya, sejumlah analis memperkirakan rata-rata harga minyak dunia hingga akhir tahun berada di kisaran US$80 per barel.
“Jadi, apakah harga Pertamax perlu segera disesuaikan? Menurut saya iya, tetapi harus ada parameter yang dihitung terlebih dahulu. Harga minyak perlu mengendap pada level tertentu agar ada kepastian. Jangan sampai kita mengambil keputusan berdasarkan parameter yang belum stabil,” kata Sugeng melansir BloombergTechnoz di Kompleks DPR, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: AS dan Iran Sepakat Berdamai, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas
Sugeng mengatakan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar. Penetapan harga tidak hanya mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, tetapi juga mencakup biaya pengolahan, distribusi, serta berbagai komponen biaya lainnya.
Meski mendukung adanya penyesuaian harga, Sugeng mengingatkan pemerintah untuk tetap mencermati perkembangan pasar energi global. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan.
Salah satunya adalah potensi perubahan produksi kelompok negara pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC+. Selain itu, cadangan minyak strategis di sejumlah negara besar juga dilaporkan mengalami penurunan hingga sekitar 1,2 miliar barel dalam beberapa waktu terakhir.
“Saat ini negara-negara besar sedang mengisi kembali cadangan tersebut. Kondisi itu turut memengaruhi pembentukan harga minyak dunia,” ujarnya.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia tercatat bergerak menuju tren penurunan terpanjang dalam 10 bulan terakhir.
Patokan minyak mentah Brent tercatat melemah untuk hari kelima berturut-turut dan diperdagangkan di bawah level US$79 per barel, mendekati posisi terendah dalam tiga bulan terakhir.
Sementara itu, minyak mentah WTI berada di kisaran US$76 per barel. Angka tersebut semakin mendekati simulasi harga minyak dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.












