Home News Daerah Inovasi Sakeladera Antar Solusi Bangun Andalas Raih PROPER Hijau 2025

Inovasi Sakeladera Antar Solusi Bangun Andalas Raih PROPER Hijau 2025

Inovasi Sakeladera Antar Solusi Bangun Andalas Raih PROPER Hijau 2025
General Manager PT Solusi Bangun Andalas, R. Adi Santosa menerima PROPER Hijau 2025 untuk PT Solusi Bangun Andalas dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (7/4/2026). Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Banda Aceh— PT Solusi Bangun Andalas (SBA) meraih penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia melalui inovasi program Sakeladera atau Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera yang dijalankan di kawasan pesisir Lhoknga, Aceh Besar.

Program ini mengedepankan pendekatan ekonomi sirkular dengan mengolah limbah kelapa menjadi produk bernilai guna bagi masyarakat.

Melalui kolaborasi dengan komunitas Bank Sampah Generasi Milenial, SBA mampu mengolah hingga 60 ton sampah kelapa per bulan. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi timbulan limbah yang sebelumnya dibakar atau dibiarkan membusuk, tetapi juga memberikan solusi bagi kebutuhan pakan ternak masyarakat setempat.

PROPER atau Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan merupakan penghargaan yang menunjukkan kinerja perusahaan telah melampaui kepatuhan terhadap regulasi.

Capaian ini mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam menjalankan efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Baca juga: PT SBA: Pers Mitra Penting dalam Komunikasi Publik

Direktur Operasi PT Solusi Bangun Andalas, Edi Sarwono, mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil dari sinergi antara inovasi operasional dan keterlibatan masyarakat.

“PROPER Hijau ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan energi dan penurunan emisi di pabrik, hingga bagaimana kami tumbuh bersama masyarakat,” ungkap Edi, Kamis (16/4/2026).

Sebelum program Sakeladera dijalankan, sampah kelapa di wilayah pesisir umumnya dibakar atau dibiarkan membusuk. Kondisi ini berkontribusi terhadap emisi karbon hingga 34,8 ton CO2 per bulan. Di sisi lain, peternak lokal menghadapi tingginya biaya pakan yang mencapai Rp48 juta per bulan akibat ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Melalui program ini, sampah kelapa diolah menjadi cocopeat atau serbuk halus dari sabut kelapa yang dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak. Inovasi tersebut mampu menekan biaya pakan hingga 60 persen atau sekitar Rp28,2 juta per bulan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah.

Produk cocopeat yang dihasilkan juga telah melalui uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri terkait kandungan kalsium dan protein.

Dalam pelaksanaannya, SBA memberikan pendampingan berkelanjutan, menyediakan sarana produksi, serta memperkuat kelembagaan masyarakat. Upaya ini mendorong terbentuknya ekosistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan.

Dampak ekonomi program ini tercermin dari rasio Social Return on Investment sebesar 2,5, yang berarti setiap Rp1 investasi menghasilkan Rp2,5 manfaat bagi masyarakat.

Saat ini, timbulan sampah kelapa di kawasan tersebut telah berkurang menjadi 20 hingga 24 ton per bulan.

Salah satu warga penerima manfaat, Muhammad Ikhsan, mengaku perubahan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menyebut sampah kelapa kini tidak lagi terbuang percuma, melainkan menjadi produk bernilai yang membantu menekan biaya produksi pakan ternak.

“Sekarang sampah kelapa tidak lagi dibuang percuma. Kami bisa mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat, bahkan membantu menekan biaya produksi pakan ternak,” ujarnya.

Selain program pemberdayaan masyarakat, capaian PROPER Hijau juga didukung oleh inovasi lingkungan di area operasional perusahaan. Salah satunya adalah penggunaan burner rendah emisi yang mampu menurunkan emisi hingga 88.931 ton CO2 ekuivalen sepanjang tahun 2025.

Teknologi burner generasi kedua yang digunakan memungkinkan proses pembakaran lebih optimal, serta pemanfaatan bahan bakar alternatif dari limbah seperti oli bekas hingga mencapai 100 persen. Langkah ini berpotensi menurunkan penggunaan batu bara hingga 40 persen.

Perusahaan juga terus meningkatkan efisiensi produksi melalui optimalisasi penggunaan energi listrik, pengendalian emisi gas, peningkatan efisiensi bahan bakar dan pelumas, serta berbagai inovasi lainnya, termasuk daur ulang karet bekas menjadi komponen filter udara dan pemanfaatan air buangan AC untuk kebutuhan domestik.

Previous articleBNN Aceh Musnahkan 4,9 Kg Sabu Hasil Pengungkapan Kasus di Bireuen
Next articleTIMPORA Bireuen Bahas Pemetaan Wilayah Rawan dan Aktivitas WNA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here