Komparatif.ID, Banda Aceh— Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat sektor pertanian terus menjadi penopang utama perekonomian Aceh dengan kontribusi sebesar 29,74 persen pada Triwulan III 2024.
Meski jadi tulang punggung ekonomi Aceh, tantangan sektor pertanian masih membayangi seperti menurunnya jumlah panen padi dan produksi beras dalam tiga tahun terakhir di beberapa kab/kota lumbung padi.
Menurut Statistisi Ahli Muda BPS Aceh, Hilda Aprina, permasalahan utama sektor pertanian bukan hanya terletak pada investasi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang masih belum memadai.
“Permasalahan sektor pertanian di Aceh sebenarnya bukan hanya soal investasi, tetapi juga terkait kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih kurang. Padahal, kalau investasi yang masuk didukung SDM dan infrastruktur yang memadai, banyak masalah dapat diatasi,” ujar Hilda Aprina dalam keterangan tertulis yang dikutip Komparatif.ID, Sabtu (21/12/2024).
Baca juga: 5 Daerah Lumbung Padi di Aceh Alami Penurunan Produksi
Hilda menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam meningkatkan kapasitas petani melalui program pelatihan yang berkelanjutan. Dengan pelatihan yang tepat, produktivitas diharapkan meningkat tanpa terlalu bergantung pada kondisi iklim yang sering menjadi kendala dalam menghasilkan panen berkualitas.
Selain itu, Hilda menyoroti perlunya integrasi antara sektor pertanian dengan sektor lain untuk menciptakan nilai tambah. Selama ini, hasil pertanian Aceh dikirim ke daerah lain untuk diolah, sehingga nilai tambah dinikmati oleh daerah tersebut.
“Jika proses pengolahan dilakukan di Aceh, nilai tambah tersebut dapat dinikmati langsung oleh masyarakat Aceh,” ungkapnya.
Tidak hanya sektor pertanian, Hilda mengungkapkan sektor perikanan juga menghadapi tantangan serupa. Meskipun Aceh dikenal memiliki hasil laut yang melimpah, nelayan sering kali kesulitan memasarkan hasil tangkapannya, terutama ketika produksi sedang melimpah.
Menurut Hilda, pasar kerap tidak mampu menyerap stok yang melimpah, sehingga menyebabkan kerugian bagi nelayan. “Dengan adanya investasi untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah, persoalan ini dapat diatasi,” ujarnya.













