52 ribu lebih pekerja Malaysia kehilangan pekerjaan. Hingga pertengahan Juli 2026, jumlahnya terus bertambah.
Komparatif. ID, Kuala Lumpur– 52 ribu pekerja Malaysia kehilangan pekerjaan. Hingga pertengahan Juli tahun ini, jumlahnya mencapai 52.607 pekerja Malaysia diberhentikan dari pekerjaannya.
Berdasarkan hasil riset Maybank Investment Bank, dalam laporan hasil risetnya pada 16 Juli 2026, mayoritas pekerja Malaysia yang kehilangan pekerjaan dari kalangan pekerja kerah putih. Salah satunya penyebabnya mereka tergusur akibat perkembangan artificial intelligence (AI).
The Edge Malaysia. Com, berdasarkan hasil riset Maybank, menyebutkan 50 % korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK di Malaysia merupakan kalangan pekerja berketerampilan tinggi (high skilled/white collar workers), seperti manajer, profesional, eksekutif, serta teknisi.
Mereka umumnya terdampak restrukturisasi teknologi, penghematan perusahaan, maupun program voluntary separation scheme (VSS).
Baca: Bahaya Laten di Balik Menjamurnya Jualan Makanan Rumahan
Kementerian Sumber Daya Manusia (Kesuma) melaporkan pekerja di sektor manufaktur yang paling besar terdampak PHK. Jumlah mereka menduduki peringkat pertama pekerja Malaysia yang kehilangan pekerjaan. Mereka harus diberhentikan karena menurunnya permintaan global akibat krisis rantai pasok.
Pada peringkat kedua dengan angka yang sangat ketat, berasal dari sektor perdagangan grosir dan ritel.
Portal Berita RTM melaporkan, Menteri Sumber Daya Malaysia, Datuk Seri Ramanan Ramakrishnan menerangkan usia rata-rata pekerja Malaysia yang kena PHK di antara bentang 25 hingga 39 tahun. Rentang usia tersebut yang paling banyak kehilangan pekerjaan tahun ini.
Meski jumlah tenaga kerja yang terkena PHK cukup besar, tapi tingkat pengangguran nasional tetap stabil di angka 3,0 persen pada Mei 2026. Dari setiap 1 pekerja yang terimbas PHK, tersedia peluang 1,5 lowongan atau penempatan baru di sektor lain. Dengan demikian ekosistem kerja nasional secara makro tetap stabil di level yang aman.













