Komparatif.ID, Jakarta— Jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Indonesia kini mencapai 27.022 unit. Angka tersebut bertambah setelah Badan Gizi Nasional (BGN) mengaktivasi 480 SPPG secara serentak di 16 provinsi Indonesia bagian timur pada Jumat (2/10/2026).
Ratusan SPPG yang baru diaktivasi tersebut mencakup wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah dengan prevalensi stunting yang tinggi. Aktivasi ini sekaligus menandai berlanjutnya pengoperasian dapur SPPG setelah sebelumnya sempat mengalami masa moratorium.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, jumlah 27.022 dapur SPPG yang telah beroperasi belum menjadi batas akhir perluasan layanan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, masih terdapat dapur yang telah siap beroperasi dan berada di wilayah yang membutuhkan pelaksanaan program tersebut.
“Kurang lebih dua bulan saya menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Saat ini sudah berjalan 27.022 dapur yang beroperasi di seluruh Indonesia. Ternyata masih banyak dapur-dapur yang siap beroperasi, dan dapur-dapur yang siap beroperasi itu berada di wilayah-wilayah yang memang dibutuhkan MBG-nya untuk segera berjalan,” ujar Sudaryono dalam keterangan resminya, Senin (5/10/2026).
Menurut Sudaryono, aktivasi 480 SPPG di 16 provinsi Indonesia timur merupakan langkah awal untuk mengoperasikan dapur-dapur yang telah siap. BGN selanjutnya akan membuka SPPG secara bertahap di wilayah lain dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat.
“Apakah akan ini saja? Enggak. Setelah ini kami harapkan minggu depan kami buka di Kalimantan, kami buka di Bali, kami buka di Sumatra, kami buka di tempat-tempat yang memang stunting-nya tinggi dan 3T, dan di tempat-tempat di mana walaupun itu tempatnya barangkali bukan di pelosok paling pelosok, tapi anak-anaknya membutuhkan MBG,” kata Sudaryono.
Baca juga: Setelah Santap MBG, Belasan Siswa SMAN 1 Kuala Keracunan
Ia mengatakan, perluasan layanan tersebut juga menjadi respons terhadap berbagai aspirasi yang diterima BGN. Masukan tersebut datang dari sejumlah pihak, termasuk mitra, SPPG, kader yang bertugas di dapur, hingga sekolah-sekolah yang mengusulkan agar program MBG dapat dilaksanakan di wilayah mereka.
“Kami telah menerima banyak aduan, banyak masukan, banyak email, banyak surat dari macam-macam, termasuk masukan dari sekolah-sekolah. Jadi banyak sekali yang memang masih ingin adanya MBG di daerahnya,” ujarnya.
Sudaryono menegaskan, aktivasi 480 SPPG merupakan langkah awal untuk mengoperasikan dapur yang telah siap. BGN akan melanjutkan proses pembukaan dapur di berbagai wilayah secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan yang ada.
“Ini adalah awalan kita membuka, mengaktivasi dapur-dapur yang sudah siap,” kata Sudaryono.
Aktivasi tersebut sekaligus menandai berlanjutnya proses aktivasi dapur SPPG yang sebelumnya mengalami moratorium. Menurut Sudaryono, dengan kembali dibukanya aktivasi dapur, masa moratorium tersebut telah ditiadakan.
“Kalau kemarin ada katakanlah ada moratorium, maka dengan dibukanya ini maka moratorium itu kemudian artinya sudah ditiadakan moratoriumnya,” ujarnya.
