Komparatif.ID, Banda Aceh— Hingga 27 Juli 2026, realisasi keuangan kegiatan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian di Aceh mencapai Rp231,27 miliar atau 44,9 persen dari total pagu Rp515,22 miliar.
Anggaran tersebut digunakan untuk optimasi lahan terdampak bencana, rehabilitasi sawah, pembangunan infrastruktur irigasi, serta jalan usaha tani.
Pemerintah Aceh mengatakan Kementerian Pertanian mengalokasikan dukungan sekitar Rp2,5 triliun untuk pemulihan lahan pertanian dan perkebunan yang terdampak bencana.
Dukungan tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten dan kota terdampak kepada Kementerian Pertanian.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) mengapresiasi dukungan tersebut dan meminta seluruh perangkat daerah memastikan anggaran digunakan secara maksimal serta tepat sasaran.
“Mualem berterima kasih kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Saya harap anggaran ini dimanfaatkan secara maksimal untuk pemulihan sawah dan kebun,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Kementan Siapkan Rp2,5 T untuk Pemulihan Sawah dan Kebun di Aceh
Berdasarkan data Pemerintah Aceh, bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 mengakibatkan sekitar 57.485 hektare sawah mengalami kerusakan. Proses optimalisasi telah berjalan pada areal seluas 40.852 hektare.
Sementara itu, lahan perkebunan terdampak mencapai 60.438 hektare, dengan penanganan pemulihan telah dilakukan pada sekitar 40.418 hektare.
Untuk optimasi lahan sawah rusak ringan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp155,66 miliar. Hingga 27 Juli 2026, realisasinya mencapai Rp77,72 miliar atau 49,93 persen.
Survei, investigasi, dan desain telah terealisasi secara fisik pada 23.778 hektare dari sasaran 27.071 hektare yang tersebar di 16 kabupaten dan kota. Konstruksi optimasi lahan telah berjalan pada 3.309 hektare, sedangkan pengolahan lahan terealisasi pada 360 hektare.
Sementara itu, untuk rehabilitasi sawah rusak sedang, pagu yang disiapkan mencapai Rp200,42 miliar dengan realisasi Rp64,54 miliar atau 32 persen. Tahap perencanaan pada 4.393 hektare telah selesai seluruhnya. Konstruksi rehabilitasi juga tercatat selesai pada areal seluas 4.393 hektare.
Pemulihan juga diperkuat melalui pembangunan 1.135 unit infrastruktur irigasi dengan pagu Rp147,48 miliar. Hingga 27 Juli 2026, realisasi keuangannya mencapai Rp85,05 miliar atau 57,7 persen.
Program tersebut mencakup 641 unit irigasi perpompaan, 149 unit irigasi perpipaan, 45 bangunan konservasi, dan 300 unit jaringan irigasi tersier.
Dari sejumlah program irigasi itu, jaringan irigasi tersier mencatat realisasi keuangan tertinggi, yakni 78 persen atau Rp23,5 miliar dari pagu Rp30 miliar. Irigasi perpompaan terealisasi Rp52,17 miliar atau 53,2 persen, irigasi perpipaan Rp7,07 miliar atau 50 persen, dan bangunan konservasi Rp2,30 miliar atau 43 persen.
Pemerintah juga menyiapkan Rp11,66 miliar untuk pembangunan 106 unit jalan usaha tani di 13 kabupaten dan kota. Realisasi keuangannya mencapai Rp3,96 miliar atau 34 persen, dengan realisasi fisik sebanyak 26 unit.
