
Komparatif.ID, Redelong— Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menaksir total kerusakan dan kerugian akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut mencapai Rp7,2 triliun.
Angka ini merupakan hasil perhitungan menyeluruh terhadap dampak bencana, baik dari sisi fisik maupun sosial, yang terjadi setelah rangkaian peristiwa hidrometeorologi pada akhir 2025 lalu.
Kepala Bidang Penelitian, Pengembangan Program, dan Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bener Meriah, Rahmat Yanidin, mengatakan kerusakan terbesar terjadi pada sektor infrastruktur.
Menurutnya, dampak ekonomi dari bencana tersebut sangat signifikan karena banyak fasilitas publik dan akses dasar masyarakat yang terdampak langsung.
Rahmat menjelaskan, bencana yang melanda Bener Meriah merupakan bagian dari rentetan dampak Siklon Tropis Senyar yang sejak 25 November 2025 menyusuri wilayah daratan Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat.
Siklon tersebut memicu berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari angin kencang, curah hujan tinggi, peningkatan debit air sungai, banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor di sejumlah lokasi.
Kondisi topografi wilayah Bener Meriah serta dinamika atmosfer regional disebut turut memperparah situasi. Aliran air yang deras membawa lumpur, batang kayu, dan sedimen lainnya hingga menerjang permukiman warga serta lahan pertanian, sehingga memperluas cakupan kerusakan dan kerugian.
Baca juga: Revitalisasi Sekolah yang Rusak Akibat Bencana di Aceh Rampung 2026
“Kondisi topografi wilayah dan dinamika atmosfer regional memperparah keadaan. Aliran air membawa material lumpur, batang kayu, dan sedimen yang menerjang permukiman serta lahan pertanian warga,” ujar Rahmat melansir siaran resmi Pemkab Bener Meriah, Kamis (4/2/2026).
Dari total taksiran Rp7,2 triliun tersebut, sektor infrastruktur mencatat angka kerusakan dan kerugian terbesar, yakni sekitar Rp4,8 triliun. Sektor ekonomi ditaksir mengalami kerugian sekitar Rp1,8 triliun, sementara sektor permukiman mencapai Rp215 miliar.
Selain itu, kerugian lintas sektor diperkirakan sebesar Rp176 miliar dan sektor sosial sekitar Rp75 miliar.
Rahmat menyebutkan, Bappeda Bener Meriah telah menyusun Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascabencana dengan total kebutuhan pendanaan sebesar Rp7,32 triliun.
Dalam rencana tersebut, alokasi terbesar kembali diarahkan ke sektor infrastruktur dengan anggaran sekitar Rp5,67 triliun, terutama untuk perbaikan akses dan fasilitas publik. Selain itu, sektor permukiman direncanakan memperoleh anggaran Rp191,72 miliar, lintas sektor Rp201,16 miliar, dan sektor sosial Rp33,80 miliar.
Ia menegaskan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya berorientasi pada pembangunan kembali, tetapi juga mengintegrasikan prinsip pengurangan risiko bencana.
Penyusunan rencana pemulihan tersebut dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat, dengan memperhatikan skala prioritas serta upaya pencegahan agar risiko bencana serupa di masa mendatang dapat diminimalkan.












