BREAKING
Internasional

Keputusan Cepat Rajendra Dawadi, Selamatkan 1,6 Ribu Siswa di Nepal

Keputusan Cepat Rajendra Dawadi, Selamatkan 1,6 Ribu Siswa di Nepal
Rajendra Dawadi. Foto: AP.

Rajendra Dawadi mengambil keputusan cepat setelah menerima informasi bencana di hulu. Berkat keputusan cepat Kepala Sekolah Tribhuvan Trishuli Secondary School 1.643 siswa berhasil selamat dari bencana banjir bandang dan tanah longsor Nepal.

Komparatif.ID, Nuwakot, Nepal— Pagi itu, Rabu, 26 Agustus 2026. Rajendra Dawadi,Kepala Tribhuvan Trishuli Secondary School, sekaligus guru pengasuh mata pelajaran Bahasa Inggris, sedang mengajar di sebuah kelas.

Di luar gedung sekolah yang berjarak 60 meter di atas tebing Sungai Trishuli, Trisuli Bazar, Bidur Municipality, Distrik Nuwakot, suara gemericik air sungai nan jernih yang berhulu di Pegunungan Himalaya.

Di dahan-dahan pohon di dekat sekolah, burung-burung kicau endemik yang dikenal pemalu, spiny babbler, meloncat-loncat di atas tanah, mencari serangga sebagai menu sarapan pagi.

900 siswa telah berada di sekolah terpadu tingkat SD,SMP, dan SMA. Para siswa senior dari rentang usia 11-18 tahun sedang berada di kelas masing-masing. Sedangkan siswa lebih muda masih dalam perjalanan menuju sekolah menggunakan bus sekolah.

Ketika sedang melaksanakan tugasnya mengajari anak bangsa, telepon genggam milik Rajendra Dawadi bergetar. Guru berusia 47 tahun itu mengangkat telepon. Seseorang yang mengaku dari hulu memberi tahu banjir bandang dengan intensitas sangat besar sedang melaju dari hulu.

“Puncak gletser Langtang Lirung baru saja runtuh. Gelombang raksasa bandang sedang melaju sangat cepat ke arah hilir. Sekolah akan dihantam gelombang sangat besar.” Demikian kira-lira informasi yang disampaikan dengan sangat terburu-buru oleh seseorang di hulu.

Seorang akuntan sekolah dalam waktu bersamaan juga memberikan informasi yang sama dengan sangat buru-buru. Si akuntan kemudian berlari ke luar sekolah, berusaha memberitahu keluarganya tentang bencana yang sedang menuju Trisuli Bazar.

Baca juga: Banjir Nepal: 955 Orang Meninggal dan 4.471 Hilang

Intuisi Rajendra Dawadi segera mengolah informasi dengan cepat. Dalam sekian detik kemudian dia langsung memerintahkan seluruh warga sekolah dievakuasi. Saat Rajendra membuat perintah, sistem sensor banjir resmi milik Pemerintah Nepal belum berbunyi memberikan peringatan dini.

Sang kepala sekolah tidak peduli apa pun, termasuk bilamana perintah evakuasinya ternyata tidak sesuai dengan fakta. Hal terpenting baginya, lebih baik tidak belajar satu hari ketimbang menyesal seumur hidup.

“Jika informasi ini salah, kita hanya kehilangan satu hari sekolah. Tetapi jika informasi ini benar, kita akan kehilangan banyak nyawa,” kenang Dawadi mengenai momen krusial tersebut.

Rajendra Dawadi berlari menuju tempat bel darurat ditaruh. Dia menekan kuat-kuat bel. Begitu mendengar bunyi bel darurat, 60 guru segera mengarahkansiswa masing-masing keluar kelas, keluar dari lingkungan sekolah, dan berlari sejauh mungkin ke arah bukit lebih tinggi.

Di luar gedung sekolah, sejumlah bus sekolah yang baru tiba membawa ratusan siswa kelas junior diperintahkan putar arah. Area sekolah harus dikosongkan dalam tempo secepatnya. 14 menit kemudian lingkungan sekolah kosong dari manusia.

Perintah Rajendra Dawadi melakukan evakuasi merupakan keputusan yang benar. Pukul 09.30 waktu setempat, suara gemuruh terdengar semakin dekat. Kemudian bertambah dekat. Gelombang raksasa air bah yang bercampur batu besar, pecahan es, lumpur pekat datang menerjang kawasan di sepanjang aliran sungai. Lembah Trishuli disapu rata.

Gedung Tribhuvan Trishuli Secondary School seperti kerupuk kena air. Gelombang raksasa melumatnya tanpa kesulitan sedikitpun. Tak ada sisa. Semua disapu bersih dalam hitungan detik. Bangunan tiga lantai Tribhuvan Trishuli Secondary School hancur total, terlepas dari fondasinya, roboh, dan tersapu bersih tanpa sisa.

Dari atas ketinggian perbukitan, Rajendra Dawadi, para guru dan ratusan siswa, menyaksikan dengan perasaan pilu. Sekolah tempat mereka bernaung hilang dalam hitungan detik, dilumat oleh gelombang sangat besar dari hulu.

Dua orang dari anggota keluarga besar sekolah hilang disapu banjir. 1.158 warga Distrik Nuwakot dinyatakan hilang disampu banjir.

Setelah bencana berlalu, Rajendra memiliki tugas baru. Bersama komunitas lokal, ia mendesak Pemerintah Nepal secepatnya membangun sekolah baru di tempat lebih aman. Pendidikan anak-anak tidak boleh terbengkalai.

Tapi pemulihan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Pemerintah Nepal butuh waktu dan anggaran untuk memulihkan negaranya dari kehancuran. Rajendra dan siapapun harus menunggu, tanpa harus berhenti mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak bangsa yang sangat ia cintai.

Disadur dari: Guardian, BBC, dan informasi independen lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *