BREAKING
Daerah

BRIN dan UIN Ar-Raniry Kembangkan Model Konservasi Manuskrip Terdampak Banjir

BRIN dan UIN Ar-Raniry Kembangkan Model Konservasi Manuskrip Terdampak Banjir
Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengembangkan model konservasi manuskrip yang terdampak banjir dan lumpur akibat bencana hidrometeorologi.

Riset tersebut merupakan kolaborasi BRIN, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, serta Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry. Observasi dan uji coba riset dilaksanakan di FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada 25 hingga 31 Agustus 2026.

Pengembangan model konservasi ini tidak hanya diarahkan untuk menyelamatkan kondisi fisik manuskrip, tetapi juga menyusun manajemen risiko bencana untuk melindungi warisan dokumenter dari ancaman bencana hidrometeorologi.

Ketua tim riset dari Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Husnul Fahimah Ilyas, mengatakan penelitian tersebut bertujuan mengembangkan model konservasi manuskrip terdampak banjir menggunakan metode pengeringan manual (knockdown).

“Model ini dirancang portabel, modular, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan secara (in situ) di wilayah rawan bencana hidrologi,” kata Husnul.

Anggota tim riset BRIN sekaligus Ketua Umum MANASSA Pusat, Agus Iswanto, mengatakan riset tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan model atau protokol manajemen risiko bencana hidrologi yang khusus diterapkan pada warisan dokumenter berupa manuskrip.

Sementara itu, konservator Perpustakaan Nasional, Aris Riyadi, mengatakan tim mengembangkan ruang pengering atau (chamber) portabel sebagai solusi taktis untuk mempercepat proses penyelamatan manuskrip yang terdampak banjir.

Menurut Aris, (chamber) portabel dapat digunakan langsung di lokasi bencana sehingga proses penanganan dapat dilakukan lebih cepat, efisien, dan mudah dimobilisasi dibandingkan mesin (freeze drying) yang selama ini digunakan untuk menangani bahan pustaka basah.

Ia menjelaskan, penyelamatan manuskrip terdampak banjir harus dilakukan melalui sejumlah tahapan. Identifikasi tingkat kerusakan perlu dilakukan sesegera mungkin setelah bencana, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan sebelum manuskrip masuk ke tahap restorasi sesuai dengan kondisinya masing-masing.

Penjelasan tersebut disampaikan Aris kepada tim pamong budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh yang turut mengikuti observasi riset di UIN Ar-Raniry.

Ketua Komisariat MANASSA Aceh sekaligus Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hermansyah, mengatakan sejumlah manuskrip di Aceh terdampak banjir pada akhir 2025.

Baca juga: Progres Jembatan Kuta Blang Capai 92%, Safrizal Beri Apresiasi

Berdasarkan hasil pendataan, sedikitnya 520 manuskrip di sembilan lokasi kabupaten dan kota di Aceh ditemukan terdampak bencana.

“Hasil riset yang dilakukan BRIN ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam penanganan manuskrip yang terdampak bencana serupa di tempat lain,” ujar Hermansyah.

Ia mengatakan UIN Ar-Raniry, khususnya Fakultas Adab dan Humaniora, akan diarahkan menjadi Laboratorium Manuskrip atau Naskah Kuno sebagai bagian dari penguatan fungsi akademik sekaligus pelestarian manuskrip Aceh.

Peneliti dari Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, AS Rakhmad Idris, mengatakan hasil riset perlu diperkuat dengan dokumen kebijakan agar model konservasi yang dikembangkan dapat diterapkan secara lebih luas.

“Dokumen kebijakan diperlukan untuk memberikan analisis dan rekomendasi penting kepada pemangku kebijakan mengenai bagaimana konservasi manuskrip terdampak bencana hidrologi sebaiknya dilakukan,” ujarnya.

Riset BRIN dan UIN Ar-Raniry tersebut mendapat sambutan dari BPK Aceh yang tengah menyiapkan program konservasi terhadap sejumlah manuskrip Aceh yang terdampak banjir.

Kepala BPK Aceh, Piet Rusdi, mengatakan hasil riset tersebut dapat menjadi masukan praktis dalam pelaksanaan program konservasi manuskrip.

“Kami menyambut gembira kegiatan riset ini. Ke depan perlu dilakukan kerja sama dalam program-program pelestarian, penelitian, dan pengembangan manuskrip Aceh,” kata Piet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *