Home Ekonomi Jaringan Rusak, BPMA Target Produksi Migas Kembali Normal Maret

Jaringan Rusak, BPMA Target Produksi Migas Kembali Normal Maret

Jaringan Rusak, BPMA Target Produksi Migas Kembali Normal Maret
Badan Pengelola Migas Aceh. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menargetkan produksi migas yang jaringan rusak akibat banjir dan longsor kembali normal paling pada Maret 2026.

Kepala BPMA, Nasri Djalal, mengatakan bahwa secara umum target pemulihan telah disusun dan saat ini terus dikejar bersama para kontraktor.

“Rata-rata target kita paling lambat Maret. Per 1 Maret kita sudah bisa on-stream kembali,” kata Nasri Djalal usai Aceh Upstream Oil & Gas Supply Chain Management Summit 2026 di ACC Dayan Dawood, Banda Aceh, Senin (2/2/2026).

Nasri menjelaskan bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir November 2025 lalu secara langsung mempengaruhi aktivitas produksi migas di sejumlah wilayah kerja di bawah kewenangan BPMA.

Menurutnya, beberapa perusahaan tidak dapat beroperasi karena area kerja mereka terdampak banjir. Kondisi tersebut membuat seluruh wilayah kerja migas belum bisa berproduksi secara optimal.

“Jadi seluruh wilayah kerja belum bisa berproduksi karena di wilayah kerja dan areanya terdapat banjir,” ujarnya.

Baca juga: Temui Menkeu, Kepala BPMA Bahas Anggaran dan DBH Migas

Nasri menuturkan, salah satu dampak paling signifikan dari bencana tersebut adalah kerusakan pada jaringan pipa. Banyak pipa yang mengalami kerusakan dan kebocoran, terutama di wilayah kerja Medco E&P Malaka yang berada di Aceh Timur.

Akses menuju wilayah tersebut juga sempat terputus sehingga aktivitas operasional tidak dapat dilakukan.

“Aceh Timur tidak bisa masuk. Artinya orang tidak bisa bekerja di sini. Tapi ini terus kita lakukan upaya perbaikan,” kata Nasri.

BPMA, lanjut dia, terus mendorong seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama di Aceh untuk segera kembali berproduksi. Upaya yang dilakukan meliputi pembersihan area terdampak banjir serta perbaikan fasilitas produksi dan jaringan pendukung di seluruh wilayah kerja.

Sejauh ini, sejak 1 Februari 2026, sebagian produksi gas telah mulai kembali mengalir. Beberapa perusahaan, termasuk Medco Energi, sudah memulai kembali aktivitas produksinya meskipun perbaikan masih terus dilakukan.

Nasri menyebut, proses pemulihan dilakukan secara maksimal agar produksi bisa segera normal.

Gangguan produksi migas dalam dua bulan terakhir, menurut Nasri, berdampak pada penurunan pendapatan negara, khususnya penerimaan negara bukan pajak. Selain itu, kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap pendapatan Aceh.

Previous articleKiper Timnas Indonesia Maarten Paes Resmi Gabung Ajax Amsterdam
Next articleSempat Tertekan, IHSG Rebound ke Level 8.021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here