Wednesday, 28 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Daerah

Sumpah Pemuda 2026, Rektor UIN Ar-Raniry Ingatkan 4 Tantangan Generasi Muda

Sumpah Pemuda 2026, Rektor UIN Ar-Raniry Ingatkan 4 Tantangan Generasi Muda
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., mengingatkan mahasiswa agar menjadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai ruang refleksi terhadap empat persoalan yang masih dihadapi bangsa, yakni kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan degradasi moral.

Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan generasi muda serta kepemimpinan yang memiliki integritas.

Mujiburrahman mengatakan peringatan Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan untuk mengenang peristiwa 28 Oktober 1928.

Menurutnya, semangat persatuan yang dibangun para pemuda pada masa lalu perlu diterjemahkan dalam bentuk gagasan dan tindakan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

“Hari ini kemiskinan. Hari ini kebodohan. Hari ini keterbelakangan. Hari ini degradasi moral pemuda. Itu menjadi isu yang memungkinkan dikaji, yang memungkinkan dipahami, yang memungkinkan dilakukan refleksi untuk dilakukan perubahan pada masa mendatang,” kata Mujiburrahman, Selasa (27/10/2026).

Rektor UIN Ar-Raniry menyebut tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan persoalan yang dihadapi pemuda pada masa perjuangan kemerdekaan. Meski tidak lagi berhadapan dengan penjajahan fisik, generasi muda tetap menghadapi persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, dan moral yang membutuhkan perhatian.

Menurut Mujiburrahman, persoalan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas dari kualitas kepemimpinan. Pengelolaan sumber daya alam membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, pengetahuan, dan tanggung jawab agar kekayaan yang tersedia dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca juga: FISIP UIN Ar-Raniry dan Unsoed Jalin Kerjasama Pengembangan Akademik

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan jabatan maupun kekuasaan sebagai sarana memperkaya diri. Sebaliknya, generasi muda perlu membangun moralitas, integritas, serta komitmen untuk mendorong perubahan di daerah dan tingkat nasional.

“Estafet kepemimpinan bangsa ini berada di pundak-pundak saudara,” ujarnya.

Mujiburrahman berharap simposium tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan, merumuskan solusi, serta menyatukan visi dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi di Aceh maupun Indonesia.

Ketua SEMA UIN Ar-Raniry, Zuhari Alvinda Haris, mengatakan simposium tersebut tidak hanya membahas sejarah dan peran pemuda dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga mengkaji persoalan nasional dan Aceh yang akan dihadapi generasi penerus.

Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk melahirkan terobosan, inovasi, dan gagasan baru dalam menjawab berbagai tantangan yang ada.

“Kita tidak ingin generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Indonesia dan Aceh ini menjadi generasi-generasi yang pengecut dan melempem ke depannya,” kata Zuhari.

Zuhari juga mengkritik perilaku pemimpin yang dinilainya tidak mencerminkan kepentingan masyarakat. Ia mengajak peserta simposium menjadikan forum tersebut sebagai ruang untuk membahas persoalan kepemudaan, nasional, dan daerah sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kepemimpinan pada masa mendatang.

Simposium Sumpah Pemuda tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan di Aceh sebagai narasumber. Mereka yakni Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh Ahmad Shalihin, Sekretaris Jenderal KNPI Aceh Danil Akbar Taqwadin, Ketua AMMPA Zulfata Agapol, serta Ketua Kohati HMI Cabang Banda Aceh Fitria Sundari.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *