Komparatif.ID, Bireuen— Makam delapan syuhada di Cot Batee Geulungku, Gampong Blang Tambu, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, sempat mengalami penurunan drastis jumlah pengunjung selama tiga tahun.
Imuem Blang Tambu, Tgk. Jafar bin Ismail, mengatakan pada periode 2023-2025 makam yang berada di tepi jalan nasional Banda Aceh-Medan itu relatif sepi. Sebelumnya, masyarakat hampir setiap hari datang untuk berziarah maupun melaksanakan kenduri nazar di makam para syuhada.
Namun, kondisi itu mulai berubah sejak memasuki 2026. Jumlah peziarah kembali meningkat, dengan rombongan masyarakat disebut hampir setiap minggu datang silih berganti ke makam delapan syuhada yang menjadi salah satu penanda sejarah perjuangan rakyat Aceh di kawasan tersebut.
“Dari tahun 2023 hingga 2025 angka pengunjung menurun drastis, mungkin faktor ekonomi. Sebelumnya hampir setiap hari ada yang datang kenduri nazar,” kata Tgk. Jafar, Selasa (1/9/2026).
Menurut Tgk. Jafar, peningkatan kunjungan mulai terlihat sejak awal 2026. Rombongan peziarah kembali berdatangan secara bergantian hampir setiap minggu.
Selain kunjungan peziarah, Tgk. Jafar menyebut terdapat sumbangan dari masyarakat yang melintas di kawasan tersebut. Jumlahnya berbeda antara hari biasa dan momentum hari raya.
Pada hari biasa, sumbangan yang terkumpul disebut berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp7 juta per hari. Sementara pada Hari Raya Idulfitri atau Iduladha, jumlahnya dapat mencapai sekitar Rp50 juta ketika kondisi sepi.
Jika kondisi ramai, jumlah sumbangan pada momentum hari raya tersebut disebut dapat mencapai Rp70 juta.
Makam tersebut berada di kawasan Cot Batee Geuleungku, yang secara administratif kini masuk Gampong Blang Tambu, Kecamatan Simpang Mamplam. Sebelumnya, wilayah tersebut merupakan bagian dari Kecamatan Samalanga sebelum terjadi pemekaran kecamatan.
Baca juga: Makam Hamzah Fansuri di Tanah Mekkah
Di lokasi itu juga berdiri sebuah prasasti yang memuat nama delapan pejuang yang gugur saat berperang melawan kolonial Belanda. Kedelapan pejuang tersebut adalah Tgk. Panglima Prang Rajeuk Djurong Bindje, Tgk. Muda Len Mamplam, Tgk. Njak Bale Ishak Blang Mane, Tgk. Meureudu Tambue, Tgk. Bale Tambue, Apa Sjech Lantjok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, dan Njak Ben Matang Salem Blang Teumuelek.
Berdasarkan kronologis yang tercantum pada prasasti, pada awal 1902 kelompok pejuang tersebut berhasil menewaskan satu tim patroli Marsose Belanda yang berjumlah 24 orang.
Setelah itu, para pejuang mengumpulkan senjata milik pasukan Belanda yang telah mereka kalahkan. Namun, saat sedang mengumpulkan senjata tersebut, mereka diserang secara mendadak oleh pasukan bantuan Belanda yang datang dari arah Kecamatan Jeunieb.
Dalam peristiwa tersebut, delapan pejuang gugur di lokasi kejadian. Nama mereka kemudian diabadikan dalam prasasti yang berada di kawasan makam tersebut.
