Komparatif.ID, Kutacane— Tiga jembatan terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tenggara kini telah selesai ditangani. Pemerintah kabupaten memastikan pekerjaan pada Jembatan Rangka Baja Salim Pipit, Jembatan Rangka Baja Silayar, dan Jembatan Gantung Darurat Lawe Pinis telah mencapai progres 100 persen.
Penanganan tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemanfaatan tambahan Transfer ke Daerah (TKD), terutama untuk memulihkan akses masyarakat dan mendukung kelancaran arus logistik. Pada dua jembatan rangka baja, pekerjaan mencakup pemasangan oprit sebagai penghubung jalan dengan jembatan serta bronjong untuk normalisasi sungai.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Aceh Tenggara, Sadli, mengatakan penanganan jembatan menjadi salah satu prioritas karena infrastruktur tersebut memiliki peran penting terhadap mobilitas masyarakat dan pemulihan kegiatan ekonomi.
Menurutnya, kondisi Jembatan Salim Pipit dan Jembatan Silayar sempat tidak dapat dilalui pada awal masa pascabencana. Karena itu, pemerintah daerah memprioritaskan pemasangan oprit agar akses pada kedua jembatan tersebut dapat kembali digunakan.
“Spesifikasi di dua jembatan ini meliputi pemasangan bronjong untuk normalisasi sungai dan oprit. Pada awal pascabencana, jembatan ini tidak dapat dilalui sama sekali. Karena itu, kami prioritaskan pemasangan oprit. Kami kerjakan dari Desember 2025 sampai Januari 2026 dan progresnya sudah 100 persen,” kata Sadli saat meninjau lokasi bersama Satgas PRR, Selasa (1/9/2026).
Baca juga: 60 Hektare Tambak Terdampak di Bireuen Kembali Digarap
Penanganan Jembatan Silayar mendapat dukungan anggaran sebesar Rp492 juta, sementara Jembatan Salim Pipit dialokasikan sebesar Rp426,5 juta. Pekerjaan tersebut mencakup pemasangan bronjong untuk normalisasi sungai serta pembangunan oprit sebagai penghubung badan jalan dengan jembatan.
Selain dua jembatan rangka baja tersebut, Pemkab Aceh Tenggara juga telah menyelesaikan perbaikan Jembatan Gantung Darurat Lawe Pinis. Ketiga pekerjaan itu kini telah mencapai progres 100 persen.
Pemkab Aceh Tenggara juga masih melanjutkan sejumlah pekerjaan infrastruktur lainnya. Salah satunya perbaikan Jalan Kebun Sere–Lapangan Terbang yang hingga saat ini mencapai progres 29,6 persen.
Pembangunan saluran pembuangan di Desa Kutarih, Kecamatan Babussalam, juga mulai dikerjakan. Selain infrastruktur jalan dan jembatan, pemerintah daerah turut melanjutkan sejumlah perbaikan pada infrastruktur dan fasilitas kesehatan.
Aceh Tenggara menerima tambahan TKD sebesar Rp8,2 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,2 miliar dialokasikan khusus untuk sektor infrastruktur. Hingga 24 Agustus 2026, realisasi anggaran untuk sektor tersebut telah mencapai Rp1,6 miliar atau sekitar separuh dari alokasi.
Sekretaris Daerah Aceh Tenggara, Yusrizal, mengatakan percepatan pekerjaan berikutnya juga diarahkan pada sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, serta sejumlah urusan lainnya. Pemerintah kabupaten akan menggerakkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Kabupaten untuk mendukung percepatan tersebut.
Upaya itu dilakukan melalui penambahan personel, penyesuaian waktu kerja, serta pemanfaatan peralatan dan teknologi yang lebih memadai. Namun, pelaksanaan di lapangan tetap akan menyesuaikan dengan jadwal pekerjaan dan kondisi yang dihadapi.
“Dalam melakukan percepatan, tentunya kita akan melihat time schedule yang ada. Dengan kondisi lapangan, tentunya akan ada deviasi,” kata Yusrizal.
