Komparatif.ID, Bireuen– Sejumlah kelompok tani penerima manfaat program Cetak Sawah Baru (CSB), Optimasi Lahan (OPLAH), dan Irigasi Pompa (IRPOM) di Kabupaten Bireuen membantah sejumlah informasi yang berkembang mengenai pelaksanaan program tersebut.
Bantahan disampaikan langsung dalam pertemuan yang mempertemukan kelompok tani penerima manfaat, para keuchik, media, dan Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Bireuen.
Kelompok tani penerima manfaat menyebut pertemuan tersebut digelar untuk mengklarifikasi pemberitaan simpang siur nan serampangan yang dinilai tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan.
Dalam pertemuan itu, kelompok tani menyampaikan pengalaman mereka selama program berjalan, termasuk mengenai manfaat program dan mekanisme pengelolaan bantuan.
Sejumlah kelompok tani membantah anggapan bahwa program tersebut tidak memberikan manfaat bagi petani. Mereka juga membantah informasi bahwa petani hanya menerima sejumlah uang tanpa mengetahui tujuan dan informasi mengenai program.
Salah seorang keuchik yang hadir dalam pertemuan, M. Yanis, mengatakan program tersebut justru membantu masyarakat, terutama setelah wilayahnya terdampak bencana banjir.
“Kami sangat bersyukur atas terealisasinya program ini di tengah keadaan dana desa yang tidak cukup untuk membangun sejumlah fasilitas pertanian yang rusak akibat bencana banjir kemarin. Saya sebagai keuchik ikut mengawasi program yang masuk ke desa dan dikelola oleh kelompok tani,” ujar M. Yanis saat pertemuan pada Minggu (9/8/2026) malam.
Baca juga: Satgas PRR Kebut Pemulihan Pertanian Terdampak Bencana
Polemik lain yang turut diklarifikasi berkaitan dengan pengelolaan rekening kelompok tani. Sebelumnya berkembang informasi rekening kelompok tani tidak dipegang atau dikelola oleh kelompok penerima manfaat.
Bendahara salah satu kelompok tani, Munzir, membantah informasi tersebut. Ia mengatakan kelompok tani sendiri yang menjalankan proses administrasi perbankan.
Menurut Munzir, pihak dinas hanya membantu memfasilitasi proses administrasi. Sementara proses perbankan dilakukan langsung oleh kelompok tani.
“Tidak benar itu. Kami sendiri yang datang ke bank, kami yang tanda tangan. Dinas hanya membantu memfasilitasi,” kata Munzir.
Ketua TMI Bireuen, Azhari, mengatakan pertemuan tersebut penting untuk mempertemukan informasi yang berkembang dengan keterangan langsung dari kelompok tani dan pemerintah desa.
Ia meminta pemberitaan mengenai pelaksanaan program tetap dilakukan secara objektif dengan memberikan ruang kepada pihak-pihak terkait untuk menyampaikan klarifikasi.
“Pemerintah sedang memprioritaskan pembangunan sektor pertanian melalui program-program yang sedang dikerjakan seperti Cetak Sawah Baru (CSB), Optimasi Lahan (OPLAH), dan Irigasi Pompa (IRPOM). Program-program itu tentu saja sangat bermanfaat bagi petani,” kata Azhari.
Azhari mengatakan TMI Bireuen telah melakukan komunikasi dan penelusuran langsung kepada sejumlah kelompok tani penerima manfaat untuk memastikan keberadaan dan manfaat program tersebut di lapangan.
“Kebermanfaatan program-program itu sudah kami pastikan langsung ke kelompok-kelompok tani penerima manfaat. Tani Merdeka Indonesia selain sebagai cerobong petani juga sebagai mata dan telinga Bapak Presiden, sehingga kami mengawasi setiap program yang bersentuhan dengan petani,” ujarnya.
Ia menegaskan fungsi pengawasan TMI bukan untuk menghambat. Menurutnya, pengawasan dilakukan untuk memastikan program yang bersentuhan langsung dengan kehidupan petani berjalan sesuai tujuan.
“Kita mengharapkan semua pihak bersinergi mendorong percepatan pemulihan sektor pertanian. Ini adalah harapan petani untuk kembali dapat beraktivitas di sawah yang menjadi mata pencaharian utama mereka selama ini,” tegasnya.
TMI Bireuen berharap klarifikasi tersebut dapat menjadi dasar bagi penyampaian informasi yang lebih berimbang mengenai pelaksanaan program pertanian di Bireuen. Terlebih, program tersebut berkaitan dengan upaya pemulihan sektor pertanian setelah bencana banjir.
