Perjalanan hidup Otto Toto Sugiri sungguh menarik. Berpendidikan strata magister Teknik Komputer pada 1981, dia sempat kelimpungan cari kerja di Indonesia.
Komparatif.ID, Bandung—Bila hari ini kita mengenal Otto Toto Sugiri sebagai pengusaha sukses bidang teknologi informasi, serta pendiri sekaligus Direktur Utama perusahaan data terbesar di Indonesia; PT DCI Indonesia Tbk. Maka di awal dia pulang ke Tanah Air, semuanya masih gelap.
Lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 23 September 1953, Otto Toto Sugiri berasal dari keluarga kelas menengah yang bervisi panjang untuk masa depan. orangtua Otto mendidiknya dengan kepedulian penuh.
Ia merupakan alumnus SMA Santo Aloysius Bandung. Ia menamatkan pelajarannya di SMA pada tahun 1971. Kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) pada tahun 1972. Dia mengambil jurusan Teknik Sipil.
Ternyata dia tidak serius kuliah di sana. Otto memilih Unpar hanya sebagai pengisi waktu jeda, dalam rangka persiapannya menaklukkan Jerman sebagai tujuan studinya. Selama kuliah di Unpar, Otto Toto Sugiri belajar bahasa Jerman, mempersiapkan administrasi, dll.
Intinya, Unpar hanya sebatas pengisi waktu kosongnya semata.
Tahun 1973 dia berangkat ke Jerman. Orangtuanya telah mewanti-wanti supaya dia mendaftar di Fakultas Kedokteran di RWTH Aachen University, sebuah universitas teknik terbesar di Jerman yang telah berdiri sejak 1870.
Otto sempat bernegosiasi supaya mendaftarkan pilihan kedua di Matematika. Tapi orangtuanya tidak setuju. Otto Sugiri tidak berdebat. Dia “ikut” saja perintah itu. tiba di Jerman dia mendaftarkan di di Fakultas Kedokteran. Juga memilih Teknik Elektro di pilihan kedua. Setidaknya Teknik Elektro masih berhubungan dengan Matematika.
Ketika tiba waktunya pengumuman, dia lulus di kedua jurusan itu. tapi dia memilih menyembunyikan kelulusan di Kedokteran. Orangtuanya tidak berkata apa-apa lagi. Mereka membiayai Otto Sugiri di Teknik Elektro.
Tidak lama setelah menamatkan kuliahnya di tingkat sarjana muda, dia melanjutkan ke jenjang magister Teknik Komputer. Dia lulus, dengan tantangan, dunia belum begitu mengenal komputer.
Otto Toto Sugiri bercita-cita pulang ke Indonesia. Tapi tidak dalam waktu dekat setelah lulus. Dia ingin bekerja lebih lama di Jerman. Tapi tiba-tiba ia dapat kabar ibunya sakit. dia memutuskan pulang.
Otto Toto Sugiri dan Indonesia yang “Belum Mengenal Komputer”
Tahun 1081-1983, secara umum perusahaan di Indonesia belum menggunakan komputer. Pekerjaan bisnis masih dilakukan secara manusia. Jadi secara langsung, belum ada yang membutuhkan keahlian Toto Sugiri.
Di perguruan tinggi di Indonesia, rintisan jurusan Teknik Komputer telah ada di Institut Teknologi Bandung (ITB). Nama awalnya Teknik Informasi. Tahun 1978 dirikan program Diploma Jurusan Ahli Teknik Jurusan Penggunaan Komputer. Baru pada tahun 1986 Jurusan Teknik Komputer berdiri di ITB.sehingga menjadi jurusan tertua di Indonesia untuk teknik komputer.
Masih dalam tahun 1978, pihak swasta mendirikan Institut Ilmu Komputer (IIK) yang kini dikenal sebagai STMIK Jakarta STI&K.
Baca juga: Forbes Rilis 50 Orang Terkaya di Indonesia pada 2025, Ada Taipan Sawit
Di Jakarta pada tahun 1986 Universitas Indonesia mendirikan Pendidikan Ilmu Komputer di bawah Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom). Pada tahun 1993 UI mendirikan Fakultas Ilmu Komputer.
Bayangkan saat Otto Toto Sugiri tiba di Tanah Air pada 1981. Berstatus Ahli Teknik Komputer dengans spesifikasi programmer. Apa dia tidak kelimpungan mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya?
Saat itu institusi militer tingkat Pusat dan sejumlah BUMN sudah menggunakan komputer, tapi jumlahnya sangat terbatas.
Otto Toto Sugiri dengan keahliannya itu, seperti masuk ke sebuah labirin. Pendidikannya telah melampaui zaman di negaranya. Sesuatu yang ia pelajari, belum dikenal luas di Republik Indonesia.
Titik Balik Kehidupan
Di tengah kelucuan yang ia hadapi, seorang seniornya yang juga lulusan Jerman menghubungi Otto. Sang teman menawarinya bergabung dalam proyek pembuatan software memfasilitasi kredit untuk nelayan. Satu proyek lagi yaitu pembuatan sistem untuk sebuah perusahaan minyak. Dari sana petualangan dimulai.
Pada tahun 1983, Djaja Ramli, pemilik Bank Bali, yang juga masih berkerabat dengan ayahnya, mengajak Otto bergabung ke dalam skuad Bank Bali. Otto tertarik setelah dibujuk akan dibelikan komputer besar. Dia tertarik dan kemudian bergabung sebagai General Manager IT.
Bersama tim, Otto merancang software perbankan. Sebuah terobosan yang kemudian membuat pekerjaan perbankan lebih ringan. Berkat software tersebut, pegawai yang biasa baru pulang kerja pukul 21.00 hingga pukul 23.00 waktu Bali, ternyata bisa pulang pukul lima sore. Berkat software tersebut, pekerjaan bisa lebih cepat diselesaikan.
Selama empat tahun pertama bekerja di Bank Bali, Otto semakin tekun memperkuat skillnya. Dia mendalami, kemudian melihat peluang, dan membaca kondisi perkembangan teknologi informasi.
Tahun 1989 dia pamit dari Bank Bali. Bersama teman-temannya, Otto mendirikan Sigma, sebuah perusahaan penyedia jasa pembuatan software yang dibisa digunakan oleh perusahaan.
Ia cukup nekat ketika keluar dari Bank Bali. Modal mendirikan perusahaan juga sangat kecil. Kemampuan keuangan hanya bisa untuk 10 bulan bertahan. Tapi keputusan telah dibuat secara matang. Segala risiko dihadapi.
Jalan hidup tidak ada yang menduga. Berkat keberanian yang ditopang keahlian di bidangnya, tidak lama setelah Sigma didirikan, mereka mendapatkan pekerjaan membangun software beberapa bank.
Bill Gates Indonesia
Siapa yang tidak tahu Otto Toto Sugiri? Semua orang yang bergerak di bidang komputer pasti tahu namanya. Apalagi yang khusus pada urusan software.
Siapa tidak kenal PT Sigma Cipta Caraka, PT indointernet (Indonet) dan PT DCI Indonesia.
Tahun 2008, Sigma diakuisisi oleh PT Telkom Indonesia (Persero) hingga 80 persen. Otto melepaskan saham mayoritas karena sebuah strategi bisnis. Akuisisi saham tersebut melambungkan namanya di industri teknologi informatika di Indonesia.
Tahun 2011, setelah menjalani masa pensiun singkat, dia mendirikan perusahaan pusat data yang dalam tempo singkat menjadi perusahaan pusat data terkemuka di Indonesia. Pada tahun 2021, PT DCI Indonesia resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dengan kode DCII.
Saat ini PT DCI Indonesia merupakan lembaga bisnis terkemuka yang bersertifikat Tier IV Design, Constructed Facility dan Operations dari Uptime Institute.
Tahun 2025, Majalah Forbes memasukkan Otto Toto Sugiri sebagai orang kaya di peringkat kelima di Indonesia. Total kekayaannya mencapai US$12,3 miliar. Bila dikonversi ke rupiah sesuai kurs 26 Juli 2026, total kekayaannya Rp224,4 triliun.
Perjalanannya tidak berliku. Keberaniannya menembus batas waktu, serta kemampuannya membuat keputusan besar, yang membuat Otto Sugiri menjadi pengusaha besar di bidang data center di Indonesia.
Sumber: detik, Forbes, marketsceener, PTDCI, RCTIPlus, gemwayasset.
