Home Ekonomi Rupiah Kembali Loyo, Tembus 17.630 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah Kembali Loyo, Tembus 17.630 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah Kembali Loyo, Tembus Rp17.630 per Dolar AS Pagi Ini
Ilustrasi. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Jakarta— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) dan menyentuh posisi terendah sepanjang sejarah.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah tergerus 0,6 persen ke level Rp17.570 per dolar AS. Tidak lama kemudian, pelemahan berlanjut hingga menyentuh Rp17.630 per dolar AS atau melemah sekitar 0,83 persen.

Rupiah tercatat melemah 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan eksternal dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.

Bloomberg melaporkan, salah satu sentimen utama yang menekan rupiah berasal dari kenaikan harga minyak dunia yang kembali melonjak hingga US$111,24 per barel. Kenaikan harga minyak dipicu oleh langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menekan Iran untuk mencapai kesepakatan terkait isu geopolitik.

Lonjakan harga minyak dinilai memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Sejumlah mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati kondisi ekonomi domestik yang dinilai belum sepenuhnya solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sebesar 5,61 persen belum diikuti oleh penguatan sejumlah indikator konsumsi masyarakat.

Baca juga: Dolar AS Menggila, Rupiah Jatuh ke Level Terendah Lagi!

Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Indeks Penjualan Ritel (IPR) disebut belum menunjukkan pergerakan yang positif. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap daya tahan konsumsi domestik di tengah tekanan global.

Pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama akibat proyeksi membengkaknya subsidi energi seiring kenaikan harga minyak dunia. Di sisi lain, penerimaan negara dinilai belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja pemerintah yang agresif.

Tekanan di pasar obligasi juga dinilai sejalan dengan depresiasi rupiah di pasar luar negeri dan berpotensi menyeret nilai tukar rupiah di pasar spot ke kisaran Rp17.450 hingga Rp17.650 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga terjadi seiring dengan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona merah terhadap dolar AS. Yuan China tercatat melemah 0,04 persen, peso Filipina turun 0,02 persen, dan baht Thailand terkoreksi 0,16 persen.

Sementara itu, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,52 persen, dolar Singapura melemah 0,05 persen, yen Jepang turun 0,11 persen, dan won Korea Selatan terkoreksi 0,46 persen.

Previous articlePemerintah Aceh Buka Beasiswa S3 ke Timur Tengah
Next articleGubernur Aceh Cabut Pergub JKA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here