Komparatif.ID, Khanduri merupakan tradisi yang telah berlangsung selama puluhan, bahkan ratusan tahun di Aceh. Tradisi Khanduri masih berkembang hingga saat ini, terutama di gampong-gampong.
Pada umumnya, khanduri merupakan mekanisme sosial yang dilakukan untuk melestarikan dan menjaga hubungan kebersamaan sehingga hal-hal yang diinginkan dapat tercapai secara bersama-sama.
Di sisi lain, pelaksanaannya dilakukan secara sukarela. Masyarakat dapat belajar tentang diri mereka sendiri melalui budaya lokal, yang kemudian diakui sebagai bagian dari kebudayaan Aceh.
Asal Muasal Tradisi Khanduri
Khanduri pada awalnya merupakan acara selamatan atau syukuran, yakni berdoa bersama yang dihadiri oleh para tetangga dan dipimpin oleh pemuka adat atau tokoh yang dituakan di lingkungan tersebut.
Khanduri juga merupakan acara berkumpul yang pada umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki dengan tujuan memohon kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan oleh penyelenggara.
Penyelenggara mengundang masyarakat sekitar untuk hadir dalam acara tersebut. Hingga saat ini, khanduri masih banyak dilaksanakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Hal ini karena khanduri merupakan mekanisme sosial untuk menjaga keutuhan masyarakat.
Aspek yang paling penting dari ritual selamatan ini adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh seseorang yang dikenal sebagai tengku atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan luas tentang Islam.
Ada beragam jenis khanduri, antara lain kenduri blang, kenduri laot, khanduri uteun, kenduri bungong kayee, kenduri apam, kenduri jeurat, kenduri maulid, kenduri tulak bala, dan sebagainya.
Ketika akan melaksanakan khanduri, sejumlah warga mempersiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan. Acara khanduri biasanya dihadiri oleh banyak orang, baik penduduk setempat, warga desa terdekat, maupun anak-anak yatim piatu.
Khanduri juga merupakan alat kontrol sosial yang mampu menyatukan masyarakat dan memperkuat persatuan. Tujuannya bukan hanya untuk memenuhi kepentingan bersama, tetapi juga mempererat hubungan antarindividu yang terlibat dalam acara atau tradisi tersebut. Dalam sebuah khanduri, tercipta suasana damai dan kerukunan antarsesama.
Dengan demikian, tradisi khanduri pada umumnya merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Yang Maha Esa. Tradisi ini juga memiliki nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat mempererat tali silaturahmi dan menciptakan kerukunan di antara warga.
Khanduri Uten
Tradisi Khanduri Uteun di Aceh telah lama dipraktikkan. Khanduri Uteun merupakan tradisi adat dan budaya yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Kegiatan ini dapat meningkatkan persatuan dan kesatuan serta mempererat silaturahmi antarmasyarakat.
Kegiatan Khanduri Uteun telah lama menjadi tradisi turun-temurun yang digelar di kawasan pegunungan atau hutan, masjid, maupun musala di masing-masing daerah.
Khanduri Uteun dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah Swt. sekaligus untuk memohon keberkahan bagi tanaman yang telah memberikan hasil dan manfaat kepada masyarakat. Hasil panen yang diperoleh merupakan bagian dari rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Khanduri Uteun dilaksanakan di berbagai wilayah Aceh. Di Kecamatan Blangpidie, khususnya Gampong Mata Ie, tradisi ini bahkan dilakukan secara serentak bersama sejumlah wilayah lainnya pada bulan yang sama. Tradisi tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sejarah Khanduri Uteun
Khanduri Uteun telah ada sejak zaman nenek moyang terdahulu. Pada awalnya, masyarakat melaksanakan berbagai bentuk khanduri yang telah lama dilakukan oleh para leluhur. Tradisi tersebut terus berkembang dari tahun ke tahun hingga saat ini.
Khanduri Uteun merupakan khanduri yang dilaksanakan untuk memperingati atau menyambut datangnya bulan Jumadil Akhir. Tradisi ini dilakukan karena pada bulan tersebut tiba masa ketika pepohonan yang menghasilkan buah mulai berbunga.
Khanduri Uteun dilaksanakan untuk tanaman yang dapat menghasilkan buah-buahan serta memberikan rezeki bagi masyarakat. Pohon-pohon tersebut antara lain pohon pala, rambutan, mangga, durian, kuini, jengkol, langsat, dan sebagainya.
Panglima Uteun, Salman, menjelaskan ketika bulan tersebut tiba, pepohonan atau tanaman mulai menghasilkan banyak bunga. Masyarakat setempat khawatir bunga-bunga tersebut akan rontok dan layu sebelum menghasilkan buah.
Kerusakan bunga dapat disebabkan oleh angin maupun gangguan hewan, seperti tupai, kelelawar, burung, dan monyet, serta hama dan penyakit lainnya.
Oleh karena itu, masyarakat melaksanakan Khanduri Uteun sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. Mereka juga berharap agar bunga-bunga pada pepohonan dapat bertahan hingga menghasilkan buah yang melimpah.
Baca juga: Khanduri Budaya Lamteuba, Merawat Eksotisnya Pinggang Seulawah
Selain itu, pelaksanaan tradisi ini bertujuan untuk menjaga budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun agar tidak hilang, sekaligus memastikan warisan Khanduri Uteun tetap terjaga dan dilestarikan.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat yang tinggal di Gampong Mata Ie biasanya menggelar Khanduri Uteun di kawasan pegunungan atau di lahan pegunungan milik salah seorang warga.
Lokasi pelaksanaan dimusyawarahkan dan disepakati bersama. Masyarakat akan menentukan apakah khanduri dilaksanakan di lahan milik warga A atau warga B. Setelah disepakati bersama, lahan tersebut dapat digunakan sebagai lokasi pelaksanaan Khanduri Uteun oleh masyarakat Gampong Mata Ie.
Kesimpulan
Melalui kegiatan Khanduri Uteun, generasi muda diajarkan tentang pentingnya menjaga lingkungan sejak dini. Mereka perlu belajar menghargai dan merawat alam sebagai bagian dari kehidupan.
Selain itu, generasi muda juga diperkenalkan pada nilai-nilai budaya dan tradisi yang harus dipertahankan serta dilestarikan agar warisan budaya tersebut tidak hilang ditelan zaman.
Perkembangan zaman yang semakin modern membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menyebabkan tradisi atau budaya perlahan-lahan menghilang akibat perubahan sosial, budaya, dan teknologi.
Oleh karena itu, masyarakat setempat, khususnya para orang tua di gampong, perlu menjaga dan terus memperkenalkan tradisi khanduri kepada generasi muda sebagai penerus bangsa.
Salah satu caranya adalah dengan mengajak generasi muda berpartisipasi dalam pelaksanaan Khanduri Uteun serta mendokumentasikan kegiatan tersebut agar tetap dikenal dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
