Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026. Semasa hidupnya, putra bungsu Bung Karno tersebut merupakan salah seorang maestro seni multiguna.
Komparatif.ID, Jakarta— Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra (Guruh Soekarnoputra) meninggal dunia di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Ia menutup mata pada pukul 04.16 WIB. Kabar tentang Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pertama kali diumumkan oleh Sekjen DPP Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto.
Indonesia berduka. Salah satu saksi sejarah tentang kehidupan Bung Karno telah berpulang. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Soekarno-Fatmawati. Ia lahir pada 13 Januari 1953.
Sebagai keturunan langsung Bung Karno, ia konsisten berpolitik di Partai Demokrasi Indonesia yang kemudian bertransformasi menjadi PDI-P. partai ini merupakan garis langsung dari marhaenisme yang menjadi ideologi Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Bung Karno.
Selama hidupnya Guruh Soekarnoputra pernah duduk di DPR RI selama enam periode. Di era Orde Baru dia duduk di DPR RI mewakili PDI pada masa kerja 1992-1997. Kemudian melanjutkan karir politiknya di PDI Perjuangan selama lima periode, 1999 hingga 2024. Seluruh masa kerjanya di DPR RI bersama PDIP, dia mewakili dapil Jawa Timur.
Menurut Sekjen PDI Perjuangan Hasto Krisdiyanto, Guruh Soekarnoputra merupakan sosok penting di partai yang dibesut oleh Megawati Soekarnoputri tersebut. Kepergiaan Guruh merupakan kekosongan besar bagi partai berlogo banteng moncong putih itu.
Baca juga: Tokoh Pers Aceh dan Pendiri Serambi Indonesia, H. Sjamsul Kahar, Meninggal Dunia
Guruh Soekarno Putra Meninggal Dunia Karena Sakit
Didi Mahardika, keponakan Guruh Soekarnoputra menyampaikan kondisi kesehatan sang maestro seni multiguna tersebut telah mengalami kemunduran sejak beberapa waktu terakhir.
Penerima Penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) tersebut sempat dirawat di RS Medistra Jakarta selama empat minggu. Di rumah sakit tersebut kondisi kesehatan Guruh sempat membaik.
Trend pemulihannya menunjukkan grafik membaik. Akan tetapi kemudian merosot lagi, hingga tim medis merujuk anak bungsu Fatmawati tersebut dirujuk ke RS MRCCC Siloam Semanggi demi mendapatkan penanganan yang lebih spesifik dan intensif.
Selama dua pekan terakhir di ruang perawatan intensif, Guruh berada dalam kondisi kritis di bawah pengawasan ketat tim medis.Mengingat status almarhum sebagai budayawan besar dan tokoh sejarah nasional, perkembangan kesehatannya bahkan mendapatkan atensi khusus langsung dari jajaran Pemerintah Pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto yang sempat memantau penanganan medis almarhum saat masa kritis.
Meskipun hingga saat ini pihak keluarga memilih untuk menjaga privasi mengenai diagnosis medis definitif demi menghormati almarhum, publik mengetahui bahwa perjuangan Guruh melawan penyakitnya telah berjalan dengan sangat gigih.
Masa Kecil Guruh Soekarnoputra
Tumbuh dalam keluarga yang sangat mencintai seni, serta menjadi putra Presiden, masa kecil Guruh sudah dekat dengan dunia kesenian. Di istana yang lekat dengan nuansa seni, ia tumbuh. Ia belajar dunia kesenian dengan sangat tekun. Guruh belajar tarian tradisional mulai tari Jawa, Sunda, hingga Bali.
Di bidang pendidikan formal, ia bersekolah di Perguruan Cikini dari SD hingga SMP. Kemudian melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 25 Jakarta. Dia menimba ilmu di SMA itu sepanjang 1966 hingga 1970.
Setelah lulus SMA, Guruh Soekarnoputra melanjutkan pendidikan ke Universitas Amsterdam, Belanda. Di sana dia kuliah di jurusan antropologi. Tapi studinya itu tidak selesai. Setelah sekian lama melanglang, ia kuliah lagi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) tahun 2005-2008 dan meraih gelar Sarjana Administrasi Publik (S.A.P.).
Merasa pendidikannya belum cukup, ia kuliah lagi jenjang magister. Guruh meraih gelar Magister Manajemen (M.M.) Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia tahun 2010. Tahun 2012 ia meraih gelar Magister Sains (M.Si.) Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Ilmu Administrasi Publik.
Mengubah Landscape Musik Indonesia
Ketekunan, pengetahuan, dan bakat. Dia memiliki ketiganya di bidang musik. Berkat kombinasi tersebut, membuat Guruh mampu melakukan revolusi besar pada landscape musik Indonesia.
Kita semua tentu masih ingat kolaborasinya dengan allahyarham Chrisye, Keenan Nasution, dan Abadi Soesman. Mereka berkolaborasi melahirkan kelompok musik eksperimental legendaris bernama Guruh Gipsy pada dekade 1970-an. Album mereka yang dirilis pada tahun 1977 menjadi cetak biru (blueprint) musik progresif Indonesia.
Music progresif yang berhasil mengawinkan kompleksitas instrumen musik modern Barat dengan magisnya gamelan tradisional Bali.
Tidak berhenti di sana, dedikasi Guruh tertuang nyata melalui pembentukan wadah kesenian legendaris Swara Mahardhika pada tahun 1977, yang kemudian berevolusi menjadi GSP (Gencar Semarak Perkasa) Production.
Lewat institusi ini, ia mendidik ribuan pemuda-pemudi Indonesia mencintai seni tari dan musik pertunjukan. Karya lagu ciptaan Guruh seperti “Kala Sang Surya Tenggelam”, “Melati Suci”, “Zamrud Khatulistiwa”, dan “Galih dan Ratna” telah diakui sebagai warisan abadi kebudayaan Indonesia.
Atas kontribusi besarnya, pemerintah Prancis menganugerahinya penghargaan bergengsi Chevalier de L’Ordre des Arts et des Lettres pada tahun 1991.
Kini ia telah kembali ke haribaan Ilahi. Meninggalkan rekam jejak sejarah untuk dunia musik dan politik. Guruh, sang penjaga ideologi marhaenisme, putra bungsu dari Sang Proklamator Indonesia.
