Monday, 19 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Daerah

8 Dekade Muara Kukue Tersumbat, Petambak Masih Andalkan Cangkul

8 Dekade Muara Kukue Tersumbat Pasir, Petambak Masih Andalkan Cangkul
Warga sedang bekerja membersihkan tumpukan pasir di muara Kukue menggunakan cangkul dan mesin pompa air. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Bireuen— Muara Dusun Kerambil Tiga, Gampong Kukue, Mukim Blang Birah, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, telah lama menghadapi persoalan penyumbatan akibat tumpukan pasir laut. Kondisi tersebut membuat petambak dan warga setempat masih harus mengandalkan gotong royong menggunakan cangkul untuk membuka aliran air di muara.

Penyumbatan muara disebut telah berlangsung selama puluhan tahun. Salah satu penyebabnya adalah gelombang pasang air laut serta tidak lancarnya distribusi air tawar dari sejumlah saluran pembuangan di kawasan tersebut.

Aliran air yang masuk ke kawasan muara antara lain berasal dari Gampong Meunasah Alue, buangan air Bendung Paya Kameh Blang Rangkuluh Mukim Blang Birah, serta Jembatan Alue Awe Gampong Pulo, Mukim Krueng.

Muntasir, Peutuha Tuha Peut Gampong Kukue sekaligus petambak, mengatakan kondisi tersebut membuat para petambak di sejumlah gampong harus rutin melakukan gotong royong untuk membuka kembali aliran muara.

Petambak dari Gampong Kukue, Meunasah Blang, Matang Pasi, Matang Reuleut, hingga Gampong Baro disebut secara rutin terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Keluhan ini rutin kami sampaikan saat Musrenbang di kecamatan hingga ke kabupaten, bahkan anggota DPR RI dan DPRK telah juga melakukan kunjungan, namun belum terbantu,” ujar Muntasir, Minggu (18/10/2026).

Menurutnya, gotong royong tidak hanya dilakukan pada siang hari. Ketika hujan turun dan air mulai menggenangi kawasan tambak, warga harus segera membuka aliran muara. Jika tidak dilakukan, air dapat menggenangi tambak dan kawasan permukiman warga.

Bahkan, genangan air disebut dapat mencapai ketinggian hingga dua meter dan berdampak hingga radius sekitar satu kilometer. Genangan tersebut dapat mencapai kawasan Meunasah Gampong Kukue hingga Gampong Matang Reuleut.

Baca juga: 3 Muara Baru Belum Ditimbun, Warga Matang Pasi Khawatir Banjir Rob

Kondisi serupa juga pernah berdampak pada kawasan Dusun Blang Leubok. Menurut Muntasir, kawasan tersebut dahulu menjadi tempat berdirinya puluhan rumah warga. Namun, karena kondisi lingkungan yang tidak lagi mendukung, warga kemudian berpindah ke Dusun Tgk Teumeureu yang berada di arah selatan gampong.

Muntasir berharap persoalan muara tersebut mendapat perhatian melalui program pembangunan dan ketahanan pangan. Menurutnya, keberadaan muara memiliki kaitan langsung dengan kehidupan ratusan petambak dan petani di kawasan tersebut.

“Kami berharap program ketahanan pangan akan segera terealisasi, karena terdapat ratusan petambak dan petani sawah menggantung nasibnya di Kuala Kukue,” tutup Muntasir.

 

Selain berdampak terhadap petambak, kondisi muara juga turut mengubah aktivitas nelayan di Gampong Kukue. Pada era 1990-an, mayoritas kepala keluarga di kawasan tersebut disebut berprofesi sebagai nelayan.

Suhendri mengatakan, pada masa itu hampir setiap kepala keluarga memiliki satu unit perahu yang digunakan untuk mencari nafkah. Aktivitas nelayan juga membuat warga sekitar dapat memperoleh ikan dengan membantu mendorong perahu dari bibir pantai.

“Pada era 90-an seluruh kepala keluarga memiliki satu unit perahu untuk mencari nafkah kepada keluarganya, namun profesi tersebut perlahan hilang akibat pesisir pantai dangkal,” ujar Suhendri.

Bibir pantai tempat pendaratan ikan di Gampong Kukue, Mukim Blang Birah, yang digunakan di era 1990. Foto: HO for Komparatif.ID.
Bibir pantai tempat pendaratan ikan di Gampong Kukue, Mukim Blang Birah, yang digunakan di era 1990. Foto: HO for Komparatif.ID.

Menurutnya, warga yang membantu para nelayan mendorong perahu ke daratan juga sering mendapatkan bagian ikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu bentuk hubungan sosial antara nelayan dengan warga di sekitar tempat pendaratan ikan.

“Kami ikut kebagian rezeki dari para nelayan, sehingga kebutuhan ikan di rumah tidak lagi mengeluarkan biaya. Biaya yang ada bisa membantu belanja sembako lainnya,” katanya.

Namun, seiring bertambahnya tumpukan pasir di kawasan pesisir, aktivitas nelayan semakin sulit. Perahu yang sebelumnya dapat ditambatkan di kawasan tersebut akhirnya harus ditempatkan langsung di bibir pantai.

Suhendri mengatakan, kondisi itu juga menimbulkan risiko bagi perahu nelayan. Saat nelayan pulang melaut pada dini hari, tidak jarang perahu mereka telah terbawa gelombang pasang.

Akibat kondisi tersebut, sebagian nelayan kemudian memindahkan lokasi penambatan perahu ke kawasan Gampong Matang Pasi, Mukim Krueng, Kecamatan Peudada. Lokasi tersebut berjarak sekitar satu kilometer dari kawasan Kukue.

Perubahan lokasi pendaratan itu berlangsung secara bertahap hingga sebagian warga akhirnya menjual perahu mereka. Aktivitas nelayan yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Kukue pun perlahan berkurang.

“Di Matang Pasi masih banyak warga yang membantu mendorong perahu ke darat karena di sana masih banyak perahu nelayan singgah,” tutup Hendri.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *