Komparatif.ID, Bireuen— Pemerintah Kabupaten Bireuen memastikan pelayanan pendidikan di seluruh wilayah yang terdampak banjir dan tanah longsor kembali berjalan normal.
Setelah melalui masa darurat dan pemulihan awal, proses belajar mengajar di sekolah-sekolah terdampak kini kembali dilaksanakan secara tatap muka sejak 5 Januari 2026 lalu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, Muslim, menyampaikan seluruh satuan pendidikan yang sebelumnya sempat terganggu akibat bencana telah mulai beroperasi kembali.
Ia menjelaskan pihaknya bergerak cepat melakukan pendataan terhadap sekolah-sekolah terdampak, membersihkan ruang belajar, serta menyiapkan langkah-langkah darurat agar kegiatan pendidikan tidak terhenti dalam waktu lama.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, bencana banjir dan tanah longsor berdampak pada ratusan satuan pendidikan. Tercatat sebanyak 132 unit Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman Kanak-kanak terdampak, disusul 52 unit Sekolah Dasar dan 24 unit Sekolah Menengah Pertama.
Baca juga: Pemkab Bireuen Target Rehabilitasi Sawah Rusak Selesai Sebelum April
Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari genangan lumpur di ruang kelas hingga kerusakan fasilitas penunjang pembelajaran.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Pendidikan telah melakukan pembersihan lingkungan sekolah, menyalurkan bantuan perlengkapan belajar, serta melakukan perbaikan ringan terhadap fasilitas yang rusak.
Untuk sekolah dengan tingkat kerusakan parah, kegiatan belajar mengajar sementara diarahkan menggunakan fasilitas meunasah desa dan tenda darurat agar siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran.
Bupati Bireuen, Mukhlis, ST, menegaskan sektor pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana.
Ia menekankan anak-anak tidak boleh kehilangan hak atas pendidikan akibat bencana alam. Pemkab, menurutnya, berkomitmen memastikan proses pendidikan tetap berjalan sembari melakukan pemulihan terhadap fasilitas sekolah terdampak.
Selain pemulihan fisik, Pemkab juga memberikan perhatian pada kondisi psikologis peserta didik dan tenaga pendidik. Pendampingan berupa trauma healing difasilitasi oleh guru, relawan, dan pihak terkait guna membantu siswa kembali bersemangat dan beradaptasi dengan suasana belajar pascabencana.
Pemkab Bireuen juga terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat untuk memperoleh dukungan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah-sekolah terdampak.
Selain itu, Pemkab Bireuen telah mengirimkan data Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana atau Jitupasna sektor pendidikan kepada Pemerintah Aceh untuk diteruskan ke pemerintah pusat sebagai dasar dukungan lanjutan.













