Komparatif.ID, Jakarta— Berdasarkan pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024, zona Aceh—Andaman disebut memiliki potensi gempa hingga magnitudo 9,2.
Melansir CNBCIndonesia, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sekaligus Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Iswandi Imran, mengatakan berdasarkan pembaruan data terbaru terdapat peningkatan bahaya gempa dan jumlah zona megathrust dari sebelumnya 13 menjadi 14 zona rawan di sejumlah wilayah.
Iswandi menjelaskan perbandingan peta tahun 2017 dan 2024 menunjukkan kontur bahaya gempa yang semakin rapat pada peta terbaru.
“Antara yang sebelumnya 2017 dengan 2024 yang paling atas ya kalau kita lihat kontur lebih rapat ya yang pada 2024 yang mengindikasikan sebenarnya adanya peningkatan bahaya gempa di daerah-daerah tertentu di Indonesia,” ujarnya mengutip CNBCIndonesia, Minggu (18/1/2026)
Kondisi itu mengindikasikan meningkatnya potensi ancaman gempa di beberapa kawasan Indonesia. Penjelasan tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terkini terhadap ketahanan infrastruktur.
Peta terbaru mencatat sejumlah zona megathrust dengan potensi gempa berkekuatan besar. Zona Jawa tercatat berpotensi mencapai magnitudo maksimal 9,1.
Baca juga: Kapan Tsunami Selanjutnya Menerjang?
Beberapa zona lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,9. Selain itu, terdapat pula zona rawan di Nias-Simeulue, Batu, Sumba, Sulawesi Utara, Palung Cotobato, serta wilayah Filipina Selatan dan Filipina Tengah.
Sebelumnya, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengingatkan gempa besar dari dua zona megathrust tinggal menunggu waktu, yakni Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Kedua zona tersebut tergolong seismic gap karena sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi gempa besar. Pada 7 Mei 2025, gempa berkekuatan magnitudo 5,2 yang mengguncang Nias Barat disebut berkaitan dengan aktivitas Megathrust Mentawai-Siberut.
Daryono menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia dengan mekanisme pergerakan naik.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menyebut kawasan selatan Jawa Barat hingga Selat Sunda menyimpan energi besar yang terus terkunci.
Jika dilepaskan secara bersamaan, potensi gempa bisa mencapai magnitudo 8,7 dan memicu tsunami. Berdasarkan perhitungannya, tsunami setinggi hingga 20 meter berpotensi terjadi apabila megathrust di wilayah Pangandaran pecah, dengan dampak ke pesisir Banten, Lampung, hingga Jakarta.












