3 Tips Konsumsi Herbal, Kalau Ngasal Bahaya!

3 Tips Konsumsi Herbal, Kalau Ngasal Bahaya!
Ilustrasi. Foto: HO for Komparatif.ID.

Banyak praktisi kesehatan tradisional menganjurkan kita konsumsi herbal, demi menjaga supaya zat kimia tidak menumpuk di dalam tubuh.
Ritual konsumsi herbal merupakan gaya hidup masa lalu yang dipraktekkan oleh nenek moyang kita.

Konsumsi herbal telah dilakukan turun temurun, untuk merawat kesehatan, jauh sebelum dunia kedokteran modern dikenal di tengah masyarakat.

Andi Permana, seorang praktisi farmasi mengingatkan, meskipun mengonsumsi herbal merupakan tradisi turun temurun, tapi banyak yang tidak paham cara menyeduh, mengonsumsi, dan menyimpannya.

Banyak terdapat kekeliruan dalam konsumsi herbal, sehingga bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Permana Andi menjelaskan meminum air rebusan daun (herbal) merupakan budaya kita. Seperti rebusan daun sirsak, kumis kucing, sampai bajakah. Menurut kepercayaan yang turun temurun, minuman herbal aman, tidak mengandung zat kimia.

Permana Andi menjelaskan kekeliruan pemahaman tersebut. Segala yang ada di bumi adalah kimia. Herbal aman dikonsumsi jika Anda mematuhi protokolnya.

Bila kamu asal rebus, kamu sedang memasak sup racun untuk ginjalmu.

Permana Andi menerangkan, kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh pelaku konsumsi herbal.

Pertama, merebus jamu menggunakan panci aluminium. Ini sangat berbahaya. Mengapa?
Zat aktif dalam herbal seperti alkaloid, flavonoid, dan asam,itu keras. Saat mendidih, zat-zat tersebut bereaksi dengan logam aluminium.

Logamnya larut masuk ke dalam air rebusan. Niatnya hendak minum obat herbal, malam minum heavy metal (logam berat). Bahayanya, Alzheimer dan ginjal rusak.

Merebus herbal paling aman menggunakan kendi tanah liat. Itu yang terbaik. Tanah liat itu netral dan stabil terhadap panas. Bila kendi tanah liat tidak ada, gunakan panci stainless steel, atau kendi dari kaca.

Kedua, merebus herbal dalam jumlah banyak untuk konsumsi lebih dari 12 jam. Ini sangat berbahaya. Meskipun kamu menyimpannya di dalam kulkas.

Rebusan herbal tidak menggunakan pengawet. Air plus sari pati tanaman sama dengan pesta pora bakteri.

Bila disimpan di dalam suhu ruang, dalam hitungan jam, bakteri sudah berjoget-joget ria dalam pesta pora. Mungkin rasanya belum berubah, belum basi, tapi isinya sudah penuh mikroba.

Selain itu, zak aktifnya gampang teroksidasi akibat terpapar udara.

Cara paling aman, masak/rebus untuk sekali minum. Maksimal penyimpanan untuk 12 jam di dalam kulkas dan wadahnya tertutup. Lebih dari 24 jam, buang. Itu bukan lagi herbal, tapi air comberan.

Ketiga, ada yang mengira makin pekat makin mantap. Salah besar!

Baca juga: Aneurisma Aorta Abdominal: Pelebaran Pembuluh Darah Besar di Perut, Bisa Berakibat Fatal

Banyak yang mengira herbal yang bagus dan berkhasiat tinggi merupakan yang pekat. Makin pekat makin baik. Bila semakin hitam, khasiatnya sangat tinggi.

Pemahaman tersebut salah. Pemahaman makin banyak, makin pekat makin bagus, sangat keliru.

Contohnya kumis kucing. Sangat bagus untuk kencing batu. Tapi bila kamu minum terlalu pekat dan terlalu lama, sifat diuretiknya malah bikin ginjalmu kerja paksa sampai kering dan iritasi.

Daun sirsak. Kalau overdosis bisa membunuh bakteri baik di usus. Kamu akan mengalami diare parah.

Makanya, ikuti takaran umum saja. misal 3-5 lembar daun untuk dua gelas air, direbus jadi satu gelas. Jangan bikin espresso herbal.

Ingat, konsumsi herbal bagus untuk kesehatan. Tapi herbal bukan nasi yang harus dimakan setiap hari.

Banyak herbal mengandung senyawa yang menumpuk di tubuh. Contoh, ginseng. Bila diminum terus menerus selama setahun, bisa menaikkan tensi.

Gunakan sistem jeda. Minum rutin dua minggu, stop satu minggu. Berikan kesempatan liver dan ginjalmu beristirahat (bila racun).

Intinya, kalau keluhan hilang, ya segera stop. Jangan diteruskan dengan alasan sayang terbuang; mubazir.

Hentikan Konsumsi Herbal

Harus dicatat, bila kreatinin mu sudah tinggi –ginjal bermasalah/gagal ginjal—stop konsumi rebusan herbal.

Mengapa? Karena ginjal yang rusak saringannya sudah jebol. Dia tidak bisa lagi memilah ampas-ampas mirokopik dari rebusan herbal. Ampas akan menyumbat saringan yang tersisa.

Pasien cuci darah yang nekat minum herbal biasanya berakhir di UGD dengan sesak nafas karena cairan menumpuk.

Sebaiknya konsultasi dengan dokter, supaya sisa ginjalmu tidak jadi bahan percobaan.
Harus kamu catat, herbal adalah anugerah Tuhan. Tapi Tuhan juga memberikan manusia akal untuk mengolahnya.

Rebusan herbal aman jika: panci rebusannya kendi tanah liat/stainless steel, kaca. Sekali masak sekali minum. Tidak overdosis (pekat). Tahu kapan harus berhenti.

Artikel SebelumnyaBener Meriah Diguncang 4 Kali Gempa dalam Satu Malam
Artikel SelanjutnyaKeuchik Cot Geureudong Jeumpa Gratiskan LPG 3 Kg untuk Warga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here