Selasa, 26 Agustus 2025, di Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunib, panitia menggelar haul pertama untuk mengenang satu tahun wafatnya Tu Sop. Saya turut mendapatkan undangan, tapi tak bisa pulang ke sana, karena satu dan lain hal.
Wafatnya Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab pada Sabtu, 7 September 2024 mengguncang publik Aceh. Saat itu Ayah Sop sedang mengikuti konstelasi Pilkada Aceh. Mendampingi Bustami Hamzah dalam mengarungi bahtera Pilkada Aceh.
Sejak saya mengenal dunia, belum pernah saya saksikan, publik begitu merasa sangat kehilangan ketika seorang tokoh meninggal dunia. Tapi ketika Tu Sop wafat, seluruh Aceh berduka. Jenazahnya disalatkan di berbagai tempat.
Di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Sabtu malam, jenazahnya dinanti oleh ribuan jamaah. Jenazah sang ulama disalatkan oleh jamaah yang penuh sesak hingga ke luar bangunan masjid.
Iring-iringan jenazah ditunggu di sepanjang jalan, mulai Banda Aceh hingga Jeunib. Sang ulama juga disinggahkan ke Dayah Kuta Krueng, ke Dayah Mudi Mesra, hingga kemudian disemayamkan di Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunib, tempat allahyarham mengabdikan hidupnya untuk umat dan bangsa.
Semasa hidupnya, Ayah Sop merupakan ulama yang dekat dengan semua kalangan. Dia berteman dengan kaum nasionalis, tradisionalis, agamis, dan lain-lain. Beliau dekat dengan anak muda, kaum ibu, fakir miskin, orang kaya, politisi, tentara, polisi, dan semuanya.
Baca juga: Tu Sop Seorang Wali Allah
Pintu gerbang Dayah Babussalam Al Aziziyah tidak pernah tertutup. Begitu juga ruang tempat ia biasanya menjamu tamu. Terbuka kepada siapapun, kapanpun. Selama beliau tidak sedang bertugas mengajarkan santri dan umat, siapapun bisa berkunjung, tanpa perlu membuat janji sebelumnya.
Sebagai anak ulama, Ayah Sop sejak kecil telah ditempa dengan pengetahuan berbasis Islam. Tapi dalam pergaulannya dengan santri dan kaum abangan, Tu Sop tidak menampakkan diri lebih. Allahyarham bisa bergaul dengan siapa saja.
Seorang temannya satu pondok, Sybral Malasyi pernah bercerita bahwa sesungguhnya Tu Sop sosok yang kocak. Beliau bisa membuat joke-joke ringan yang mengundang gelak tawa.
Saya berkenalan dengan beliau setahun sebelum kontestasi Pilkada Bireuen 2017. Pada suatu hari beliau menelepon, memberi tahu bahwa beliau telah bersikap dalam politik praktis. Beliau maju melalui jalur independen. Saat itu wakilnya belum ada. Kemudian muncul dr. Purnama Setia Budi sebagai wakil. Sebelumnya dokter tersebut juga sudah sowan ke beberapa partai politik, mengajukan diri sebagai bacalon Bupati Bireuen.
Saat itu pasangan Teungku Muhammad Yusuf A. Wahab-dr. Purnama Setia Budi tidak menang. Tapi Ayah Sop tetap tidak meninggalkan dunia politik.
Setahun sebelum pilkada Aceh 2022—pilkada itu tidak dihelat karena Aceh kalah politik—Tu Sop memberitahu, bahwa beliau akan ambil bagian sebagai bakal calon kandidat gubernur.
Baca juga: Ribuan Jamaah Salatkan Jenazah Tu Sop di Masjid Raya Baiturrahman
“Ayah beritahu langsung kepada Muhajir, supaya Muhajir tidak mendengar kabar ini dari orang lain,” katanya waktu itu di rumah yang ia kontrak di kawasan Lambhuk, Banda Aceh.
Beliau nyaris menjadi wakil Mualem pada Pilkada 2024. Tapi turbulensi politik membuat dirinya tidak dipilih. Bustami Hamzah bergerak cepat. Berkat pendekatan, Ayah Sop setuju menjadi wakil Bustami. Nomor urut terbit, pasangan diperkenalkan ke publik melalui parade akbar di Banda Aceh.
Allah pemegang segala rahasia. Tu Sop dipanggil pulang ke haribaan-Nya. Seluruh Aceh berduka.
Dalam dunia dakwah Tu Sop merupakan ulama yang selalu berdiri di depan dalam membela umat. Ia menggagas program pembangunan rumah untuk duafa, yang dananya bersumber dari sumbangan publik. Beliau juga menggagas Pemuda Kader Dakwah (PKD) yang menghimpun pemuda tiap gampong, dididik menjadi pageu gampong yang bersyariat.
Beliau membangun saluran dakwah berupa radio yang disatukan dengan platform internet. Dayah Multimedia, adalah ciri khas Babussalam Al-Aziziyah, sebagai bukti betapa revolusionernya pikiran dan gagasan beliau untuk dunia dakwah.
Baca juga: Tu Sop: Aswaja Jaga Keseimbangan Demokrasi Indonesia
Saya melihat Tu Sop sebagai ideolog yang mengajarkan semangat merangkul, bukan memukul. Kritik dijadikan vitamin, cacian diabaikan.
Saya selalu ingat pesannya, bahwa wartawan memiliki beban ganda. Melayani informasi, sekaligus menyukseskan perusahaan media massa. Wartawan sangat berguna bila ia berjalan di atas prinsip iman. Tapi akan kehilangan makna, bila menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan materi duniawi.
Seorang seniman di Banda Aceh mengatakan Tu Sop selalu merasa menang dalam dakwahnya. Karena bagi Ayah Sop, satu orang saja berhasil diajak menuju jalan terang, merupakan kemenangan besar dalam melawan angkara murka dan tipu daya syaitan.
Setelah kepergiannya, tagline memperkuat arus kebaikan, berubah menjadi ideologi politik. Menjadi semacam pemikiran yang memiliki kebaruan dalam dunia dakwah di Aceh dan Indonesia.