Refleksi Idulfitri di Tengah Duka Palestina

Refleksi Idulfitri di Tengah Duka Palestina
Warga Palestina mencari sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan usai serangan Israel di Kota Gaza pada Jumat (4/4/2025). Foto: Khames Alrefi/Anadolu.

Idulfitri merupakan momen kemenangan bagi umat Muslim setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa. Di berbagai belahan dunia, umat Islam merayakan hari raya ini dengan penuh suka cita, termasuk di Aceh, yang dikenal dengan semarak perayaannya.

Takbir berkumandang di setiap sudut kota, masyarakat saling bermaafan, serta tradisi kenduri besar yang menyatukan berbagai kalangan. Namun, di balik kegembiraan ini, ada luka yang menganga: duka mendalam bagi saudara kita di Palestina yang masih mengalami penderitaan akibat agresi Israel.

Duka Palestina di Bulan Ramadan 2025

Sejak awal Ramadan 2025, situasi di Gaza semakin memburuk dengan serangan Israel yang semakin masif. Menurut laporan Al Jazeera (2025), lebih dari 35.000 warga Palestina telah menjadi korban jiwa akibat agresi yang terus berlanjut. Selama Ramadan, banyak warga Palestina yang terpaksa menjalani ibadah puasa dalam kondisi yang sangat sulit, dengan keterbatasan makanan, listrik, dan akses kesehatan.

Masjid Al-Aqsa kembali menjadi target serangan pasukan Israel, yang membubarkan jamaah dengan gas air mata dan peluru karet saat mereka sedang melaksanakan ibadah malam Ramadan (Middle East Eye, 2025). Situasi ini memperparah penderitaan rakyat Palestina, yang selama bertahun-tahun hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi.

Di Aceh, dukungan terhadap Palestina terlihat begitu kuat. Sejumlah aksi solidaritas dilakukan oleh masyarakat, termasuk penggalangan dana dan doa bersama di masjid-masjid.

Pemerintah Aceh juga menunjukkan dukungannya dengan berbagai kegiatan amal dan pernyataan resmi yang mengecam agresi Israel. Ini membuktikan bahwa meskipun jarak memisahkan, semangat solidaritas terhadap Palestina tetap membara di hati rakyat Aceh dan Indonesia pada umumnya.

Perasaan solidaritas ini dapat dikaitkan dengan konsep solidaritas mekanik yang dikemukakan oleh Émile Durkheim, di mana masyarakat dengan kesamaan nilai dan agama memiliki keterikatan yang kuat dalam menghadapi persoalan bersama.

Ketimpangan Global dan Penindasan Suara Pro-Palestina

Ironisnya, di saat dunia menyaksikan penderitaan rakyat Palestina, banyak negara Barat justru menunjukkan keberpihakan mereka kepada Israel. Amerika Serikat, misalnya, terus memberikan bantuan militer senilai miliaran dolar kepada Israel, meskipun laporan pelanggaran hak asasi manusia telah berulang kali disampaikan oleh organisasi internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch (2025).

Negara-negara Eropa juga tampak enggan untuk memberikan tekanan diplomatik yang signifikan terhadap Israel, meskipun bukti kekejaman dan pelanggaran HAM telah begitu jelas.

Baca jugaWaspadai Stroke Setelah Lebaran

Selain itu, suara pro-Palestina yang muncul di negara-negara Barat juga mengalami represi. Di Amerika Serikat, banyak mahasiswa yang berpartisipasi dalam aksi damai mendukung Palestina menghadapi ancaman akademik, termasuk pencabutan visa bagi mahasiswa internasional.

Baru-baru ini, seorang mahasiswa PhD asal Turki yang tengah menempuh studi di AS dilaporkan dicabut visanya setelah terlibat dalam aksi damai pro-Palestina di kampusnya (The Guardian, 2025).

Kasus serupa juga terjadi pada mahasiswa asal Malaysia dan Mesir, yang visanya dicabut tanpa peringatan setelah mereka menyuarakan dukungan terhadap Palestina di media sosial.

Menurut laporan dari The Intercept (2025), lebih dari 250 mahasiswa internasional di AS telah mengalami penindakan langsung akibat menyuarakan dukungan terhadap Palestina. Hal ini mencerminkan bagaimana hak demokrasi sering kali hanya menjadi retorika tanpa implementasi yang adil.

Dari perspektif teori konflik Karl Marx, ketimpangan global ini mencerminkan bagaimana struktur sosial dan politik yang didominasi oleh negara-negara kuat sering kali menindas kelompok yang lebih lemah demi kepentingan ekonomi dan geopolitik mereka.

Dukungan finansial dan militer kepada Israel merupakan contoh nyata dari bagaimana negara-negara adidaya menggunakan kekuatan mereka untuk mempertahankan status quo, meskipun dengan mengorbankan hak asasi manusia. Ketidakadilan ini menunjukkan adanya dominasi kelas penguasa yang mempertahankan hegemoni melalui kontrol politik dan ekonomi global.

Antusiasme

Meskipun dunia Islam dirundung duka akibat penderitaan saudara-saudara di Palestina, atmosfir Idulfitri di Aceh menjadi spirit yang nyata. Seperti ditahun-tahun sebelumnya tradisi takbiran keliling, kenduri besar, serta kebiasaan saling mengunjungi keluarga tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini.

Namun, di tengah kegembiraan tersebut, banyak masyarakat yang juga menyelipkan doa khusus bagi rakyat Palestina dalam ibadah. Hal ini menandakan bahwa Idulfitri tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga refleksi atas kondisi umat Islam secara global.

Selain itu, gerakan solidaritas terhadap Palestina semakin nyata dalam berbagai bentuk, mulai dari penggalangan dana hingga boikot produk yang berafiliasi dengan Israel.

Di berbagai kota, masyarakat Aceh menggelar aksi damai untuk menyuarakan keadilan bagi Palestina, menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya perjuangan kemanusiaan semakin mengakar di hati umat Islam.

Gerakan ini selaras dengan konsep tindakan kolektif dalam sosiologi, di mana individu-individu bersatu dalam sebuah gerakan sosial untuk memperjuangkan nilai-nilai yang mereka anggap benar.

Menguatkan Solidaritas, Memperjuangkan Keadilan

Idulfitri tahun ini harus menjadi momen refleksi bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain merayakan kemenangan spiritual, kita juga harus merenungkan bagaimana kita dapat berkontribusi dalam memperjuangkan keadilan bagi Palestina.

Kesadaran akan pentingnya solidaritas harus terus ditanamkan dalam masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang memiliki peran besar dalam menyuarakan isu-isu global.

Gerakan boikot produk yang terafiliasi dengan Israel semakin menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan, sebagaimana ditunjukkan dalam laporan BDS Movement (2025), di mana beberapa perusahaan besar mengalami penurunan keuntungan akibat boikot global.

Sebagai bagian dari umat Islam, kita tidak bisa berpangku tangan. Sejarah membuktikan bahwa perubahan terjadi ketika suara kolektif bersatu dalam perjuangan yang sama.

Dukungan terhadap Palestina bukan hanya isu agama, tetapi juga isu kemanusiaan yang harus terus disuarakan. Dalam konteks sosiologi, perjuangan ini mencerminkan dinamika antara kelompok dominan dan tertindas yang terus berlangsung dalam tatanan sosial global.

Idulfitri adalah simbol kemenangan dan kebersamaan. Namun, kebersamaan ini harus mencakup mereka yang masih berjuang untuk hak-haknya. Kemerdekaan Palestina adalah bagian dari kemenangan kita semua.

Karena itu, mari kita rayakan Idulfitri dengan penuh kesyukuran, sembari tetap menyalakan api solidaritas untuk saudara-saudara kita di Palestina. Dengan semangat yang tak padam, kita berharap bahwa keadilan akan menang dan Palestina akan mendapatkan kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan.

Artikel SebelumnyaTak Ada SMA, Puluhan Remaja Buloh Seuma Putus Sekolah Setiap Tahun
Artikel SelanjutnyaWagub Aceh Ultimatum ASN: Salat Berjamaah atau Siap-Siap Kena Tegur!
Siti Arifa Diana, S,Sos, MA
Penikmat literasi. Pernah menempuh studi S2 di salah satu kota favoritnya, dimana salah satu tokoh literasi Islam lahir disana, yaitu Jalaluddin Rumi, di Konya, Turki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here