BREAKING
Daerah

6.000 Hektare Sawah Aceh Barat Masuk Masa Panen

6.000 Hektare Sawah Aceh Barat Masuk Masa Panen
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, bersama Plt Kadistanbun Aceh, Azanuddin Kurnia, saat panen raya di Desa Padang Mancang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Selasa (22/9/2026). Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Meulaboh— Sebanyak 6.000 hektare sawah di Aceh Barat sedang dan akan memasuki masa panen tahun ini. Luasan tersebut menjadi bagian dari total potensi lahan sawah di Aceh Barat yang mencapai sekitar 8.700 hektare.

Panen raya padi berlangsung di Desa Padang Mancang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Selasa (22/9/2026). Lahan yang dipanen merupakan salah satu area yang sebelumnya terdampak bencana dan masuk kategori rusak sedang.

Bupati Aceh Barat Tarmizi mengatakan, meski sekitar 1.200 hektare sawah di daerah itu sempat mengalami kerusakan akibat bencana alam, Pemkab tetap optimistis produksi padi tahun ini dapat meningkat.

“Meskipun sempat ada sekitar 1.200 hektare sawah yang mengalami kerusakan akibat dampak bencana alam, kita optimistis panen padi tahun ini semakin berlimpah,” kata Tarmizi.

Menurutnya, Pemkab telah menyiapkan strategi penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang untuk meningkatkan produksi padi di Aceh Barat. “Insya Allah kita sudah menyiapkan strategi penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang untuk peningkatan produksi padi di Aceh Barat,” ujarnya.

Tarmizi mengatakan, lahan yang menjadi lokasi panen raya merupakan bagian dari sawah yang sebelumnya masuk kategori rusak sedang dan kini sudah dapat dipanen.

Baca juga: Tak Tertimbun Lumpur, Sawah di Kuala Siap Kembali Digarap

Panen raya tersebut digelar Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh bekerja sama dengan Dinas Pertanian Aceh Barat. Kegiatan turut dihadiri Plt Kepala Distanbun Aceh Dr Azanuddin Kurnia, Pj Swasembada Pangan Aceh Dr. drh. Agus Susanto, Kepala BBRMP Aceh Firdaus, serta Forkopimda Aceh Barat.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem, melalui Azanuddin Kurnia, mengatakan Pemerintah Aceh terus mendorong peningkatan produksi padi dan penguatan sektor pertanian sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan.

Menurut Mualem, agenda swasembada pangan memiliki arti strategis bagi Aceh, terlebih pemerintah masih melakukan pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir November 2025 lalu.

Bencana tersebut berdampak terhadap lahan pertanian, termasuk sekitar 57.364 hektare sawah dengan berbagai tingkat kerusakan. Kondisi itu turut berdampak terhadap aktivitas dan pendapatan para petani.

Karena itu, Pemerintah Aceh bersama pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota terus mendorong pemulihan lahan pertanian yang terdampak.

Untuk jangka pendek, upaya dilakukan antara lain melalui bantuan benih padi dan jagung serta perbaikan jaringan irigasi tersier pada lahan yang mengalami kerusakan ringan dan sedang. Sementara lahan dengan kerusakan berat membutuhkan rehabilitasi dan rekonstruksi agar dapat kembali produktif.

Melalui APBA 2026, Pemerintah Aceh juga memberikan dukungan untuk pengembangan kawasan padi seluas 14.725 hektare, penangkaran benih padi seluas 50 hektare, serta pengembangan kawasan jagung seluas 970 hektare.

Khusus Aceh Barat, dialokasikan pengembangan kawasan padi seluas 1.000 hektare dan penangkaran benih padi seluas 20 hektare.

Mualem juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Pertanian beserta jajaran atas dukungan melalui bantuan benih, perbaikan jaringan irigasi, dan optimalisasi lahan.

“Sinergi seperti inilah yang kita perlukan untuk mempercepat pemulihan pascabencana sekaligus meningkatkan produksi pangan Aceh,” kata Mualem.

Pada kesempatan tersebut, Tarmizi juga menyerahkan bantuan pompa air kepada dua kelompok tani. Bantuan tersebut merupakan bagian dari 200 unit pompa air, 36 unit traktor roda dua, dan 40 unit traktor roda empat yang diberikan Kementerian Pertanian untuk Aceh Barat pada 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *