
Komparatif.ID, Banda Aceh—Di Banda Aceh, warga nonmuslim tetap bisa sarapan di warung sepanjang Ramadan. Pemerintah memberikan izin pedagang kuliner warga bukan agama Islam di Jalan Pasar Sayur, Peunayong, Banda Aceh, tetap beroperasi hingga pukul 10.00 WIB.
Para pedagang nonmuslim, dan konsumen dari golongan yang sama menyatu dalam harmoni pagi di Jalan Pasar Sayur, Peunayong. Ada yang menikmati soto, mengudap roti bakar, makan nasi guri, hingga menyeruput kopi.
Baca: Tan Tjeng Bok, Muda Foya-foya, Tua Menderita
Pada dinding warkop ditempelkan tulisan “Khusus Non Muslim”. Artinya yang Muslim tidak dibenarkan makan di sana.
Jalan Pasar Sayur dimaksud, merupakan sebuah Lorong sempit di belakang Pasar Kartini, Peunayong. Di sana berderet ruko-ruko kuliner yang memang diusahakan oleh pedagang Tionghoa nonmuslim.
Lorong tersebut bukan hanya ramai pada Ramadan. Tapi setiap hari, sepanjang tahun, warga Banda Aceh etnis Tionghoa menikmati ragam kuliner di sana sejak pagi sampai siang.
Pada salah satu kunjungan liputan Komparatif.ID ke sana beberapa waktu lalu, sejumlah pedagang mengatakan konsumen mereka berasal dari komunitas Tionghoa. Jarang orang lain datang ke sana meski sekadar menyeruput kopi.
Warung-warung kuliner tersebut sangat sibuk pada pagi hari, mulai puku 07.00 hingga 10.00 WIB. Saat itu bejibun etnis Tionghoa dari seantero Banda Aceh bertandang ke sana, mulai dari sekadar ngopi, hingga menikmati makanan berat seperti soto dan nasi guri.
Ketua Yayasan Hakka Aceh, Kho Khie Siong alias Pak Khie, Selasa (25/3/2025) mengatakan warung di Lorong tersebut selama Ramadan tetap beroperasi hingga pukul 10.00 WIB. Para pedagang hanya melayani nonmuslim yang sarapan pagi.
Deretan ruko tersebut tidak begitu terlihat dari jalan raya. Pusat kuliner nonmuslim di Banda Aceh tersebut, tersembunyi ke dalam lorong sempit. Bila tidak masuk ke dalam lorongnya, siapa saja tidak tahu bila di sana ada aktivitas bisnis kuliner yang sangat ramai pengunjungnya.