Komparatif.ID, Bireuen— Dua puluh satu hari pascabanjir, aktivitas nelayan di tiga belas gampong dalam Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, belum kembali berjalan hingga Kamis (18/12/2025).
Hingga kini, belum terlihat perahu nelayan yang melaut seperti hari-hari biasa sebelum bencana. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah hambatan yang membuat para nelayan belum mampu memulai kembali aktivitasnya.
Hambatan utama yang dirasakan para nelayan adalah tidak adanya modal untuk memulai kembali kegiatan dari nol. Selain itu, krisis bahan bakar minyak khusus nelayan masih terjadi.
Ketersediaan es batu sebagai kebutuhan utama penyimpanan hasil tangkapan juga belum ada karena kondisi listrik masih hidup mati. Situasi ini membuat para nelayan belum berani mengambil risiko untuk kembali melaut.
Beberapa hari sebelumnya, sempat ada nelayan yang mencoba melaut. Namun upaya tersebut tidak berlangsung lama karena angin kencang memaksa mereka segera kembali ke darat.
Kondisi cuaca yang belum bersahabat menambah kekhawatiran nelayan, terlebih mereka tidak memiliki cadangan biaya jika terjadi kerusakan alat atau kegagalan melaut.
Baca juga: 2 Lansia di Pengungsian Neubok Naleung Peudada Butuh Kursi Roda
Mayoritas nelayan di wilayah tersebut merupakan kelompok rentan miskin. Dalam kondisi belum adanya kepastian kapan keadaan akan kembali normal, mereka memilih tidak lagi berhutang di warung kelontong karena keterbatasan kemampuan untuk membayar. Akibatnya, kebutuhan konsumsi sehari-hari semakin sulit dipenuhi.
“Saat ini mengkonsumsi makanan sehari sekali, satu butir telor dibagi dua, lauk mie instan bantuan berhari-hari, akibatnya penyakit gatal-gatal lebih cepat berkembang biak,” ujar Muhammad Karim, Abu Laot Kecamatan Peudada, Kamis (18/12/2025)
Menurut Muhammad Karim, wilayah pesisir laut yang paling parah terdampak banjir berada di Gampong Blang Kubu, Meunasah Pulo, Neubok Naleung, Calok, dan Matang Pasi. Di kawasan tersebut, kerusakan sarana nelayan cukup signifikan.
Di Tempat Pendaratan Ikan Pulo, tercatat sekitar dua puluh unit perahu hilang dan rusak akibat banjir. Dua unit perahu besar dengan nilai sekitar Rp200.000.000 per unit dilaporkan hilang terbawa banjir. Sementara dua unit perahu besar lainnya mengalami kerusakan pada armada, meski alat tangkap berupa pukat dilaporkan masih selamat.
Sementara itu, Keuchik Blang Kubu, Marhadi, menyampaikan pihak gampong tidak tinggal diam melihat kondisi warganya. Ia mengungkapkan rencana untuk mengajak para keuchik dari gampong-gampong terdampak lainnya agar menyurati dinas terkait secara bersama-sama.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat perhatian dan penanganan terhadap kondisi nelayan yang hingga kini belum dapat kembali melaut.












