Komparatif.ID, Bireuen— Persoalan dangkal dan tersumbatnya muara kembali menjadi ancaman bagi petambak di Gampong Kukue dan Gampong Baro, Kemukiman Blang Birah, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen. Setiap kali muara tidak dibersihkan atau dikeruk, air berpotensi meluap dan merembet ke areal tambak warga.
Kondisi tersebut pernah terjadi saat bencana hidrometeorologi pada 26 November 2025. Ketika itu, sekitar 100 hektare tambak di kawasan tersebut sempat terendam banjir. Namun, menurut petambak setempat, persoalan banjir tidak hanya muncul saat bencana besar, melainkan berulang hampir setiap tahun ketika kondisi muara kembali dangkal dan tersumbat.
Para petambak mengaku harus selalu bersiaga, terutama ketika hujan turun dan kondisi air di kawasan muara mulai meningkat. Mereka memantau kondisi tambak dari siang hingga malam untuk mengantisipasi air yang dapat masuk dan merusak tanggul.
Muntasir, salah seorang petambak di Gampong Kukue, mengatakan kondisi tersebut menjadi persoalan yang terus mereka hadapi. Menurutnya, muara harus rutin dibersihkan agar aliran air tetap lancar dan tidak merembet ke areal tambak.
Ia menceritakan, Dusun Blang Leubok, Gampong Kukue, pernah menjadi salah satu kawasan tambak yang memberikan hasil melimpah. Kondisi tersebut terjadi sekitar 1999, ketika aktivitas pertambakan menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat setempat.
Namun, perjalanan usaha para petambak tidak selalu berjalan mulus. Konflik bersenjata dan kondisi alam yang kurang bersahabat turut memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat. Setelah sempat bangkit, para petambak kembali menghadapi tekanan akibat dampak pandemi Covid-19.
Baca juga: 8 Dekade Muara Kukue Tersumbat, Petambak Masih Andalkan Cangkul
“Sejak 1996 setelah lulus SMP saya sudah mulai bekerja sebagai petambak di lahan seluas satu hektare, di kavling jadi tiga lokasi, sebelumnya disewa Pak Camat Peudada Azhari Usman,” ujar Muntasir, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, persoalan kembali dirasakan pada minggu kedua Oktober 2026 ketika muara Kukue kembali tersumbat. Kondisi tersebut menyebabkan air merendam tambaknya dan membuat tanggul mengalami patah.
Akibat tanggul yang jebol, udang vaname yang dipeliharanya keluar dari tambak. Padahal, udang tersebut diperkirakan hanya tinggal sekitar satu minggu lagi memasuki masa panen.
Muntasir memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai Rp23 juta. Selain kehilangan hasil tambak, ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki tanggul yang rusak. “Biaya perbaikannya sekitar Rp3 juta,” katanya.
Perbaikan dilakukan secara manual dengan menumpuk karung berisi tanah dan material timbunan untuk memperkuat kembali tanggul tambak.
Menurut Muntasir, persoalan muara tidak hanya berdampak pada risiko banjir. Petambak juga kesulitan mengganti air asin di tambak secara berkala. Padahal, pergantian air sekitar setiap 15 hari diperlukan untuk menjaga kondisi tambak agar tetap mendukung pertumbuhan ikan dan udang.
Ia menjelaskan, ikan bandeng dan udang sulit tumbuh optimal apabila kondisi air terlalu tawar. Karena itu, petambak membutuhkan pasokan air asin dari muara untuk menjaga kondisi air tambak.
Petambak juga sempat mencoba menggunakan air dari sumur bor sebagai alternatif ketika air dari muara sulit masuk ke tambak. Namun, cara tersebut dinilai tidak efektif untuk mendukung pertumbuhan udang.
Jika kondisi air tidak sesuai, udang biasanya akan muncul ke permukaan tambak. Dalam kondisi seperti itu, petambak terpaksa mengambil keputusan untuk memanen lebih cepat meskipun belum memasuki waktu panen yang direncanakan.
Jika tidak segera dipanen, udang berisiko mati dan petambak dapat mengalami kerugian lebih besar.




