Gajah Pernah Jadi Jantung Peradaban Aceh

Gajah Pernah Jadi Jantung Peradaban Aceh
Iskandar Nourman pada diskusi publik "Menjaga Gajah Sumatera dalam Krisis Habitat dan Harapan Konservasi" di Aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu (27/8/2025). Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Jauh sebelum menjadi simbol konflik perebutan lahan, gajah pernah menjadi jantung peradaban Aceh serta kebanggaan Sultan. Gajah bukan sekadar satwa, melainkan subjek agung yang memiliki nama, kepribadian, dan peran sentral dalam diplomasi, militer, hingga upacara kebesaran istana.

Hal itu disampaikan Iskandar Norman pada diskusi publik “Menjaga Gajah Sumatera dalam Krisis Habitat dan Harapan Konservasi” di Aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu (27/8/2025).

“Hari ini, kita cenderung melihat gajah dari perspektif biologi dan konservasi. Namun, masyarakat Aceh di masa lalu memiliki hubungan yang jauh lebih personal dan mendalam. Mereka mengenal setiap gajah, memberinya nama seperti Po Meurah atau Seuranggung, dan memahami karakternya,” ujarnya.

Menurut Iskandar, pengetahuan masyarakat kuno ini begitu mendalam hingga melahirkan sistem klasifikasi yang kompleks, jauh melampaui sekadar membedakan gajah jinak dan liar.

Baca juga: Benteng Indra Patra, Bukti Tangguhnya Peradaban Aceh

Tipe yang paling dihargai adalah Gajah Mudam, yang dideskripsikan berpostur ideal, setia, dan menyukai alunan musik, sehingga menjadi pilihan utama untuk pasukan pengiring dalam upacara kebesaran raja.

Berbeda dengan itu, ada Gajah Bugam dan Siawang yang cenderung pemalas, suka merusak, dan lebih sulit diatur, sehingga seringkali difungsikan sebagai gajah pekerja—disebut Tunda—atau bahkan gajah perang.

Kategori lainnya adalah Gajah Keng yang dikenal sangat liar, beringas, dan tidak suka berkawan. Bahkan, pemahaman mereka meluas hingga ke struktur sosial gajah, di mana pemimpin kawanan diberi sebutan khusus, yaitu Tunggai.

Salah satu gajah paling legendaris dalam sejarah Kesultanan Aceh adalah Biramsattani, seekor gajah putih yang menjadi tunggangan pribadi Sultan Iskandar Muda.

Iskandar menjelaskan Biramsattani adalah persembahan diplomatik dari putra Raja Linge di dataran tinggi Gayo.

“Biramsattani bukan sekadar tunggangan, ia adalah simbol supremasi, kekuatan militer, dan alat diplomasi. Kehadirannya dalam setiap upacara menunjukkan keagungan kesultanan,” lanjutnya.

Di atas punggungn Biramsattani diletakkan reungga, sebuah singgasana mewah yang kemegahannya dikagumi para penjelajah asing.

Sebagai salah satu pusat peradaban Aceh, peran gajah kala itu tidak hanya terbatas di lingkungan istana. Para Uleebalang juga memiliki tanggung jawab untuk menangkap dan melatih gajah-gajah liar untuk berbagai keperluan negara.

Namun, era keemasan ini mulai meredup saat Perang Aceh melawan Belanda meletus. Gajah yang tadinya merupakan aset kebanggaan, berubah menjadi target militer.

“Pihak kolonial Belanda melihat gajah sebagai bagian dari kekuatan perang Kesultanan Aceh. Akibatnya, banyak gajah yang dibunuh dalam perang, menandai awal dari hilangnya peran sentral mereka dalam masyarakat,” ungkap Iskandar.

Kini, pengetahuan mendalam dan kearifan lokal itu nyaris punah. Naskah-naskah kuno seperti Hikayat Aceh, yang mencatat detail hubungan ini, menjadi satu-satunya jendela untuk melihat kembali masa lalu yang gemilang.

“Sifat-sifat gajah—agung, bertuah, megah, dan berwibawa—dianggap merefleksikan karakter luhur orang Aceh. Mungkin, untuk menyelamatkan masa depan gajah, kita perlu menengok kembali ke belakang dan belajar dari cara nenek moyang kita memuliakan mereka,” tutupnya.

Artikel SebelumnyaPengelola Koperasi Merah Putih Diminta Belajar Kepada Kopontren Sidogiri
Artikel SelanjutnyaManchester United Dibantai Klub Divisi 4 di Carabao Cup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here