Di balik senyuman masyarakat Langkahan, tersimpan harapan yang kerap diselimuti tangisan pilu. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan potret nyata kehidupan warga Gampong Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Senyum yang tampak di wajah mereka adalah senyum yang lahir dari ketabahan, bukan dari keadaan yang baik-baik saja. Sejak akhir November 2025 lalu, banjir bandang akibat luapan Sungai Langkahan yang diperparah oleh banjir rob dari Selat Malaka telah mengubah wajah gampong ini menjadi hamparan air cokelat dan lumpur yang tak kunjung surut.
Ketika saya dan teman-teman relawan Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UIN Ar-Raniry tiba di lokasi, jalan gampong masih tergenang. Air bercampur lumpur menutup akses, memaksa sebagian warga menggunakan perahu untuk berpindah tempat.
Perahu-perahu nelayan tampak terdampar tak berdaya, terbawa arus banjir dan tak lagi menyentuh laut. Di sudut-sudut desa, warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, membawa seadanya.
Makanan terbatas, pakaian basah, dan rasa lelah yang sulit disembunyikan. Namun, senyum tetap disuguhkan kepada siapa pun yang datang, seolah itu adalah cara terakhir untuk bertahan.
Mayoritas penduduk Gampong Lubok Pusaka menggantungkan hidup pada kebun sawit. Sebagian adalah petani plasma, sebagian lainnya buruh kebun. Kini, hampir seluruh kebun sawit di sekitar gampong tenggelam.
Panen bulanan yang biasanya menjadi tumpuan kebutuhan keluarga lenyap begitu saja.
Baca juga: Salah Baca Krisis Iklim: Banjir, Longsor, dan Negara yang Abai pada Riparian
Seorang kepala dusun menunjukkan kepada kami rumahnya yang terendam hingga atap. Lumpur masih melekat di dinding dan perabotan. Namun, di tengah cerita kehilangan itu, ia masih sempat tersenyum dan tertawa kecil.
“Senyum ini supaya anak-anak kuat, meski panen bulanan hilang,” ujarnya.
Tuha Peut Gampong Lubok Pusaka mengatakan dampak banjir tidak hanya dirasakan oleh warga yang rumahnya terendam. Masyarakat di wilayah yang relatif aman pun ikut merasakan akibatnya.
Banyak korban banjir mengungsi ke rumah kerabat atau warga lain yang tidak terdampak, sehingga kebutuhan bahan makanan meningkat di setiap rumah. Pasokan menjadi terbatas, harga kebutuhan naik, dan beban ekonomi terasa semakin berat.
Jalan Panjang yang Tak Mudah Bagi Warga Langkahan
Akses menuju Gampong Lubok Pusaka sendiri menjadi cerita pilu yang jarang terdengar. Jalan yang dilalui untuk mencapai gampong ini jauh dari kata layak. Di pagi hari, debu tebal menutupi pandangan pengendara. Di malam hari, kegelapan menyelimuti karena tidak adanya lampu jalan.
Permukaan jalan dipenuhi batu-batu besar, lubang hampir di seluruh ruas, serta gelombang dan gundukan yang membuat kendaraan naik turun seperti sedang melintasi jalan puluhan tahun silam.
Perjalanan menuju desa terasa seperti kembali ke masa lalu, ketika pembangunan belum menyentuh wilayah pinggiran.
Kondisi ini memperparah situasi pascabencana. Distribusi bantuan menjadi terhambat, mobilitas warga terbatas, dan akses ke layanan kesehatan tidak mudah. Lumpur yang tersisa dari banjir pun menjadi persoalan tersendiri. Jumlahnya terlalu banyak untuk dibersihkan dengan alat seadanya.
Lumpur itu mengering di halaman rumah, di jalan, dan di sekitar fasilitas umum, menjadi sumber masalah baru. Genangan air cokelat yang bertahan lama memicu penyakit kulit, terutama bagi lansia dan balita yang daya tahan tubuhnya lebih rentan.
Di Dusun Tanoh Merah, Posko Gampong Lubok Pusaka berdiri sebagai pusat pengungsian. BNPB mendirikan kurang lebih 20 tenda untuk menampung warga terdampak. Di sana, kehidupan berjalan dalam ritme darurat.
Anak-anak bermain di sela tenda, orang dewasa berbagi cerita dan keluh kesah, sementara para orang tua mencoba menenangkan diri di tengah ketidakpastian.
Langkahan bukan sekadar nama kecamatan, Lubok Pusaka bukan hanya titik di peta. Ia adalah rumah bagi orang-orang yang hari ini belajar bertahan dengan cara paling sederhana, yaitu tetap tersenyum meski air mata belum benar-benar kering.
Di balik senyum itu, ada harapan agar suatu hari nanti, bencana tidak lagi datang sebagai tamu rutin, dan kehidupan bisa kembali berjalan tanpa harus selalu diawali dengan kehilangan.
Tulisan Heri Maulana dan kawan-kawan yang tergabung dalam tim relawan mahasiswa FAH FISIP UIN Ar-Raniry.












