Komparatif.ID, Banda Aceh— Ekonomi Aceh tumbuh 4,13 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Aceh pada periode tersebut ditopang sejumlah sektor, terutama konstruksi, perdagangan, dan administrasi pemerintahan.
Sementara dari sisi pengeluaran, kontribusi pertumbuhan berasal dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menilai pemulihan ekonomi Aceh masih terus berlangsung. Percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, investasi swasta, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah diperkirakan menjadi faktor yang turut menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Aceh hingga akhir 2026.
Ia memperkirakan ekonomi Aceh sepanjang 2026 tumbuh pada kisaran 4,6 hingga 5,1 persen. Proyeksi tersebut menunjukkan perekonomian Aceh berpeluang kembali ke tingkat pertumbuhan normal seperti sebelum bencana banjir dan longsor.
“Jadi, sekitar 5 persen. Perkiraan kami angka pertumbuhan sudah kembali pada level normal seperti sebelum terjadi bencana,” kata Agus dikutip Minggu (8/11/2026).
Menurut Agus, optimisme tersebut terutama didukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak bencana. Aktivitas pembangunan kembali infrastruktur dan pemulihan berbagai sektor ekonomi diharapkan memberikan dorongan terhadap kegiatan usaha dan daya beli masyarakat.
Selain itu, investasi swasta juga diperkirakan menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Meskipun tidak diproyeksikan mengalami peningkatan, investasi di Aceh dinilai masih berada pada tingkat yang cukup tinggi untuk mendukung aktivitas perekonomian daerah.
Agus menjelaskan, dampak bencana pada akhir 2025 sempat memberikan tekanan cukup besar terhadap perekonomian Aceh. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Aceh mengalami kontraksi sebesar 1,61 persen secara tahunan.
Banjir dan longsor menyebabkan sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghentikan operasional. Selain itu, banyak petani kehilangan pekerjaan akibat kerusakan lahan pertanian dan terganggunya aktivitas produksi.
Baca juga: OJK Aceh: Kredit Besar Belum Tentu Berdampak bagi Ekonomi
Kondisi tersebut turut memengaruhi penyerapan tenaga kerja. Namun, Agus menilai percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi mampu menahan dampak yang lebih besar terhadap kondisi ketenagakerjaan.
Melalui kegiatan rehabilitasi dan pemulihan lahan pertanian, sebagian petani mulai kembali bekerja dan memperoleh pendapatan. Meski demikian, masih ada petani yang bekerja secara serabutan selama proses pemulihan berlangsung.
Di sisi lain, sektor pertanian tetap menjadi salah satu penopang penting perekonomian Aceh. Pada triwulan II 2026, sektor ini tercatat memberikan kontribusi sebesar 1,05 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Agus mengatakan pertumbuhan ekonomi Aceh kini mulai mendekati kondisi sebelum bencana. Secara historis, pertumbuhan ekonomi daerah tersebut berada di kisaran mendekati 5 persen.
“Jadi, relatif pertumbuhan ekonomi di Aceh, walaupun di akhir tahun ada bencana, sebenarnya sekarang sudah mendekati sebelum bencana. Biasanya memang di Aceh tumbuhnya sedikit mendekati 5 persen, memang tidak sampai 5 persen, tapi mendekati,” ujarnya.
Meski demikian, pemulihan ekonomi masih menghadapi sejumlah tantangan. Kerusakan infrastruktur transportasi dan logistik akibat bencana sebelumnya belum sepenuhnya tertangani. Sebagian jembatan masih menggunakan konstruksi sementara dengan kapasitas terbatas, sedangkan sejumlah ruas jalan belum kembali ke kondisi sebelum bencana.
Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi mobilitas masyarakat, tetapi juga kelancaran distribusi barang, terutama komoditas pangan dari daerah produsen ke pasar.
BI menilai percepatan perbaikan infrastruktur dan pemulihan sektor produktif menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Aceh. Dengan dukungan pembangunan kembali wilayah terdampak, investasi, serta konsumsi masyarakat dan pemerintah, ekonomi Aceh diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhannya hingga penghujung 2026.




