El Marino Loko merupakan legenda di Tamaulipas pada dekade 2010. Di masa keemasannya, Erick Morales Guevara berhasil menghancurkan dua kartel narkoba terbesar di wilayah Tamaulipas, negara bagian yang menjadi wilayah perbatasan paling stragis di Meksiko.
Di tengah pertarungan antara Pemerintah Meksiko dengan kartel narkoba, pada dekade 2010-an muncul sebuah fenomena di kalangan militer negara tersebut. Sebuah Satuan Tugas Khusus dengan jumlah personel sedikit, menjadi hantu paling menakutkan bagi anggota kartel narkoba di Tamaulipas.
Satgas tersebut dipimpin oleh Erick Morales Guevara, seorang komandan pasukan infanteri Angkatan Laut Meksiko. Julukannya El Marino Loko (Marinir Gila). Julukan itu lahir karena tradisinya memberantas kartel narkoba, berbeda dengan petugas lainnya.
Dia tidak sekadar bertempur melawan kartel narkoba. Dia melakukannya lebih dari itu. Menyentuh penghinaan psikologis, mengoyak maskulinitas yang dijunjung tinggi oleh bos-bos mafia narkoba Meksiko.
El Marino Loko awalnya merupakan prajurit marinir biasa. Bertugas menjaga pertahanan laut negara Latin tersebut. Hingga pada suatu hari dia diberikan mandat memimpin satuan tugas khusus—berupa kelompok militer dalam jumlah kecil.
Tim tersebut ditempatkan di garis depan wilayah timur laut Meksiko. Wilayah operasi mereka khususnya di kota perbatasan Reynosa dan kota pantai Tampico. Wilayah-wilayah ini merupakan basis operasi yang sangat brutal dari Kartel del Golfo (Gulf Cartel) dan faksi Los Zetas.
Gelar Loko yang ia sandang juga tidak lahir karena anugerah seremonial. Gelar tersebut diberikan secara alamiah, setelah Morales terlibat perkelahian dengan seorang letnan. Dalam pertarungan itu Morales menusuk mata sang letnan menggunakan garpu.
Ketika masa kontrak militernya hendak diperpanjang, ia sengaja digagalkan dalam tes psikologi sebagai bentuk pembalasan dari jaringan perwira yang berteman dengan letnan tersebut. Sejak saat itu, label “prajurit gila” melekat padanya.
Selain El Marino Loko, ia juga dijuluki “Señor Thor” atau “The Hammer“. Nama ini melekat setelah ia menyelamatkan seorang mantan tentara Amerika Serikat yang diculik di Reynosa. Di lokasi penyanderaan, Morales menemukan sebuah pemukul daging dapur (martillo) baja dan menggunakannya untuk memukuli para pelaku. Sejak operasi tersebut, Morales kerap membawa pemukul tersebut di rompi tempurnya sebagai simbol penegakan hukum pribadinya.
Taktik Perang Psikologis El Marino Loko
Sebagai anggota militer yang lahir, tumbuh, dan besar di negara yang penuh narkoba seperti Meksiko, Morales tahu betul seperti apa psikologi para mafia di sana. Budaya narko sangat mengangungkan maskulinitas yang ekstrem. Para bandit membangun citra demi menjaga kekuasaan dengan cara mengagungkan kelelakian, kekuasan, dan citra diri sangar. Tujuannya supaya masyarakat tunduk. Bahkan mereka tak segan-segan membunuh seseorang hanya demi membangun reputasi kejam.
Sisi itu yang dijadikan senjata oleh Morales. Elo Marino Loko dan timnya bekerja keras meruntuhkan maskulitas dalam budaya narko. Kehilangan maskulinitas merupakan pukulan psikologis paling berat, lebih dari hukuman mati, konon lagi hukuman penjara.
Dalam aksi-aksi penegakan hukum yang dia lakukan bersama tim kecilnya, bilamana mereka berhasil menangkap bos kartel dan anggota kartel, para penjahat itu tidak langsung dibawa ke markas polisi.
Bos dan anggota kartel yang berhasil ditangkap akan dipaksa pakai pakaian dalam wanita seperti lingerie merah, gaun, atau daster. Wajah-wajah para bandit itu akan dirias menor, bibir mereka diolesi gincu merah murah, kemudian mereka diperintahkan berciuman satu sama lain.
Semua peristiwa itu direkam oleh anggota El Marino Loco.Foto dan video para mafia mengenakan pakaian dalam perempuan dengan wajah menor seperti bencong murahan, dan melakukan ciuman basah antar sesama pria, disebar ke publik. Rekaman memalukan itu disebar ke forum internet independent, ke blog del Narco, dan media sosial.
Ketika menggempur markas narkoba miliknya Silvestre Haro Rodríguez (alias El Chive), salah satu petinggi Kartel del Golfo, Morales justru melakukan aksi lebih gila.
El Marino Loko menggerebek rumah mewah sang gembong, menghancurkan barang-barangnya, mencoret-coret foto keluarga, dan membawa kabur guci berisi abu jenazah ayah El Chive. Tindakan ini merupakan penghinaan personal yang sangat tabu dan berhasil memicu kemarahan besar di struktur kepemimpinan kartel.
Ditentang Lembaga HAM
Meskipun operasi unit militer Morales berhasil mengamankan banyak aset bernilai jutaan dolar, menyita gudang senjata, dan berujung pada penangkapan gembong besar seperti Comandante Toro, metodenya memicu badai kontroversi.
Lembaga hak asasi manusia, termasuk Komisi Hak Asasi Manusia Meksiko (CNDH), mengecam keras tindakan Morales. Mereka menilai penyiksaan psikologis, penggerebekan tanpa surat izin, dan tontonan degradasi manusia bertentangan dengan hukum pidana formal dan berisiko merusak legalitas kasus di pengadilan.
Di sisi lain, Kartel del Golfo yang murka mulai memasang spanduk jalanan (narcomantas) di seantero Tamaulipas. Mereka menjanjikan hadiah sebesar 5 juta peso (setara miliaran rupiah) bagi siapa saja yang berhasil membunuh atau menyerahkan kepala El Marino Loko.
BACA
Meretas Mimpi Kaya Melalui Bisnis Gelap Tramadol
Akibat tekanan hukum yang semakin besar dari dalam institusi militer dan ancaman keamanan yang eskalatif, petualangan resmi Erick Morales Guevara harus berakhir. Pada pertengahan tahun 2019, ia secara resmi mengundurkan diri dan dibebastugaskan dari Angkatan Laut Meksiko.
Setelah keluar dari kedinasan militer, keberadaan asli Erick Morales Guevara berubah menjadi misteri yang memicu banyak spekulasi.Terdapat tiga pendapat utama tentang dirinya. pertama, dia mendapatkan perlindungan oleh pemerintah. Atau dia telah pindah ke luar negeri dengan identitas baru.
Kedua, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa dia tetap beroperasi tapi dalam bentuk operasi rahasia (vigilante) menggunakan kelompok paramiliter bawha tanah independent. Teori ini diperkuat karena beberapa tahun setelah pensiunnya Morales, sempat muncul kasus-kasus penangkapan anggota kartel yang didandani lingerie wanita di negara bagian lain seperti Michoacán.
Ketiga, sebagian rumor intelijen mengklaim bahwa sosoknya pasca-militer justru terseret ke dalam faksi pengamanan informal wilayah perbatasan, terjebak dalam pusaran konflik kepemilikan senjata ilegal, hingga akhirnya ditahan dalam operasi intelijen gabungan di daerah utara.
Satu hal yang paling menarik dari rekam jejaknya. Dia berhasil mengobrak-abrik dua kartel narkoba terbesar di Tamaulipas yaitu Gulf Cartel (Kartel de Golfo) dan Los Zetas.
Kisah tentang marinir tersebut telah diangkat dalam film berjudul El Marino Loko, sebuah film indeoenden yang rilis pada 2024.
Sumber: Global Guardian, Insight Crime.




