Friday, 16 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Daerah

27 Hektare Sawah Bekas Banjir di Cot Tarom Baroh Mulai Digarap

27 Hektare Sawah Bekas Banjir di Cot Tarom Baroh Mulai Digarap
Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Bireuen– Petani di Gampong Cot Tarom Baroh (CTB), Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, mulai menggarap 27 hektare sawah yang sebelumnya terdampak banjir untuk musim tanam Oktober 2026.

Salah seorang petani, Nadli bin Jafar, mengatakan lahan persawahan tersebut tidak mengalami kerusakan akibat banjir. Air hanya menggenangi areal persawahan sehingga setelah kondisi memungkinkan, petani kembali mempersiapkan lahan untuk ditanami.

Menurut Nadli, sebelum memulai aktivitas turun ke sawah, petani setempat terlebih dahulu melaksanakan kenduri turun sawah pada 24 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan masyarakat sebelum memulai proses pengolahan lahan.

“Setelah kenduri, kami mulai membajak sawah dari 7 Oktober hingga 16 Oktober 2026. Biasanya lahan seluas 27 hektare itu selesai dalam sepuluh hari,” ujar Nadli, Kamis (15/10/2026).

Ia menjelaskan, proses pengolahan lahan dilakukan secara bertahap. Petani menargetkan seluruh areal persawahan seluas 27 hektare tersebut selesai dibajak pada pertengahan Oktober sehingga dapat dilanjutkan dengan tahapan penanaman.

Nadli mengatakan seluruh kebutuhan dalam proses pengolahan sawah hingga persiapan tanaman masih dilakukan secara swadaya oleh petani. Mulai dari kegiatan membajak lahan, penyediaan bibit, hingga kebutuhan pupuk belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Baca juga: 4 Ekskavator Kemendagri Dikerahkan ke Pante Karya, Bupati Bireuen: Fokus Normalisasi Sungai

Setelah proses pembajakan selesai, petani selanjutnya akan melakukan penaburan bibit. Menurut Nadli, tahapan tersebut membutuhkan waktu sekitar 14 hingga 21 hari, tergantung jenis bibit yang digunakan.

“Untuk proses tabur bibit membutuhkan waktu paling cepat 14 hingga 21 hari, tergantung jenis bibit yang digunakan,” katanya.

Mengenai jadwal tanam serentak atau renteng, petani setempat berpedoman pada informasi yang mereka terima mengenai jadwal turun sawah pada Oktober 2026. Informasi tersebut antara lain diketahui melalui pemberitaan media Harian Serambi Indonesia mengenai jadwal turun sawah setelah pintu air dibuka pada September 2026.

Petani kemudian menyesuaikan tahapan pengolahan lahan dengan ketersediaan air. Karena itu, penyelesaian pembajakan menjadi salah satu target yang harus dicapai sebelum proses penanaman dilakukan.

“Kami pasang target pertengahan Oktober sudah selesai dibajak agar ketersediaan air terpenuhi,” jelas Nadli.

Ia menambahkan, pihak kecamatan belum mengeluarkan surat imbauan resmi terkait pembajakan sawah. Imbauan kepada masyarakat hanya disampaikan secara lisan.

Meski demikian, petani tetap melanjutkan pengolahan lahan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan dan informasi mengenai ketersediaan air. Mereka berharap tidak terjadi kendala yang dapat mengganggu tahapan musim tanam kali ini.

Nadli juga menyebut pihaknya menerima informasi pintu air direncanakan ditutup pada Februari 2027. Informasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan petani dalam mengatur waktu tanam hingga masa panen.

“Kami menerima informasi dari kantor, pintu air akan ditutup pada Februari 2027. Jika tidak ada kendala, kemungkinan saat itu daun padi telah menguning,” tutup Nadli.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *