Friday, 16 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Taman Sulthanah Safiatuddin, Replika “Aceh Mini” di Tengah Kota

Taman Sulthanah Safiatuddin, Replika "Aceh Mini" di Tengah Kota
Taman Sulthanah Safiatuddin. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Wisatawan yang ingin mengenal ragam budaya Aceh tidak harus berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Di Kota Banda Aceh, tepatnya di Jalan Senangin, Bandar Baru, Kecamatan Kuta Alam, tersedia Taman Sulthanah Safiatuddin yang merangkum keragaman tradisi Aceh dalam satu kawasan. Karena itulah taman ini kerap dijuluki Taman Mini Aceh.

Taman Sulthanah Safiatuddin diresmikan pada 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, bertepatan dengan penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-IV. Pembangunannya berlangsung pada masa kepemimpinan Gubernur Abdullah Puteh, hanya beberapa bulan sebelum gempa dan tsunami melanda Aceh.

Bagi masyarakat setempat, nama Taman Sulthanah Safiatuddin sudah akrab karena menjadi lokasi utama PKA, ajang kebudayaan empat tahunan yang menjadi agenda besar Aceh.

Daya tarik utama kawasan ini adalah 23 anjungan berupa rumah adat yang mewakili setiap kabupaten dan kota di Aceh. Bangunan-bangunan tersebut dibuat dengan material yang beragam, dari kayu tradisional hingga beton modern, sehingga menggambarkan kekayaan arsitektur daerah.

Rumah adat dari Aceh Besar, Gayo, Tamiang, hingga Simeulue dapat dijumpai di sini. Setiap anjungan berfungsi sebagai ruang pamer budaya yang kerap menampilkan artefak, pakaian adat, dan pelaminan tradisional.

Dengan begitu, pengunjung dapat melihat keunikan tiap daerah tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke masing-masing wilayah.

Nama taman ini diambil dari Sulthanah Safiatuddin, pemimpin perempuan pertama Kesultanan Aceh. Ia memerintah selama 35 tahun, dari 1641 hingga 1675, dan merupakan putri Sultan Iskandar Muda sekaligus istri Sultan Iskandar Tsani.

Ia melanjutkan kepemimpinan setelah suaminya wafat. Kepemimpinannya sempat menuai perdebatan di kalangan ulama karena ia seorang perempuan. Namun, melalui mediasi ulama besar Aceh, Nuruddin Ar Raniri, ia akhirnya diakui sebagai pemimpin dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul ‘Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l ‘Alam.

Ia juga tercatat ikut serta dalam Perang Malaka pada 1639. Pada masa pemerintahannya, Aceh disebut mengalami kemajuan di bidang sastra, budaya, dan ilmu pengetahuan. Atas jasa tersebut, pemerintah Aceh mendedikasikan namanya untuk kawasan yang menjadi pusat berbagai kegiatan budaya ini.

Selain sebagai tempat belajar sejarah dan budaya, taman seluas 62.000 meter persegi ini juga nyaman untuk aktivitas santai. Tersedia jalur jogging dan rute sepeda, sementara pepohonan rindang menghadirkan suasana hijau yang cocok untuk beristirahat.

Kawasan ini juga banyak dimanfaatkan sebagai lokasi berburu foto. Di area depan arena PKA, pengunjung dengan mudah menemukan kafe, warung kopi, dan rumah makan.

Bagi keluarga, taman bermain di depan gerbang masuk menjadi salah satu daya tarik. Anak-anak dapat bermain sambil mengenal budaya Aceh melalui rumah-rumah adat yang ada di dalam kawasan.

Fasilitas pendukung yang tersedia meliputi mushalla, toilet umum, kios makanan, tempat duduk, serta lahan parkir yang luas. Panggung utama di bagian tengah taman rutin digunakan untuk pertunjukan seni, seperti tarian tradisional dan musik Aceh, sekaligus menjadi wadah ekspresi bagi pelaku seni lokal.

Taman ini turut berperan dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Berbagai pameran seni, festival kuliner khas Aceh, dan bazar UMKM digelar di kawasan ini. Pelaku usaha dapat memamerkan kerajinan tangan, kain tenun, dan kuliner khas daerah kepada pengunjung.

Di dalam kompleks juga terdapat beberapa gedung perkantoran, di antaranya Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh dan Sekretariat DPD RI Aceh.

Dari sisi lokasi, taman ini mudah dijangkau karena berada dekat dengan kantor Gubernur Aceh dan Masjid Oman Al-Makmur Lampriet. Posisi tersebut memudahkan wisatawan yang ingin menggabungkan kunjungan ke taman dengan tempat-tempat lain di pusat kota.

Dengan kombinasi nilai sejarah, ragam rumah adat, ruang terbuka hijau, serta fasilitas yang cukup lengkap, Taman Sulthanah Safiatuddin layak menjadi salah satu pilihan bagi siapa pun yang berkunjung ke Banda Aceh.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *