Komparatif.ID, Banda Aceh– Di tengah padatnya aktivitas Kota Banda Aceh, ada satu kawasan hijau yang menawarkan udara sejuk, suasana tenang, dan tanpa tiket masuk. Hutan Kota Tibang kini menjadi salah satu tujuan favorit warga untuk melepas penat, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Hutan kota ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kota Banda Aceh dan Bank BNI, yang dibangun atas inisiatif Wali Kota Banda Aceh saat itu, almarhum Mawardy Nurdin. Lokasinya berada di Jalan Hutan, Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala.
Kondisi kawasan ini hari ini sangat berbeda dengan awalnya. Pada 2006, lahan tersebut hanyalah tanah kosong berkualitas buruk tanpa satu pun tanaman. Pembangunannya memakan waktu lebih dari dua tahun.
Tahap pertama adalah memperbaiki kualitas tanah dengan menggantinya dengan tanah yang lebih subur, lalu berbagai bibit ditanam secara hati-hati. Pada 2010, Hutan Kota Tibang diresmikan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
Kini, kawasan seluas sekitar 7,15 hektare itu telah ditumbuhi kurang lebih 4.000 batang pohon dari 150 jenis, mulai dari cemara laut, waru, ketapang, glumpang, hingga kelapa.
Dengan jumlah pohon sebanyak itu, hutan ini disebut mampu menghasilkan oksigen hingga 37 ton per hari. Tidak heran jika kawasan ini dijuluki sebagai paru-paru Banda Aceh.
Keanekaragaman hayatinya juga terlihat dari kehadiran 25 spesies burung yang menghuni kawasan ini, sehingga kicauan burung menjadi bagian dari suasana yang dinikmati pengunjung.
Untuk masuk, pengunjung tidak dipungut biaya. Mereka hanya perlu membayar parkir kendaraan sebesar Rp2 ribu. Begitu melangkah ke dalam, pengunjung disambut jembatan kecil dengan tiang-tiang berwarna-warni, lalu jalan setapak yang dinaungi pepohonan rimbun dan aneka bunga. Udara terasa sejuk, dan suasana jauh lebih tenang dibandingkan jalan raya yang hanya berjarak puluhan meter.
Salah satu daya tarik utama adalah jembatan tajuk atau canopy trail. Jembatan ini sempat rusak, namun kini sudah diperbaiki. Dengan ketinggian sekitar 25 meter, pengunjung bisa memandang hutan dari atas dan melihat variasi tajuk berbagai jenis pohon.
Selain itu, ada pula jembatan di atas rawa bakau yang kerap dijadikan lokasi berswafoto dengan latar hutan mangrove.
Bagi keluarga, tersedia taman bermain anak yang telah tersertifikasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Anak-anak bisa bermain tanpa dipungut biaya.
Di area lain terdapat lapangan basket, musala, dan toilet. Bagi yang gemar berolahraga, Pemko Banda Aceh telah membangun jogging track sepanjang 500 meter yang bisa dipakai untuk berlari kecil maupun olahraga ringan. Kawasan ini juga ramah bagi penyandang disabilitas karena menyediakan jalan setapak yang dapat diakses kaum difabel. Di dalam kawasan terdapat pula makam bersejarah yang menambah nilai sejarah lokasi ini.
Soal kebersihan, pengelola menyediakan tempat sampah setiap 50 meter agar pengunjung mudah membuang sampah pada tempatnya. Tanaman disiram setiap pagi, sedangkan penyapuan dilakukan pada sore hari.
Perawatan rutin ini membuat kawasan tetap bersih dan nyaman, meski ramai dikunjungi setiap hari, baik oleh warga Banda Aceh maupun pengunjung dari luar daerah.
Akses menuju lokasi tergolong mudah. Dari jalan utama Banda Aceh ke arah Krueng Raya, hutan kota ini berada sebelum Jembatan Alue Naga, tepat di samping Kampus Ubudiah. Pengunjung cukup berbelok sedikit ke kiri, dan hanya sekitar 50 meter dari jalan besar sudah sampai di pintu masuk.
Bagi warga yang mencari tempat berakhir pekan tanpa banyak biaya, Hutan Kota Tibang bisa menjadi pilihan. Dengan fasilitas yang lengkap, suasana teduh, dan akses mudah menunjukkan ruang terbuka hijau dapat berfungsi sebagai paru-paru kota sekaligus ruang wisata keluarga.




