Menjadi Generasi Pencipta, Bukan Penunggu

Menjadi Generasi Pencipta, Bukan Penunggu
Feri Irawan, S.Si, M.Pd. Kepala SMKN 1 Jeunieb. Foto: HO for Komparatif.ID.
Keragu-raguan masyarakat untuk memilih SMK sebagai tempat belajar dan untuk mempersiapkan masa depan anak-anak bangsa semakin tidak beralasan lagi, sebab tujuan didirikannya SMK pada dasarnya untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas baik intelektual, keterampilan maupun moralnya.

***

Berbeda dengan dahulu bahwa masuk SMK bagi peserta didik bukanlah sebuah alternatif, juga bukan karena alasan daripada tidak sekolah tetapi memang mereka menjadikan SMK sebagai pilihan utama, karena mereka telah mengetahui keunggulan-keunggulan SMK dan mereka memandang SMK sebagai suatu kebutuhan. 

Banyaknya tamatan-tamatan SMK yang sukses di masyarakat ataupun di dunia kerja semakin memantapkan seseorang dalam mengambil keputusan ketika ia akan masuk ke sekolah kejuruan tersebut.

Fenomena menyangkut pengetahuan masyarakat tentang SMK selama ini benar adanya. Seperti masyarakat beranggapan lulusan SMK tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Sebenarnya anggapan ini keliru. Justru, lulusan SMK dapat melanjutkan studi sesuai kompetensinya yang sudah terasah selama tiga tahun. 

Hal ini lebih lengkap dengan pandangan kuliah dan gelar itu menjadi penentu (punya gelar bergengsi) sehingga SMK kurang tersentuh oleh masyarakat. Walau sejatinya tamatan SMK memang dipersiapkan untuk bisa bekerja, wirausaha atau membuka lapangan pekerjaan sendiri, namun tamatan SMK juga bisa ke perguruan tinggi.

Menilai SMK tidak bisa hanya sepotong-sepotong. Maksud diadakannya SMK antara lain adalah untuk menyiapkan tenaga-tenaga kerja tingkat madya, yang terampil, berkarakter dan diharapkan dapat menjawab kebutuhan dunia- usaha atau industri.

Apalagi beberapa tahun terakhir ini perhatian pemerintah terhadap SMK memang sangat baik, berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM, dan berbagai bentuk bantuan digelontorkan untuk pengembangan SMK, bahkan promosi SMK semarak di mana-mana juga terlihat di televisi-televisi dengan motto” SMK Bisa, SMK Hebat”.

Hal ini semakin memberi ruang dan dorongan semangat para pengelola sekolah-sekolah kejuruan di Tanah Air, untuk terus berbenah menjadi sekolah yang mampu melahirkan tamatan-tamatan yang berkompeten di bidangnya, terampil, berkarakter dan dapat menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri.

Sehingga keragu-raguan masyarakat untuk memilih SMK sebagai tempat belajar dan untuk mempersiapkan masa depan anak-anak bangsa semakin tidak beralasan lagi, sebab tujuan didirikannya SMK pada dasarnya untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas baik intelektual, keterampilan maupun moralnya, sehingga mampu bersaing dalam menghadapi kemajuan zaman yang semakin komplek ini.

Teranyar, Direktorat SMK menggulirkan berbagai program nasional pada tahun ini yang terbuka untuk seluruh SMK di Indonesia. Program bantuan pemerintah tersebut, diantaranya: sertifikasi kompetensi siswa SMK, sertifikasi bahasa asing murid SMK, penguatan akses kebekerjaan luar negeri, hingga proyek kreatif dan kewirausahaan. 

Baca jugaSMK Bireuen Pamerkan Hasil Tefa & Inovasi Literasi di LKS Aceh 2025

Selanjutnya bantuan untuk teaching factory skema reguler, teaching factory skema kolaborasi, hingga SMK pusat keunggulan penguatan pembelajaran mendalam. 

Tujuannya adalah agar lulusan SMK memiliki keunggulan kompetitif, adaptabilitas tinggi, serta keterampilan yang sesuai dengan permintaan pasar kerja.

SDM yang berkualitas ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas nasional menuju visi Indonesia Emas.  Pentingnya peran SMK sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan, mengungkapkan bahwa program pengembangan SMK tahun 2025 terbagi dalam empat sektor utama.

Pertama, sektor kebekerjaan yang mencakup program penguatan akses kerja ke luar negeri, sertifikasi kompetensi, dan pelatihan bahasa asing bagi siswa SMK.

Kedua, sektor Kemandirian dengan program pengajaran berbasis pabrik (teaching factory) baik secara reguler maupun kolaboratif serta revitalisasi sekolah.

Ketiga, sektor Kreativitas dengan program kewirausahaan dan proyek kreatif.

Terakhir, sektor masa depan yang mencakup pengembangan SMK Pusat Keunggulan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan kejuruan, serta digitalisasi pembelajaran.

Ini menekankan bahwa transformasi pendidikan SMK tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan kerja sama lintas sektor.

Dengan menanamkan kekuatan lokal sebagai akar pengembangan, SMK dapat menjadi motor penggerak ekonomi dan sosial di tingkat daerah serta menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Di sisi lain, untuk memberikan siswa pengalaman dunia kerja yang lebih nyata dan meningkatkan kesiapan lulusan SMK agar lebih kompeten secara teknis maupun etika kerja, siswa SMK akan menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama 6 hingga 10 bulan. 

Untuk program SMK 3 tahun, PKL dilaksanakan paling sedikit selama 1 semester atau 16 minggu efektif (setara sekitar 4 bulan). Sedangkan untuk program SMK 4 tahun, khususnya di kelas XIII, PKL dialokasikan hingga 1.216 JP atau 26 minggu efektif (setara 10 bulan). 

Tak hanya itu, kini pelajaran di SMK makin banyak, jam belajarnya makin padat, bahkan ada mata pelajaran baru yang belum pernah ada sebelumnya. 

Sesuai Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, jumlah jam pelajaran (JP) di SMK melonjak signifikan. Di kelas X saja, total jam belajar siswa bisa menembus 1.800 JP dalam setahun. Bandingkan dengan sebelumnya yang rata-rata masih di bawah 1.500 JP.

Tidak hanya kuantitas, jenis mata pelajaran pun bertambah. Saat ini, siswa SMK tidak hanya belajar teori dan praktik kejuruan, tetapi juga harus menekuni Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan (KIK), Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) hingga Muatan Lokal yang bisa berbentuk teknologi, bahasa, sampai budaya lokal. 

Transformasi Kurikulum SMK

Kurikulum SMK saat ini jelas mengalami transformasi besar. Jumlah pelajaran makin banyak, kontennya makin modern, dan pendekatannya makin hands-on. Kurikulum baru menekankan pendekatan menyeluruh: siswa SMK tidak hanya digenjot keterampilan teknis (technical skills), tapi juga kemampuan berpikir kreatif, inovatif, dan kewirausahaan.

Perubahan kurikulum SMK ini memang menjanjikan pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman.

Yang jelas, siswa SMK hari ini bukan lagi “pelajar pinggiran”. Mereka disiapkan untuk jadi garda depan SDM unggul.

Artikel Sebelumnya42 Persen Penduduk Aceh Usia 19-24 Tahun Lanjutkan Pendidikan Tinggi
Artikel SelanjutnyaIni Tema & Link Download Logo HUT ke-80 RI
Feri Irawan
Feri Irawan merupakan seorang guru. Kepala SMK Negeri 1 Jeunib, juga Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Bireuen. Dapat dihubungi melalui email: ferifodic78@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here