
Komparatif.ID, Banda Aceh—Pentas Seni Inklusi Part 2, yang digelar di lantai IV Pustaka Wilayah (Puswil) Aceh pada Rabu (23/7/2027) malam, berlangsung menarik. Gelak tawa dan haru menyatu dalam satu rasa.
Jauh sebelum acara dimulai, antusiasme publik sudah tak terbendung. Sebanyak 150 kursi yang disediakan oleh panitia ludes terisi, namun gelombang pengunjung terus berdatangan. Tak ingin kehilangan momen berharga, puluhan di antaranya rela berdiri di sisi kiri, kanan, dan belakang ruangan, yang memadati setiap sudut yang tersedia.
Baca: Kolaborasi Seni di Panggung PKB 8
Dengan mengusung tema yang kuat dan relevan, Setara Dalam Suara, Merdeka Dalam Ekspresi, acara yang digagas oleh Yayasan Andhikara ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan sebuah manifesto tentang kesetaraan dan penerimaan.
Melawan Stigma Melalui Panggung Seni
Miftah Mardhatillah Mukammil, Selaku Founder Sahabat Adhikara, dengan kalimat sederhana menjelaskan motivasinya. Menurutnya, isu terbesar yang masih dihadapi oleh anak-anak berkebutuhan khusus adalah diskriminasi dan stigma yang melekat.
“Motivasinya cukup sederhana. Isu terbesar saat ini itu adalah diskriminasi terhadap teman-teman istimewa kita,” ungkap Miftah.
“Banyak sekali kita itu mikir, ‘oh karena mereka disabilitas, mereka tidak bisa apa-apa’. Padahal sebenarnya mereka itu banyak banget bakatnya. Bahkan dari kita sendiri, mereka tadi kan ada nampilin band, dan banyak dari kita mungkin nggak bisa mainin band,” kata Miftah.

Pentas seni inklusi bertujuan untuk mendobrak dinding prasangka tersebut. Dengan memberikan panggung yang layak, ia berharap dapat meningkatkan kesadaran publik sekaligus memompa rasa percaya diri para siswa.
“Ini menjadi langkah awal untuk menunjukkan ke umum kalau misalnya mereka itu serba bisa. Supaya mereka lebih berani lagi, karena sebenarnya kita ini setara dalam suara dan semuanya itu berhak untuk berekspresi,”tegasnya.
Acara ini berhasil merangkul lima Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banda Aceh, yakni SLB YPPC Aceh, YPSM, TNCC, Bukesra, dan YPAC, yang masing-masing menampilkan talenta terbaiknya.
Pentas Seni Inklusi Panggung Para Bintang Istimewa
Benar saja, panggung sederhana itu seketika berubah menjadi arena pertunjukan para bintang. Momen emosional pertama tercipta saat Wildan Firdaus dari SLB YPPC tampil membawakan lagu Manusia Kuat. Dengan suaranya yang mengalir dan penghayatan yang dalam, Wildan berhasil menghipnotis penonton pentas seni inklusi, membawa suasana menjadi hangat.
Keceriaan meledak saat panggung diambil alih oleh Dika Akbar Fahrezi dari SLB YPPC. Melalui sesi story telling berjudul Topi Ajaib Si Dodo, Dika dengan gaya teatrikal dan suaranya yang ekspresif sukses menghibur penonton. Membuktikan bahwa komunikasi tak mengenal batasan.
Tak kalah memukau, Rizka Ayu dari SLB YTSM melenggang penuh percaya diri dalam sesi fashion show. Setiap langkah dan posenya di atas panggung memancarkan aura kebebasan berekspresi, seolah menegaskan bahwa panggung itu adalah miliknya.
Serta penampilan dari MC Band dari SLB Bukesra dan Juga tarian yang memukau yang ditampilkan oleh Syakira, Penampilan mereka berhasil membuat seisi ruangan Antusias dan terhibur.
Rangkaian acara ditutup dengan manis oleh suara merdu Nalia dan Khanza, serta flash mob penuh semangat dari Sahabat Andhikara yang membawakan lagu Selalu Ada di Nadimu, mengajak seluruh hadirin untuk larut dalam kebersamaan.
Dukungan Penuh dan Komitmen Pemerintah
Kehadiran Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah, bersama jajaran forkopimda Aceh menjadi penegas dukungan pemerintah terhadap gerakan inklusivitas. Dalam sambutannya, Afdhal tak mampu menyembunyikan kekagumannya terhadap pentas seni inklusi. Ia memuji semangat anak-anak muda di balik Sahabat Andhikara dan keberanian luar biasa dari para penampil.
“Luar biasa nih muda-muda semua. Ini satu semangat yang luar biasa,”ujarnya. “Adik-adik ini kan adik-adik abang yang luar biasa. Jadi berani nampil nanti itu luar biasa. Abang dulu kalau disuruh nampil waktu SMA, keringat dinginnya luar biasa. Tapi adik-adik tadi nggak ada yang keringat dingin, kan? Hebat!” serunya yang disambut tawa hangat.
Afdhal menegaskan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh berkomitmen untuk terus berjuang memaksimalkan layanan bagi semua warga, terutama bagi anak-anak istimewa. “Insyaallah, Kota Banda Aceh bukan milik kami pribadi, tapi milik kita semua, adik-adik yang ada di sini. Kami membuka sangat luas akses terhadap adik-adik sekalian,” katanya.
Menutup pidatonya, Afdhal menyampaikan rasa terima kasih dan bangganya kepada para orang tua dan guru yang dengan sabar dan penuh cinta mendampingi anak-anak. Ia berjanji akan mengunjungi sekolah-sekolah untuk melihat langsung dan memastikan program pemerintah berjalan optimal.
“Terus berkarya, terus bermimpi, dan tunjukkan kepada semua orang bahwa kita mampu. Gak ada pembatasan untuk kita hidup di dunia ini,”pesannya kepada para siswa.
Pentas Seni Inklusi Part 2 akhirnya ditutup, namun semangatnya tetap menyala.
Acara ini bukan hanya sekadar serangkaian penampilan, melainkan sebuah pernyataan kuat bahwa di Banda Aceh, setiap suara layak didengar dan setiap ekspresi berhak mendapat tempatnya.