
Komparatif.ID, Bireuen— Empat puluh tiga hari pascabanjir dan longsor yang melanda Kabupaten Bireuen pada 26 November 2025, warga Gampong Kandang, Kecamatan Samalanga, masih bergelut dengan lumpur tebal yang menimbun rumah dan pekarangan mereka.
Upaya pembersihan yang dilakukan secara mandiri hanya mampu membersihkan bagian dalam rumah serta jalur masuk dari pintu pagar dan akses ke dapur. Sementara itu, lumpur setinggi hingga satu meter yang menutupi pekarangan rumah belum dapat dibersihkan karena keterbatasan alat. Kondisi ini membuat aktivitas warga tetap terganggu dan rawan ketika hujan kembali turun.
Seorang warga, Tamtami, menyampaikan mereka sangat membutuhkan bantuan alat berat dan truk untuk mengangkut lumpur keluar dari kawasan permukiman.
Ia menjelaskan upaya manual menggunakan cangkul dan sekop sudah dilakukan, namun lumpur yang berat dan volumenya besar tidak sanggup dibuang jauh dari rumah.
“Kami membutuhkan bantuan alat berat dan truk untuk membersihkan lumpur, jika menggunakan cangkul dan sekop telah kami upayakan tapi tidak sanggup kami buang jauh,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).
Situasi warga semakin sulit karena banjir kembali melanda gampong tersebut pada Rabu malam, 7 Januari 2026, sejak sekitar pukul 19.00 WIB. Air merendam rumah-rumah warga sehingga mereka kembali harus mengungsi ke meunasah. Setelah air surut sekitar pukul 07.00 WIB, warga kembali membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
Baca juga: BRIN Sebut Relokasi Korban Banjir Aceh Tamiang Setara Memindahkan Kota
Keuchik Gampong Kandang, M Jafar, menjelaskan seluruh warganya terdampak banjir. Dari 247 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 570 jiwa, tidak ada satu pun yang luput dari dampak bencana tersebut.
Ia menyebutkan ketebalan lumpur berkisar 70 hingga 100 centimeter. Karena belum adanya bantuan dari luar, pihak gampong bersama seluruh unsur yang ada memutuskan mengucurkan dana kebijakan sebesar lima puluh juta rupiah. Dana tersebut digunakan untuk menyewa alat berat dan truk pengangkut lumpur, namun hanya mampu membersihkan satu lorong dan belum tuntas.
Pekerjaan terpaksa dihentikan setelah berjalan delapan hari karena biaya tidak mencukupi, padahal target awalnya tiga lorong. Jafar merinci biaya harian mencapai enam juta rupiah, terdiri dari empat juta untuk ekskavator dan dua juta untuk truk pembuangan.
“Pengeluaran satu hari empat juta biaya ekskavator, dan dua juta biaya truk pembuang timbunan, sehingga total penggunaan selama delapan hari mencapai Rp48.000.000,” lanjutnya.
Setiap malam, kata Jafar, warga selalu gelisah ketika hujan turun. Mereka bersiaga dari malam hingga pagi, dan begitu air meluap, barang-barang langsung diangkat ke meunasah. Ia berharap ada pihak yang dapat membantu dengan memfasilitasi alat berat dan truk pembuang agar persoalan lumpur dapat segera diatasi.











