Catatan Relawan ICMI: Aceh Tamiang Butuh Bantuan Internasional

relawan icmi bencana banjir aceh tamiang
Protes: Para pengungsi mempertanyakan kemana pemerintah. Protes melalui mural yang ditulis di tembok tepi jalan. Foto: Achyar Rasyidi.

Aceh Tamiang luluh lantak. Para relawan ICMI menangis dan berteriak. Aceh Tamiang butuh bantuan internasional, bukan Pemerintah Pusat.

Pagi dini hari pukul 01.00 terompet Kapal Poltek Malahayati berbunyi menandakan kapal akan berlayar menuju Aceh Tamiang. saya dan delapan orang Relawan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) baru saja selesai memuat barang bantuan sebanyak satu ton ke dalam kapal.

Kami dibantu oleh awak kapal. Mereka ikut mengangkat barang ke dalam kapal.Keringat para relawan dan awak kapal bercucuran, namun semangat untuk membantu korban banjir di Aceh Tamiang menghilangkan rasa lelah di pagi dini hari.

Kapal berlayar selama 2 hari mengangkut barang bantuan sebanyak 80 ton hasil donasi dari masyarakat yang disalurkan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan.

Baca: RSUD Aceh Tamiang Mulai Beroperasi Secara Terbatas

Pada Minggu Sore tanggal 7 Desember 2025 pukul 17.00 Wib kapal merapat di Pelabuhan Krueng Geukuh Aceh Utara. Beberapa ton bantuan diturunkan untuk disalurkan ke masyarakat Aceh Utara yang terdampak banjir, beberapa relawan turun di pelabuhan.

Ada sedikit insiden kecil ketika ada beberapa orang yang mengaku preman setempat meminta bagian dari barang bantuan, namun akhirnya terselesaikan dengan alasan bahwa barang bantuan ini akan disalurkan langsung ke tenda-tenda pengungsian.

Pada pukul 22.00 wib kapal kembali berlayar menuju Pelabuhan Kuala Idi Aceh Timur. Kapal kami tiba di Kuala Idi pada tanggal 8 Desember 2025 pukul 10.00 Wib. Kapal tidak bisa berlabuh karena air laut surut.

Kapal-kapal ikan milik nelayan merapat mengambil barang bantuan untuk dibawa ke darat. Para relawan ikut membantu menurunkan barang dari kapal ke Kapal-kapal Ikan milik nelayan, hampir 2 jam kegiatan bongkar muat ini selesai.

Pada pukul 12.00 Wib kapal kembali berlayar menuju Pelabuhan Kuala Idi Langsa. Tak terasa kami relawan ICMI merasa lapar karena sudah siang hari, perbekalan makanan kami sudah mulai menipis.

Siang itu kami memasak mie instan untuk makan siang menggunakan air panas. kondisi lapar mengingatkan kami akan kondisi para pengungsi di wilayah bencana.

Akhirnya, pukul 17.30 Wib,kapal bersandar di Pelabuhan Kuala Langsa. Pada saat bongkar muat ada beberapa preman pelabuhan yang meminta jatah uang untuk barang bantuan.

Terjadi perdebatan dengan kami tim relawan. Setelah kami sampaikan bahwa barang ini untuk pengungsi korban banjir, para preman ini kemudian mundur dan tidak jadi meminta uang.

Malam itu kami menginap gratis di rumah pengurus ICMI Aceh di Langsa. Tuan rumah menjamu kami dengan luar biasa ramah.

Besoknya, tanggal 9 Desember 2025 pukul 09.00 kami bergerak menuju posko banjir Relawan ICMI Aceh Tamiang ditemani oleh Pak Munawar, pemilik rumah tempat kami menginap.

Dengan kondisi hujan lebat cukup mengkhawatirkan akan datangnya banjir susulan. Namun kami para relawan tetap memutuskan untuk berangkat ke Posko Pengungsian ICMI di Desa Seunebok Punti, Kecamatan Manyak Payet.

Kedatangan kami di posko disambut oleh Pengurus ICMI Aceh Tamiang. Hujan deras terus menguyur Aceh Tamiang di pagi itu, tampak awan gelap di atas. Setelah menyerahkan bantuan kami berangkat menyusuri jalan yang dipenuhi lumpur.

Aceh Tamiang Hancur, Relawan ICMI Terhenyak

Sepanjang perjalanan kami melihat kondisi Aceh Tamiang yang rusak parah, banyak rumah-tumah yang rusak dan tertimbun endapan lumpur. Di beberapa lokasi kami mencium aroma bau busuk yang tidak kami ketahui dari mana asalnya. Aroma itu cukup menyengat hidung kami.

Di pingir-pinggir jalan tampak tenda-tenda biru pengungsian yang dibuat oleh masyarakat, tenda itu begitu sederhana dan tidak cukup untuk melindungi orang yang berada di dalamnya dari guyuran hujan.

Anak-anak kecil bersama orang-orang dewasa berdiri di sisi jalan menyodorkan kotak-kotak bantuan. Baju mereka terlihat kotor terkena lumpur yang masih terlihat di rumah-rumah warga yang rusak parah.

Ada beberapa relawan yang menyerahkan bantuan, diserbu oleh para pengungsi. Kami diam tercekam melihat tingkat kerusakan Aceh Tamiang yang begitu parah, hampir seperti kondisi Tsunami Aceh 2004.

banjir aceh tamiang pengungsi banjir relawan icmi
Seorang pengungsi berlari mengambil bantuan pangan yang diserahkan oleh relawan. Rakyat Tamiang membutuhkan dukungan dunia internasional, karena pemerintah lokal dan Pusat dianggap tidak mampu lagi menanggulangi kondisi. Foto: Achyar Rasyidi.

Beberapa mobil tergeletak di jalan-jalan seperti tak bertuan dengan kondisi rusak, mungkin ditinggalkan oleh pemiliknya karena banjir. Tumpukan kayu-kayu gelondongan tampak berserakan di kanan kiri jalan. Bisa jadi ini bencana ekologi akibat keserakahan manusia merusak hutan.

Kami menyaksikan hanya sedikit alat berat diturunkan untuk membersihkan lumpur dan tumpukan kayu dan sampah. Kami menghitung, banjir sudah 2 minggu, namun tidak terlihat tanda-tanda pemulihan, seakan Aceh Tamiang dan warganya dibiarkan sendiri menghadapi banjir.

Beberapa teman relawan terlihat menangis menyaksikan dasyatnya sisa-sisa bencana banjir yang melanda warga.

Kami terdiam, tak mampu berkata menyaksikan kondisi Aceh Tamiang yang rusak parah akibat terjangan banjir. Sambil berdoa kami memohon agar Tuhan membantu warga Aceh Tamiang dari derita banjir.
Benar kata Gubernur Aceh, Mualem jangan berharap pada manusia, tapi berharaplah pada bantuan Tuhan.

Kami terus menyisir jalan sampai ke perbatasan Medan, kondisi medan yang berat ditambah hujan yang terus mengguyur dan lumpur yang memenuhi jalan-jalan dan rumah-rumah, membuat mobil kami kesulitan bergerak ke pelosok, akhirnya karena hari mulai gelap kami kembali ke Langsa.

Beberapa relawan tampak marah dengan kondisi ini, mereka ada yang berteriak bertanya di mana kehadiran pemerintah. Kami coba menenangkan, hanya kesabaran yang bisa menjadi obat penenang di tengah gelapnya malam tanpa penerangan dan sinyal telepon di lokasi bencana banjir ini.

Aceh Tamiang butuh bantuan dunia, bukan lagi Pemerintah Pusat. Itu kata warga yang kami temui. Mungkin saja benar karena kekecewaan terhadap lambatnya penangganan paska banjir oleh Pemerintah. Apalagi melihat kondisi Aceh Tamiang saat ini, daerah ini benar-benar luluh lantak, dan…..

Akhirnya kita bergarap agar bencana ini bisa dilalui oleh warga Aceh Tamiang dengan bantuan Tuhan. Tuhan-lah tempat berharap dan meminta pertolongan.

Ditulis oleh Achyar Rasyidi, anggota Relawan ICMI Aceh, Aceh Tamiang, 10 Desember 2025.

Artikel SebelumnyaRSUD Aceh Tamiang Sudah Mulai Beroperasi Secara Terbatas
Artikel SelanjutnyaDi Tengah Bencana dan Kelangkaan Daun Nipah, Masih Ada Penjual yang Menjaga Kemanusiaan
Redaksi
Komparatif.ID adalah situs berita yang menyajikan konten berkualitas sebagai inspirasi bagi kaum milenial Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here