
Kaisar Nebukadnezar II merupakan raja yang sangat terkenal. Wilayah kerajaan yang ia pimpin mencakup Irak dan Kuwait sekarang. Tapi di ujung hidupnya, dia mengira dirinya seekor lembu. Nebukadnezar II lahir pada tahun 642 SM. Dia naik takhta pada Agustus 605 SM, menggantikan ayahnya, Nabopolassar, yang meninggal dunia.
Nebukadnezar berkuasa mulai Agustus 605 hingga 7 Oktober 652 SM. Ia meninggal dunia pada tahun di mana masa kepemimpinannya berakhir. Ia hidup selama 80 tahun. Ia berkuasa selama 43 tahun.
Menurut hasil penelitian yang dimuat dalam The American Antiquarian and Oriental Journal. New York: Doubleday, vol. XXII, Nebukadnezar dalam bahasa Akkadia –bahasa utama dan bahasa negara Babilonia masa itu—yaitu Nabû-kudurri-uṣur, bermakna “(Dewa) Nabu, memelihara/membela putra sulungku”. “Nabu” adalah dewa Babel untuk kebijaksanaan, dan putra dari dewa utama Marduk. Ia juga dikenal sebagai Bakhat Nasar, yang artinya “pemenang nasib”.
Dalam Tawarikh Nebukadnezar (Nebuchadnezzar Chronicle) atau Tawarikh Yerusalem (Jerusalem Chronicle) nama umumnya First years of Nebuchadnezzar Chronicle, disebutkan ketika ayahnya meninggal dunia pada 15 Agustus 605 SM – Nabopolassar meninggal dalam masa 21 tahun berkuasa—sang putra mahkota Nebukadnezar sedang memimpin pasukan Babel berperang melawan tentara koalisi yang dipimpin firaun Mesir kuno, Nekho II, di dekat kota Karkemis.
Pertempuran itu dimenangkan oleh Nebukadnezar II. Pasukan Nekho II dihancurkan sehancur-hancurnya. Kemenangan tersebut merupakan jalan mempermudah dia menaklukkan dan menguasai Syiria dan Kanaan, tanpa perlawanan dari Mesir. Penaklukkan Syiria dan Kanaan dilakukan setelah dia dinobatkan menjdi raja.
Setelah mendapatkan kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia, Nebukadnezar kembali ke ibukota negara. dia dinobatkan sebagai raja pada 7 September 605 SM.
Baca juga: Sembari Mengudap Bada, Seniman MaSA Bicara Masa Depan Bahasa Aceh
Babilonia berperang setiap tahun. Nebukadnezar II sangat antusias memperluas wilayah kekuasaan. Setiap berhasil mengalahkan sebuah bangsa dan negara, dia menjarah. Hasil jarahan dibawa pulang ke Babilonia. Harta jarahan itu digunakan untuk mendanai pembangunan kota-kota besar di Babilonia.
Di masa itu, ibukota Babilonia merupakan kota termewah. Babilon menjadi kota metro polytan dengan segenap kemewahan dan kegemerlapan di masa itu. Wilayah kota seluas tiga mil persegi dikelilingi rawa, dilindungi dua lapis tembok tebal, dan sungai Eufrat mengalir indah di tengah kota. Sebuah jembatan batu dibangun, untuk menghubungkan dua sisi kota. Di tengah kota ada ziggurat raksasa yang disebut Etemenanki, “Rumah perbatasan langit dan bumi,” di sebelah kuil dewa Marduk.
Daerah-daerah taklukkan seperti Siria, Fenisia, Damaskus, Tirus, dan Sidon harus menyerahkan upeti. Kewajiban membayar upeti juga diterapkan kepada wilayah-wilayah yang ditaklukkan pada tahun 572 SM. Pada tahun 572 SM Nebukadnezar menguasai penuh Babilonia, Asyur, Fenisia, Israel, Filistin, Arabia utara dan sebagian Asia Kecil. Nebukadnezar terus berperang dengan Firaun Psamtik II dan Hofra (Hofra) selama pemerintahannya, dan pada zaman Firaun Amasis II tahun 568 SM, ia diduga pernah menginjakkan kaki di tanah Mesir.
Nebukadnezar bukan hanya ahli perang. Raja Nebukadnezar II juga ahli politik dan perdagangan. Wilayah laut dia kuasai sehingga perdagangan di perairan dari Teluk Parsi ke Laut Mediterranean dia kuasai.
Selain itu dia juga sebagai seorang arsitek. Semasa dia memimpin Babilonia Baru, banyak bangunan penting dia bangun. Salah satunya yang paling monumental yaitu Taman Tergantung Babylon sebagai hadiah kepada ratunya bernama Amytis.
Boleh dikatakan, Raja Nebuchadnezzar II adalah antara raja yang agung dalam sejarah Mesopotamia, terutamanya dalam Kerajaan Babilonia Baru (Neo Babylonia).
Akan tetapi, dia mengalami persoalan serius soal mental. Hal tersebut bermula dari mimpi yang sangat mengganggunya. Dalam Kitab Bible, bab Daniel 4:25, disebutkan Raja Nebukadnezar II mempunyai mimpi yang mengganggunya. Baginda kemudian terangkan mimpi tersebut kepada penafsir mimpi.
Alih-alih memberikan saran jitu, si penafsir mimpi justru memberikan nasihat supaya Raja Nebukadnezar II menjauhkan diri dari kehidupan ramai. Ia harus pindah ke wilayah yang sepi dan hidup bersama hewan buas. Dia harus memakan rumput hijau yang dibasahi embun surga, seperti lembu jantan.
Dia harus melakukannya selama tujuh kali, supaya mencapai pengakuan Yang Maha Tinggi adalah pemilik seluruh kerajaan Bumi.
12 bulan kemudian, Raja Nebukadnezar II meninggalkan takhta menuju tempat yang disarankan oleh penafsir mimpi. Ia pun hidup seperti lembu. Ia mulai memakan rumput yang dibasahi embun, rambutnya tidak dipangkas, dan kukunya dibiarkan panjang seperti kuku elang.
Dia berkelakuan seperti lembu selama tujuh tahun lamanya. Ia kerap mendongak ke langit, dan berpikir bahwa dirinya dalam keadaan yang seharusnya. Pada tahun 562 SM, akhirnya Raja Nebukadnezar II mangkat. Ia digantikan dan puteranya bernama Amel-Marduk dilantik sebagai raja baru. Raja Nebukadnezar II dikenang oleh rakyat sebagai satu-satunya raja Babilonia yang memerintah dalam tempoh paling lama, yaitu 43 tahun.
Apa yang menimpa sang raja sehingga bersedia menjadi lembu? Ternyata tanpa diketahui orang, dia mengidap gangguan mental yang sekarang disebut Boanthropy, yaitu gangguan mental yang korbannya mengira dirinya sebagai seekor lembu.
Dia bukan satu-satunya raja yang mengidap gangguan jiwa sehingga percaya bahwa dirinya seekor hewan. Raja Caligula dari Kekaisaran Rom, juga aneh. Dia menjadikan kuda kesayangannya sebagai konsultan.
Maharaja Jiajing dari Dinasti Ming yang terkagum-kagum dengan kehidupan abadi, rela mengumpulkan darah haid gadis.
Nah, para raja dari berbagai kekaisaran pernah juga mengalami gangguan mental. Tapi bilamana mana mereka masuk kategori ODGJ, seringkali tersamar karena kekuasaanya.
Sumber: Dari berbagai artikel ilmiah.