
Komparatif.ID, Banda Aceh– Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengungkapkan konflik gajah-manusia di Aceh meningkat pasca damai. Benteng alami tidak berani dijamah saat konflik kini mulai dieksploitasi berlebihan.
Hal itu disampaikan perwakilan BKSDA, Munawar, pada diskusi publik bertema “Menjaga Gajah Sumatera dalam Krisis Habitat dan Harapan Konservasi” yang digelar Program Studi Biologi UIN Ar-Raniry bekerjasama dengan Mongabay Indonesia di Aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, pada Rabu (27/8/2025)
“Sebelum damai, hutan Aceh seakan menjadi benteng alami. Konflik bersenjata membuat banyak orang takut untuk masuk jauh ke dalam hutan. Akibatnya, gajah dan satwa liar lainnya bisa hidup lebih tenang,” ungkap Munawar.
Namun, Munawar menjelaskan usai damai situasi habitat gajah mulai dieksploitasi. Pembukaan kebun baru hingga pembangunan jalan membuat aktivitas manusia kian merambah jauh ke dalam hutan.
“Namun, setelah damai, situasinya berbalik 180 derajat. Pembangunan jalan, pembukaan kebun baru, dan aktivitas manusia lainnya merambah jauh ke dalam hutan. Hutan yang tadinya rumah aman bagi gajah, kini menjadi arena perebutan lahan. Di sinilah konflik meledak,” lanjutnya
Munawar mengatakan berdasarkan data BKSDA, dari 23 kabupaten dan kota di Aceh, 18 di antaranya kini menjadi lokasi konflik gajah-manusia. Artinya, hampir 80 persen wilayah Aceh menghadapi masalah ini.
Tiga daerah tercatat sebagai titik paling panas, yaitu Kabupaten Pidie, Aceh Jaya, dan Aceh Timur. Di sanalah banyak kebun dan lahan pertanian warga yang berbatasan langsung dengan jalur jelajah tradisional gajah.
Baca juga: Gajah Ditemukan Mati di Aceh Timur, Diduga Karena Racun Rumput
Munawar menjelaskan gajah sebenarnya tidak berniat menyerang atau merusak. Mereka adalah hewan cerdas yang memiliki ingatan kuat dan hanya mengikuti jalur yang sudah dilalui nenek moyang mereka selama ratusan tahun untuk mencari makan. Masalahnya, jalur kuno itu kini telah berubah menjadi kebun sawit, pinang, atau ladang jagung.
“Bagi gajah, ini seperti menemukan ‘restoran’ di tengah jalan. Mereka tidak tahu kalau tanaman itu milik manusia. Mereka hanya mengikuti naluri untuk bertahan hidup. Ketika jalur mereka dipenuhi makanan yang mereka sukai, pertemuan dengan manusia tidak bisa dihindari,” jelasnya.
Untuk mengatasi masalah yang kompleks ini, BKSDA tidak hanya melakukan pengusiran sementara. BKSDA tengah merancang sebuah rencana besar jangka panjang, yaitu membangun 10 koridor khusus untuk gajah.
Koridor ini bisa dibayangkan sebagai ‘jalan tol’ bagi gajah, yang akan menghubungkan satu kawasan hutan dengan hutan lainnya yang kini sudah terpisah-pisah akibat pembangunan. Tujuannya adalah agar gajah memiliki jalan yang aman untuk bergerak tanpa harus masuk ke pemukiman atau kebun warga.
Untuk memastikan gajah tetap berada di dalam koridor, akan dipasang teknologi seperti kalung GPS pada beberapa gajah perwakilan kawanan. Data dari GPS ini akan memberikan peringatan dini kepada warga jika ada gajah yang bergerak mendekati desa.
“Koridor ini akan dilindungi oleh tiga lapis ‘pagar’ yang unik. Lapisan pertama adalah parit yang dalam dan lebar. Lapisan kedua adalah pagar listrik tegangan rendah yang hanya memberi efek kejut ringan agar gajah tidak melintas. Lapisan ketiga, yang paling menarik, adalah tanaman yang tidak disukai gajah tapi hasilnya bisa dijual oleh warga, seperti serai wangi, cabai, atau kopi,” lanjutnya
Di bagian dalam koridor, BKSDA akan menanam banyak jenis tumbuhan yang menjadi makanan kesukaan gajah. Harapannya, gajah akan merasa ‘betah’ di rumahnya sendiri dan tidak lagi termotivasi untuk keluar mencari makan di lahan manusia.