Home Opini Ketika “Baik Hati” Menjadi Bumerang Psikologis

Ketika “Baik Hati” Menjadi Bumerang Psikologis

Ketika “Baik Hati” Menjadi Bumerang Psikologis
Nanda Husna. Mahasiswa psikologi UIN Ar-Raniry. Foto: Dok. Pribadi.

Masih belum terhapus dalam memori kita tentang kasus viral yang menyeret memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Kasus itu bukan sekadar cerita personal, melainkan seperti membuka lapisan realitas yang selama ini sering kita abaikan, yakni tentang relasi yang tampak “normal” di luar, tetapi menyimpan luka di dalam, juga tentang bagaimana seseorang bisa tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan, bahkan ketika dirinya perlahan terkikis.

Pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi mengapa itu bisa terjadi begitu lama. Mengapa seseorang tetap memilih bertahan, mengalah, dan menahan diri?

Di sinilah kita mulai bersentuhan dengan satu fenomena yang terasa dekat: keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain. Yang dalam bahasa populer dikenal “people pleasing” atau “baik hati”.

Disadari atau tidak, di tengah budaya yang menjunjung tinggi keramahan dan kepedulian, menjadi pribadi yang “baik hati” sering dianggap sebagai kualitas ideal. Kita diajarkan untuk membantu, mengalah, dan menjaga perasaan orang lain.

Namun, di balik citra mulia itu, tersembunyi satu kecenderungan yang kerap luput disadari, yaitu keinginan berlebihan untuk selalu menyenangkan orang lain, atau yang dikenal sebagai people-pleasing. Alih-alih menjadi kekuatan, sikap ini justru bisa berbalik menjadi bumerang psikologis.

Dalam perspektif psikologi, kecenderungan ini berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung dengan orang lain.

Edward Deci dalam Self-Determination Theory menjelaskan manusia memiliki tiga kebutuhan utama: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.

Ketika kebutuhan akan keterhubungan menjadi terlalu dominan, individu cenderung mengorbankan otonomi dirinya demi diterima oleh orang lain. Di titik ini, kebaikan mulai kehilangan arah. Tidak hanya hubungan sosial tetap terjaga, tetapi diri sendiri perlahan diabaikan.

Pada tahap tertentu, people-pleasing bukan lagi soal empati, tetapi tentang rasa takut: takut ditolak, takut mengecewakan, takut kehilangan tempat dalam relasi.

Baca juga: Minyak dan Percaturan Perang Global

Seseorang mulai terbiasa berkata “iya” meskipun hatinya menolak. Ia menghindari konflik bukan karena bijak, tetapi karena cemas.

Kondisi ini menciptakan konflik batin yang dalam. Dalam teori Cognitive Dissonance, Leon Festinger, menjelaskan manusia akan mengalami ketegangan psikologis ketika ada ketidaksesuaian antara keyakinan dan tindakan.

Individu mungkin merasa lelah atau tidak setuju, tetapi tetap memaksakan diri untuk terlihat “baik-baik saja”. Konflik ini tidak selalu tampak, tetapi terus menggerus dari dalam. Jika berlangsung lama, kondisi ini berujung pada kelelahan emosional (burnout).

Burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, sinisme, dan menurunnya rasa berdaya. Ini bukan sekadar lelah biasa, melainkan kelelahan karena terlalu lama menekan diri sendiri demi memenuhi ekspektasi orang lain.

Menariknya, pola ini sering kali berakar dari pengalaman awal kehidupan. Melanie Klein menjelaskan individu sejak kecil melakukan introjeksi, yakni menyerap nilai dan ekspektasi dari lingkungan ke dalam dirinya.

Sementara itu, Sigmund Freud menggambarkan adanya superego sebagai bagian dari diri yang mengatur standar moral. Namun dalam banyak kasus, superego tidak hanya membimbing, tetapi juga menekan dan membuat seseorang merasa bersalah hanya karena ingin memilih dirinya sendiri.

Akibatnya, individu perlahan kehilangan arah hidupnya. Psikolog terapi klinis, Carl Rogers, menyebut kondisi ini sebagai hidup di bawah conditions of worth, yaitu ketika seseorang hanya merasa berharga jika memenuhi standar atau harapan orang lain. Ia tidak lagi hidup berdasarkan nilai yang diyakininya, tetapi berdasarkan apa yang membuatnya diterima.

Dalam konteks ini, tidak mengherankan jika seseorang bisa bertahan dalam relasi yang tidak sehat, seperti yang tergambar dalam kisah Aurelie Moeremans.

Bukan karena ia tidak sadar, tetapi karena ia terlalu terbiasa mengalah. Ia berharap bahwa dengan terus menjadi “baik”, keadaan akan berubah. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya: ia semakin kehilangan dirinya sendiri.

Di sinilah kiranya kita perlu berhenti sejenak dan mendefinisikan ulang makna kebaikan. Apakah kebaikan selalu berarti mengorbankan diri? Atau justru kebaikan sejati adalah ketika kita mampu menjaga diri tanpa kehilangan empati?

Belajar Mengatakan Tidak

Belajar mengatakan “tidak” memang tidak mudah, terutama bagi mereka yang sejak lama terbiasa berkata “iya”. Ada rasa bersalah yang muncul, seolah-olah menolak berarti menyakiti, mengecewakan, atau bahkan kehilangan hubungan.

Namun justru di titik yang terasa tidak nyaman itulah proses pemulihan dimulai. Mengatakan “tidak” bukanlah tindakan penolakan terhadap orang lain, melainkan bentuk penerimaan terhadap diri sendiri bahwa kebutuhan, batas, dan perasaan kita juga layak dihargai.

Dalam psikologi, proses ini dikenal sebagai bagian dari assertiveness, sebuah keterampilan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur tanpa merendahkan orang lain maupun mengorbankan diri sendiri.

Melalui pendekatan assertiveness training, individu dilatih untuk mengenali hak personalnya: hak untuk tidak selalu setuju, hak untuk beristirahat, hak untuk memilih, bahkan hak untuk berubah pikiran. Ini bukan tentang menjadi keras atau egois, tetapi tentang menemukan posisi yang seimbang.

Pada akhirnya, perjalanan keluar dari people-pleasing bukanlah tentang berubah secara drastis, melainkan tentang kembali mendengar diri sendiri, kembali mengenali apa yang penting, dan kembali membangun hubungan yang lebih jujur, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.

Karena mungkin, yang paling penting bukanlah menjadi orang yang selalu baik di mata semua orang, tetapi menjadi pribadi yang utuh di dalam dirinya sendiri.

Previous articleGeser Prajogo Pangestu, Bos Vinfast Jadi Orang Terkaya di Asia Tenggara
Next articleSehari Usai Kunjungan Mendagri, Sumur Bor di Aceh Tamiang Langsung Dikerjakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here