
Komparatif.ID, Kutacane— Kampus tidak boleh dipahami semata sebagai tempat mencetak ijazah saja. Pendidikan harus melahirkan tanggung jawab sosial, integritas intelektual, dan keberanian lulusan untuk menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Hal itu diungkapkan Ketua Program Studi S3 Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Syamsul Rijal, BA., M. Ag., saat orasi ilmiah Wisuda Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Usman Safri Kutacane tahun akademik 2025/2026 yang digelar di Aceh Tenggara, Sabtu (17/1/2026).
“Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis, bukan sekadar tempat mengumpulkan ijazah,” katanya.
Syamsul Rijal, yang merupakan putra asli Aceh Tenggara, menegaskan esensi pendidikan tidak berhenti pada capaian akademik formal.
Menurutnya, pendidikan adalah proses panjang pembentukan karakter, cara berpikir kritis, serta integritas moral dan intelektual. Ia menyebut lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya.
“Pendidikan harus membekali manusia dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Dari situlah lahir prestasi pribadi sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Syamsul Rijal.
Ia menjelaskan bahwa gelar akademik baru akan bermakna apabila disertai dengan kesadaran etis dan tanggung jawab sosial. Lulusan diharapkan mampu membaca persoalan di lingkungannya dan berperan aktif dalam mencari solusi, bukan menjauh dari realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Syamsul Rijal juga menekankan pentingnya membangun budaya akademik yang sehat di lingkungan kampus. Ia mengatakan perlunya tradisi membaca, riset berbasis data, serta sikap rendah hati secara intelektual sebagai fondasi utama kehidupan akademik.
Baca juga: Prof. Syamsul Rijal Ungkap Penyebab Rendahnya Realisasi Zakat di Aceh
Ia mengingatkan sikap merasa paling tahu tanpa kompetensi dan riset yang memadai berpotensi merusak iklim akademik.
Lebih lanjut, Syamsul Rijal mendorong integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai etika dan spiritual. Integrasi tersebut dinilai penting sebagai fondasi dalam membangun peradaban yang berkeadaban, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Menurut dia, pendidikan memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang adaptif terhadap perubahan global, namun tetap berakar kuat pada nilai moral, budaya, dan kearifan lokal. Tanpa fondasi etika dan spiritual, kemajuan ilmu pengetahuan berisiko kehilangan arah.
Wisuda STKIP Usman Safri Kutacane tahun akademik 2025/2026 ini meluluskan 87 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 lulusan berasal dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, sementara 18 lainnya dari Program Studi Bahasa Inggris.











